Fiction
Theo (7)

25 Jun 2012

<< cerita sebelumnya

Ivonne dapat mendengar dengus tidak suka dari cubicle Novelita, salah satu rekan kerjanya. Dengus itu disusul dengan kata-kata penuh cemooh.


”’Kamu telah bekerja baik sekali’. Cih! Pekerjaan saya sudah pasti akan jauh lebih baik dan jauh lebih cepat dibandingkan dia! Saya juga tidak akan bertingkah unusual seperti gadis aneh itu!!!”

Ivonne memejamkan matanya. Gadis seperti Novelita tidak perlu diladeni. Makin ditanggapi, akan makin senang dia. Ivonne sibuk memikirkan ajakan Theo. Menemaninya keliling Jakarta. Memang dia sekarang adalah personal assistant dari Theo, tapi apakah menemaninya berkeliling Jakarta termasuk dalam job-desc seorang personal assistant? Ivonne ragu.

Dia mulai merasa terganggu dengan kehadiran Theo. Apalagi lelaki itu sudah beberapa kali memergokinya saat sedang melakukan ritualnya. Dia harus lebih hati-hati sekarang. Jangan sampai tingkah lakunya dijadikan parameter untuk mengukur profesionalisme kerjanya.

”Bu Ivonne,” panggil Pak Andi, sopir kantor. “Bapak Theo sudah menunggu di lobi bawah.”
Ivonne mengangguk, kemudian bersiap-siap. Dia perlu merapikan gelung rambutnya. Dia masuk ke dalam toilet. Bilik toilet terisi penuh. Dia sendirian, dia aman, lalu dia mulai mengurai gelung rambutnya kemudian mengikatnya kembali dengan ketat. Satu kali... dua kali... dan ....
Tiba-tiba pintu terbuka. Novelita masuk. Kembali mendengus tidak bersahabat melihat Ivonne. 

Ivonne terpaku. Tidak meneruskan gerakannya. Ritual tiga-nya telah kacau! Kalau ada jeda antara ritual tiga itu, maka dia harus mengulangnya dari awal. Tapi... dia tidak dapat melakukannya, apabila ada orang lain di dekatnya. Bukan begitu aturannya. Ivonne mulai panik.... 
Matanya memandang gelisah ke arah Novelita yang kini sibuk menambah polesan make-up-nya. Tampaknya kegiatan itu akan memakan waktu yang cukup lama. Mata Ivonne terbelalak memandang banyaknya produk kecantikan yang dikeluarkan. Apakah memang sedemikian buruknya wajah asli Novelita sehingga dia membutuhkan begitu banyak produk untuk mempercantik wajahnya?

Ivonne memandang gelisah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Theo sudah menunggu di lobi bawah, sementara rambutnya masih tergerai lemas di bahu. Dia tidak bisa keluar, apalagi menemui Theo dengan keadaan seperti ini. Dia tidak pernah membiarkan orang lain, terutama lelaki, melihat rambutnya tergerai lemas seperti ini.

Sementara itu, Novelita masih tampak sibuk memulaskan pemerah ke pipinya.

Bagaimana ini? pikir Ivonne panik. Tangannya terangkat ragu-ragu, berusaha untuk merapikan rambutnya. Tapi... tidak bisa. Bukan begini caranya! Dia tidak dapat merapikan gelung rambutnya tiga kali di depan orang lain!

Pintu salah satu bilik toilet terbuka. Ivonne menghela napas panjang. Seorang wanita keluar dari bilik itu. Ivonne menerjang masuk ke dalam bilik, lalu buru-buru merapikan gelung rambutnya. Satu kali, dua kali, dan tiga kali! Ivonne menghela napas lagi. Lega. Dia menepuk punggung tangannya tiga kali, lalu keluar dari bilik.

Novelita masih di sana. Masih sibuk dengan semua produk kecantikannya. Kali ini dia mencibir melihat Ivonne keluar dengan rambut tergelung ketat.

“Orang aneh...,” katanya, pelan.

Ivonne menundukkan kepalanya. Dia tidak menjawab.

****
Theo menunggu di dalam mobil. Dia tersenyum kecil melihat sosok Ivonne berlari-lari keluar. Rambutnya tergelung rapi. Disatukan dengan sebuah hiasan rambut berwarna hitam.

”Maaf, saya terlalu lama.” Ivonne mengangguk sedikit. 

Ivonne mengetuk ujung kakinya tiga kali, persis ketika Pak Andi menyalakan mesin mobil. Ketukan kakinya sedikit teredam suara deru mesin mobil, tapi tetap saja Theo menyadari hal itu.

”Kita ke mana, Pak Theo?” tanya Pak Andi.

”Ke jalan ini....” Theo memperlihatkan secarik kertas kepada Pak Andi. Itu alamat rumah Oma Rima.

”Baik, Pak Theo.” Pak Andi mengarahkan mobilnya dengan mantap.

Ivonne diam saja. Theo juga tidak mau mengganggu hening yang, tampaknya, sangat dinikmati gadis itu.

Oleh: Irene Tjiunata

                                                                                    cerita selanjutnya >>


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?