Travel
Ukiran Alam Arizona

29 Nov 2013


Arizona terkenal di kalangan mancanegara berkat Grand Canyon, ngarai yang tercatat sebagai satu dari Seven Natural Wonders of the World, sampai-sampai menyebut dirinya Arizona, the Grand Canyon State. Tapi tak hanya itu, masih ada Antelope Canyon yang tak kalah memukau, bebatuan merah yang magis di Sedona, dan bendungan megah di tengah daratan kering yang mengundang decak kagum.



Lekukan Batu Berpasir di Antelope Canyon

Antelope Canyon adalah ngarai yang terbentuk dari batu berpasir selama ribuan tahun. Antelope Canyon merupakan bentukan geologis Navajo Sandstone yang terbentang dari Selatan Nevada, Utara Arizona, Barat Laut Colorado sampai ke Utah. Keduanyan bagaikan dua gadis cantik yang bersaudara, masing-masing menawarkan keelokan. Kedua ngarai ini juga ‘surga’ bagi para fotografer, amatir maupun professional. Bahkan dengan teknik seadanya, semua hasil foto dijamin tetap indah.

Upper Antelope Canyon merupakan tujuan awal kami karena konon kabarnya area ini lebih cocok dikunjungi di siang hari ketimbang pagi atau sore hari. Cahaya matahari yang menyorot langsung dari atas akan memantulkan warna yang indah. Menurut informasi yang saya baca, waktu yang tepat untuk mengunjungi Upper Antelope Canyon adalah sekitar pertengahan Maret sampai awal Oktober setiap tahun.
Suku Navajo, suku Indian yang bermukim di Arizona, menyebut tempat ini Tsé bighánílíní yang artinya "tempat di mana air mengalir melalui batu". Setelah membayar tiket masuk 6 USD ( Rp 72.000) dan tiket tour 25 USD (Rp 300.000)  per orang kami naik mobil terbuka. Pengunjung tidak diijinkan mengendarai mobil pribadi ke ngarai karena jalan menuju ngarai bukan jalan umum melainkan padang pasir yang hanya bisa dilewati oleh mobil khusus.

Saat itu rombongan yang berada di satu mobil dengan kami terdiri dari saya dan tiga orang teman, sepasang muda-mudi asal Cina, sepasang suami istri asal Filipina beserta kedua anaknya, dan pasangan India dengan anaknya. Pemandu kami, yang berasal dari suku Najavo, mengingatkan agar anak kecil dijaga dengan baik, mengingat di sepanjang perjalanan mobil akan terguncang keras.

    Cuaca saat itu sangat cerah walaupun disertai angin. Beberapa kali kami harus melindungi hidung dan mulut dari terpaan pasir yang menerpa dengan ganasnya. Bahkan kami sempat harus berdiam sejenak di balik dinding ngarai yang kokoh namun berpasir itu.  Untunglah perjalanan di tengah deru debu itu hanya beberapa menit, dan kami tiba di mulut Upper Antelope Canyon

    Seperti dikomando, pengunjung segera menyalakan kamera. Sambil mendengar penjelasn pemandu wisata, saya dan pengunjung lain tak henti mengambil gambat. Tiap sudut pengambilan gambar yang berbeda, menghasilkan warna dan ketajaman berbeda.  Bikin susah berhenti. Keseluruhan tour selama 60 menit tak terasa berlalu.

    Lower Antelope Canyon disebut Hasdeztwaz yang berarti “lengkungan batu spiral”. Berbeda dengan Upper Antelope Canyon, di sini pengunjung tidak diharuskan dua kali membayar tiket, juga lebih sedikit dikunjungi turis. Biaya yang dikeluarkan hanya untuk tour saja, yaitu sebesar 26 USD ( sekitar Rp 312. 000) per orang.

    Pemandu kami, David, juga keturunan suku Navajo. Kelompok kami terdiri dari saya dan 3 orang teman, pasangan suami istri Jerman, sepasang suami istri Amerika dan temannya yang berkebangsaan Jepang. Berbeda dengan tour di Upper Antelope Canyon, di sini tidak ada anak kecil yang turut serta. Sepertinya para calon pengunjung sudah tahu bahwa medan Lower Antelope Canyon jauh lebih sulit.

