<< cerita sebelumnya
”Ivonne...,” Diah, seorang rekan kerjanya, memanggilnya. ”Kamu dipanggil Pak Darmawan, tuh.”
Diah memicingkan matanya. ”Kenapa hari ini rambut kamu digelung lagi? Kemarin kamu kelihatan cantik banget, lho, digerai...,” puji Diah.
Ivonne hanya tersenyum tipis, tidak membalas perkataan Diah. Dia meletakkan berkas di mejanya, lalu menemui Pak Darmawan.
”Pak Darmawan Sejati mencari saya?” tanya Ivonne, begitu masuk ke dalam ruangan Pak Darmawan.
Pak Darmawan mengangguk. ”Ada apa dengan kamu dan Theo?”
Ivonne terkesiap. Tidak menyangka Pak Darmawan akan bertanya tentang Theo.
”Tidak ada apa-apa antara ... antara kami,” Ivonne merasa jengah menyebut kata ‘kami’. Seolah-olah antara dia dan Theo sudah menjalin hubungan yang intim.
”Sampai kapan kamu mau menutup diri seperti ini?”
Ivonne menatap Pak Darmawan. Ada sorot perhatian dalam pandangan mata Pak Darmawan, pamannya sendiri.
Ivonne berusaha menjawab, ”Sampai...,” dia menghela napasnya, tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Dia menggeleng pelan.
”Kecelakaan yang mengakibatkan kematian kedua orang tuamu bukanlah kesalahanmu, Ivonne,” ujar Pak Darmawan, bijaksana.
”Saya permisi dulu, Pak Darmawan Sejati.”
Ivonne tidak tahan lagi melanjutkan pembicaraan tentang kedua orang tuanya. Masih terlalu menyakitkan baginya.
Ivonne kembali ke mejanya. Novelita menghampirinya dengan wajah masam.
”Theo memintamu untuk menghubungi PT AsiaTex dan PT Kimia Industri. Bikin janji untuk besok siang,” ujarnya.
”Kenapa aku? Bukannya kamu sekarang adalah personal assistant-nya Theofilus Lundenberg?” tanya Ivonne, heran.
”Tanya saja kepadanya langsung!” ujar Novelita ketus, lalu beranjak pergi dari meja Ivonne.
Ivonne heran dengan sikap ketus Novelita. Bukankah Novelita sangat mengharapkan bisa menjadi personal assistant Theo?
Ivonne mengangkat bahu, lalu menghubungi dua customer yang diminta Novelita. Dia menuliskan pesan untuk Theo dan meletakkannya di meja Jonas.
Sore hari, ketika dia sudah tiba di rumahnya, dia melihat sosok seseorang sedang menunggunya di pekarangan rumah kecilnya. Mata Ivonne memicing. Dia kedatangan tamu? Dia tidak pernah kedatangan tamu. Siapa yang bertamu malam-malam begini?
Ivonne turun dari mobilnya dan membuka pintu pagar.
”Hai, Ivi....”
Ivonne terkesiap. Theo menunggunya di sana....
Ivonne tampak terkejut melihat kehadirannya, tapi Theo tidak mau mundur lagi. Kalau Ivonne menghindarinya di kantor, maka dia akan menemuinya di rumah!
“Untuk apa Anda ke sini, Mr. Theofilus Lundenberg?” tanya Ivonne. Wajahnya kaku tanpa senyum. “Apa yang Anda inginkan?”
“Apakah saya tidak boleh masuk dulu?”
Ivonne tampak ragu, namun kemudian tangannya terulur membuka pintu rumahnya. Dia menggesekkan kakinya tiga kali –sempat melirik Theo sebentar, seolah ingin tahu bagaimana reaksi lelaki itu– lalu masuk ke dalam rumahnya.
Theo ikut masuk. Mendapati rumah yang bersih, cemerlang, dan, hmm... Theo menghirup napas dalam-dalam, bau cairan antiseptik. Jadi rumah Ivonne antikuman juga?
”Kamu sudah tidak apa-apa lagi?” tanyanya, sambil menatap Ivonne.
Ivonne tidak menjawab. Lingkar di bawah matanya tampak kehitaman. Sepertinya gadis itu tidak tidur semalaman.
”Kamu tidak tidur, ya?”
”Saya menyelesaikan laporan kunjungan kemarin.”
”Sampai tidak tidur? Saya kan sudah bilang laporan itu boleh kamu serahkan sore tadi. Kenapa kamu sampai mengorbankan waktu tidurmu?”
Ivonne tidak merespons pernyataan Theo. ”Saya sudah menghubungi PT AsiaTex dan PT Kimia Industri. Saya bukan personal assistant Anda lagi. Harap lain kali, Anda memberikan tugas tersebut kepada Novelita.”
Oleh: Irene Tjiunata
cerita selanjutnya >>


