<< cerita sebelumnya
”Ivi. Makan saja...,” bisik Theo kecil. Oma Rima sedang asyik berbicara dengan Pak Andi sehingga tidak mendengar bisikan Theo. ”Tidak akan ada hal buruk yang terjadi.”
Ivonne terkesiap. Benarkah apa yang dia dengar barusan? Theo menenangkannya. Kalau begitu... Theo sudah tahu akan ’ritual tiga’-nya!
Ivonne memandang Theo takut-takut, tapi Theo tersenyum ramah. Sama sekali tidak tampak terganggu dengan ’ritual tiga’ Ivonne.
”Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk, kalau kamu makan itu.” Theo menunjuk brokoli yang sudah terpotong menjadi tiga bagian dengan ujung garpunya. ”Percayalah,” ujarnya, tegas.
Ivonne seperti tersihir oleh nada suaranya. Tegas, tanpa dapat ditawar lagi, menunjukkan kewibawaan penuh seorang pemimpin. Ivonne tidak kuasa membantah. Dia mengangkat sendoknya dan mulai makan. Makanan meluncur turun ke perutnya. Ivonne memejamkan matanya. Menunggu kejadian buruk apa yang akan terjadi karena dia sudah makan menggunakan perangkat makan orang lain, makan makanan orang lain, dan makan bersama orang lain. Matanya terus terpejam. Satu detik, dua detik, tiga detik....
”See...,” bisik Theo, sambil tersenyum penuh pengertian. Tangannya menggenggam tangan Ivonne. ”Tidak terjadi sesuatu yang buruk, ’kan?”
Ivonne mengangguk, memaksa seulas senyum kecil di wajahnya.
”Habiskan makanannya, ya....” Theo tidak memaksa. Theo meminta.
*****
Ting tong
”Morning, Ivi,” sapa Theo, sambil tersenyum ramah. Ivonne berdiri di depan pintu. Sudah siap dengan setelan formalnya, hari ini berwarna cokelat tua, dan rambut yang digelung tinggi. Sebuah tusuk konde berbentuk konvensional tampak menyembul dari belakang gelung rambutnya.
“Selamat pagi, Mr Theofilus Lundenberg,” Ivonne membalas sambil tersenyum tipis.
“I know, I’m sorry. Saya terlambat bangun, tapi saya akan segera selesai.” Theo membuka pintu lebar-lebar. “Silakan kamu masuk dulu.”
Hari ini mereka, Theo, Ivonne, dan satu lagi anak marketing yang bernama Alexander Natanegara, berencana untuk mempresentasikan produk baru dari Chemical International Cooporation kepada beberapa klien. Theo juga punya proyek pribadi. Dia ingin mengubah kebiasaan-kebiasaan Ivonne. Dia ingat kata-kata Pak Darmawan yang ingin Ivonne menjadi gadis ceria seperti dulu lagi.
“Nothing bad happened yesterday?” tanya Theo.
Wajah Ivonne memerah. Sambil menunduk dia menggeleng.
Theo tersenyum, “Berarti nanti siang dan juga nanti malam kamu harus menemani saya makan,” ujarnya.
Ivonne terperangah, ragu-ragu dia mengangguk.
”Mr. Theofilus Lundenberg, saya harus memberikan sebuah dokumen kepada Pak Darmawan Sejati, setelah itu saya akan siap berangkat,” ujar Ivonne, begitu mobil berhenti di pintu masuk kantor.
Theo mengangguk, menyusul langkah Ivonne masuk ke dalam lift. Tidak seperti biasanya, lift kali ini sepi. Hanya Ivonne dan Theo.
”Kenapa kamu selalu menggelung rambutmu seperti itu?” tanya Theo, sambil memperhatikan rambut Ivonne.
Ivonne tidak menjawab. Dia suka keteraturan, hmm... dalam batas yang agak tidak wajar. Baginya, gelung rambut yang rapi mencirikan sebuah keteraturan.
”Pasti kamu akan terlihat lebih cantik, kalau rambutmu tergerai.”
Theo menarik tusuk konde model konvensional yang menyatukan helai-helai rambut Ivonne. Rambut Ivonne tergerai lemas di pundaknya. Rambut Ivonne indah. Penampilan Ivonne pun tampak lebih segar dengan rambut tergerai seperti itu.
“Mr. Theofilus Lundenberg....” Ivonne terlihat panik. Tangannya terulur untuk merebut kembali tusuk kondenya. “Kembalikan tusuk konde saya.”
Theo menggeleng sambil tersenyum kecil.
Trakk... Dia mematahkan tusuk konde itu.
“Hari ini, kamu harus menggerai rambutmu. Tidak ada hal buruk yang terjadi, kalau kamu menggerai rambutmu. Trust me....”
Tiingg.... Pintu lift membuka dan Theo berlalu dari hadapannya sambil tersenyum.
Oleh: Irene Tjiunata
cerita selanjutnya >>