Sesuai namanya, ngarai ini berupa koridor sempit yang berlekuk-lekuk bagaikan spiral. Pintu masuknya berupa celah sempit di bawah tanah. Beberapa tikungan menuntut perhatian khusus karena berupa tanjakan dan turunan yang cukup curam. Pantas saja tidak ada anak kecil yang ikut tour ke sini. 

Di setiap area yang sulit pemandu kami cukup sabar menunggu sampai seluruh anggota rombongan lengkap sebelum melanjutkan perjalanan. Hal ini mutlak karena ia bertanggung jawab atas keselamatan seluruh peserta. Bukan hanya untuk mengantisipasi kemungkinan cedera, juga bila tiba-tiba ada ancaman banjir. Kewaspadaan ditingkatkan setelah bencana banjir saat badai El Niño tahun 1997, yang menewaskan 11 orang pengunjung. Kala itu hujan yang turun di area Lower Antelope Canyon sangat sedikit, tetapi terpaan badai membuat pengunjung terjebak di bawah tanah. Satu-satunya yang selamat adalah Francisco "Poncho" Quintana, sang pemandu wisata.

Saat ini berbagai tindakan pencegahan bencana telah diterapkan di area ngarai seperti info cuaca yang up to date dari National Weather Service, pemasangan jaring penyelamat di atas ngarai sampai alarm tanda bahaya yang akan berbunyi nyaring apabila ada tanda-tanda alam tak bersahabat.

David antusias menjelaskan sejarah terbentuknya ngarai yang berusia ribuan tahun ini, dari berupa pasir sampai terpahat menjadi celah yang bisa dilalui manusia. Ia sempat bercerita bahwa beberapa puluh tahun sebelum tangga besi terpasang kokoh, pengunjung harus naik dan turun menggunakan tangga seadanya. Risiko semakin tinggi apabila hujan deras dan banjir melanda ngarai. Tangga yang tidak terlalu kuat akan semakin rapuh. Seram.

Pengembaraan di dalam ngarai memakan waktu kurang lebih 50 menit. Waktu yang cukup untuk pengunjung biasa seperti kami, tetapi tentu beberapa orang merasa waktu yang disediakan kurang memadai. Pengunjung yang ingin menghabiskan waktu lebih lama di bisa mendapatkan akses khusus, tentunya dengan harga berbeda. Akhir perjalanan bukan merupakan akhir perjuangan. Karena pengunjung masih harus mendaki tangga yang cukup curam untuk kembali ke atas tanah. Namun mengingat keindahan yang telah dinikmati sebelumnya, kelelahan dan kegamangan mendaki terbayar lunas.




Gudang Air di Tengah Daratan Kering

Di tengah daratan Arizona yang panas dan kering, air menjadi penting. Di sini air dikumpulkan dalam  Glen Canyon Dam yang membentuk Lake Powell. Danau ini merupakan salah satu bendungan tertinggi di dunia yang membelah Utah dan Arizona. Di balik birunya Lake Powell tersimpan fungsi yang istimewa, yaitu sebagai penyedia tenaga listrik bagi Colorado, Utah, Wyoming dan New Mexico, juga tempat wisata. Ada saja yang memancing, berenang, atau berolahraga kayak di danau ini.

    Lake Powell dapat dinikmati dari beberapa sudut. Saat itu kami menikmatinya dari Wahweap Bay yang terletak di sisi Selatan. Dengan mengeluarkan uang sebesar 45 USD (Rp 540.000) per orang, pengunjung bisa menikmati boat tour selama kurang lebih 60 menit. Boat ini dilengkapi dengan audio tour. Kami dipersilahkan mengambil headset dan semacam alat penerima radio sehingga kami mendengar penjelasan sepanjang perjalanan. Efektif dan efisien. Kru kapal tidak perlu berteriak-teriak sepanjang tour dan kami dapat mendengarkan informasi secara jelas. 

Walaupun merupakan yang tertinggi, Lake Powell masih kalah besar dibandingkan Lake Mead yang tersohor disebut Hoover Dam. Kalau Lake Powell dimaksudkan untuk menyediakan daya bagi empat negara bagian, Lake Mead ditujukan menyokong enam negara bagian. Hoover Dam, bendungan yang membentuk Lake Mead ini dibangun tahun 1931 – 1936. Nama Hoover diambil dari Herbert Hoover, Presiden Amerika Serikat ke-31. Walaupun secara geografis Hoover Dam terletak di Nevada, tepatnya di kota Boulder, tetapi bendungan ini terletak persis di perbatasan antara Arizona dan Nevada.

    Hoover Dam berfungsi sebagai penyimpanan cadangan air terutama untuk irigasi pertanian di Southern California. Tak hanya itu, bendungan ini menyediakan daya listrik dan air bagi kota metropolitan di sekitarnya seperti Los Angeles. Namun Hoover Dam punya arti lain bagi Amerika, yaitu sebagai simbol kemegahan yang menjadi pengingat bahwa di tahun 1930 Amerika berhasil memanfaatkan alam dengan menerapkan teknologi mutakhir.

    Visitor Center Hoover Dam menawarkan Powerplant Tour. Dengan membayar 11 USD (Rp 132.000), selama 30 menit pengunjung  akan mendapat penjelasan mendalam tentang sejarah Hoover Dam, yang pembangunannya melibatkan 6 negara bagian dan 6 perusahaan besar, manfaatnya di masa kini, bahkan sampai ke generator, tangga, terowongan dan pipa yang digunakan di awal pembangunan Hoover Dam.
Tak jauh dari Lake Powell Horseshoe Bend, sekitar 8 km, terdapat objek wisata gratis, Horseshoe Bend, yaitu meander atau bentukan sungai berkelok-kelok yang berasal dari Sungai Colorado, yang berbentuk tapal kuda. Kelokan itu adalah ‘pahatan’ air yang menggerus tebing dan batu selama jutaan tahun. Kombinasi antara jernihnya air Lake Powell dengan bentuk meander yang unik dan bebatuan merah di sekitarnya menjadikan harmoni warna yang senada.



Ngarai Terkenal Itu
Pada akhirnya tidak lengkap kalau tidak ke Grand Canyon yang megah. Grand Canyon dapat dinikmati dari beberapa sisi, yaitu Utara, Barat dan Selatan. Kami memilih mengunjungi dari sisi Selatan karena pertimbangan kepraktisan. South Rim Grand Canyon dikelola oleh pemerintah Amerika Serikat sehingga fasilitas seperti toilet, mesin penjual makanan, air minum, pusat informasi dan lain-lain cukup baik. Ada beberapa cara untuk menikmati obyek wisata ini yaitu dengan berjalan kaki, naik sepeda, atau dengan menggunakan shuttle.

    Setelah membayar tiket masuk sebesar 25 USD (Rp 300.000) per mobil yang berlaku selama tujuh hari, kami langsung masuk area parkir dan mengunjungi pusat informasi. Di sini tersedia peta yang berisi informasi hiking trail yang ditawarkan, sepeda yang dapat disewa, bahkan rute shuttle gratis. Penjaga Visitor Center itu juga memberi saran titik mana saja yang paling banyak diminati wisatawan. Berdasarkan informasi yang diberikan, kami pun bersemangat menuju Hermit Rest Route dan singgah di Trailview Overlook, Hopi Point, Mohave Point dan Pima Point. Saran yang diberikan sungguh tepat karena pemandangan yang tersaji tak henti-hentinya membuat kami terpesona.

Setelah puas menikmati Grand Canyon, kami menuju Sedona, kota kecil di antara Coconino dan Yavapai di Utara Arizona yang berjarak dua jam perjalanan dengan mobil. Daya tarik Sedona terletak pada deretan bebatuan merah yang memantulkan cahaya magis terutama di saat di saat matahari terbenam. Semburat warna oranye yang dipantulkan saat matahari terbit dan terbenam mampu memukau turis sehingga banyak penyelenggara jasa tur untuk menyediakan paket ke Grand Canyon sekaligus ke Sedona.


Tip :

• Pada musim tertentu, hujan deras dapat membuat ngarai-ngarai kebanjiran, selalu gunakan pemandu.
• Kenakan pakaian dan sepatu yang nyaman.
• Siapkan bekal minum.
• Oleskan tabir surya.
• Bawa tripod untuk hasil foto memuaskan.
• Sediakan uang tunai untuk biaya tour dan tip pemandu.(f)




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?