Fiction
The Wedding [1]

15 Aug 2013

Ruangan ini diselimuti berbagai macam bau bunga, melati dan mawar yang paling mendominasi. Tentu, semua bunga di sini adalah bunga segar. Anak wali kota tidak mungkin menggunakan bunga sintesis kalau tidak mau digunjing ibu-ibu tetangga rumah. Memang sudah begitu lumrahnya. Warna hijau --yang merupakan warna favorit mempelai pria-- mendominasi ruangan ini.

Green wedding, ide yang masih sama seperti dulu yang pernah mereka bahas sewaktu masih muda. Katanya semua undangan harus memakai dress code warna hijau juga, apa pun itu,  paling tidak harus ada satu unsur warna hijau. Semua furniture, dari meja sampai karpet, juga harus dilapisi warna hijau.

Tujuh tahun lamanya, Farah tidak pernah menyangka kalau Rayhan masih menyimpan impian yang pernah dulu ia ungkapkan sewaktu datang ke pesta pernikahan seniornya. Dulu ia hanya tertawa mendengar ocehan bocah 18 tahun tersebut, dan sekarang ia benar-benar takjub dan terharu melihat semua itu. Damai dan sejuk sekali.
                   
*****
   
Ruang resepsi terletak di sebelah gedung ini. Di sudut kanan salah satu ruangan gedung menampilkan view yang cukup bagus. Ruang resepsi yang merupakan ruangan berdinding kaca bisa dengan mudah dilihat karena letaknya tepat di seberang ruang ini. Seakan memang tempat ini didesain untuk memata-matai. Sudah satu jam Farah berdiri di dekat jendela, mencoba melihat dengan detail suasana ruangan sebelum nantinya ia masuk ke ruangan itu. Kursi mulai penuh dengan undangan. Beberapa orang yang berseragam batik warna hijau adalah keluarga besar, beberapa yang berdandan sedikit heboh pastilah teman-teman kuliahnya, dan beberapa yang tampak asing adalah rekan kerja ayah mempelai pria.
   
Detak jantung Farah makin tak beraturan. Pikirannya menerawang jauh. Membayangkan kehidupannya mulai esok dan seterusnya.
“Ya, Tuhan...,” ia mendesah.
“Minum dulu.”
Temannya memberikan segelas air putih kepadanya. Perempuan muda yang menggendong anaknya yang masih kecil itu mengelus-elus pundak Farah. Dia tahu betul apa yang dirasakan Farah saat ini. Mereka sudah bersahabat sejak kuliah tahun pertama. Meskipun perempuan muda itu sudah berkeluarga, hubungannya dengan Farah masih tetap sedekat dulu.
   
Waktu seakan berhenti di sini. Berjalan mundur melampaui tujuh tahun masa-masa kebersamaan mereka. Tujuh tahun penuh cita dan cinta. Farah tenggelam dalam memorinya sendiri. Mengingat detik demi detik, mengingat hal demi hal.
“Sarah?” seorang pria jangkung dan tampan memanggilnya dengan ragu.
“Farah. Pake F, bukan S. Rayhan, ya?”
     
Deretan rak dan buku di perpustakaan menjadi saksi bisu pertemuan mereka.  Image-ku harus bagus, pikir Farah saat itu. Sifat aslinya yang cerewet harus ia buang jauh-jauh kala itu. Pembicaraan pun berlangsung dengan sedikit canggung dan membosankan pada awalnya.
   
Farah ke laboratorium, Rayhan juga. Farah ke perpustakaan, Rayhan juga. Hidup Farah tidak jauh-jauh dari Rayhan mulai saat itu. Rayhan menempel erat bak parasit. Ya, parasit. Menempel karena ada maunya. Meminjam buku-catatan-tugas, minta diajari, minta saran, dan kadang-kadang diselingi curhat, dari masalah perkuliahan sampai masalah asmara. Sesekali pernah ia memarahi Rayhan habis-habisan. Sesekali ia juga akan tersenyum sendiri kalau mengingat keluhan-keluhan Rayhan yang sangat kekanak-kanakan. Pernah ia mengeluh karena dosen yang mengajar dengan seenaknya sendiri, mengeluh karena banyaknya laporan yang harus dibuat. Dasar labil, pikirnya saat mendengar keluhan Rayhan.
   
Tiap orang mempunyai jalan hidupnya masing-masing, ‘kan? Entah kenapa bagi seorang Farah, jalan hidup orang lain terlihat lebih menarik. Tumbuh tanpa sosok seorang ayah membuatnya kehilangan masa kecil seperti yang lainnya. Berbeda dengan Rayhan, ia tumbuh seperti seorang pangeran. Itulah mengapa mereka bergitu berbeda. Yang satu sangat dewasa dan berhati-hati dalam bertindak. Yang satunya lagi hidup semaunya sendiri, tanpa rencana dan arah yang jelas.
Kalau diibaratkan, Farah itu seperti lukisan berbentuk puzzle yang sudah jadi. Indah dan teratur. Tapi, apa yang menarik selain itu? Tidak ada. Orang hanya bisa melihatnya tanpa melakukan apa pun karena ia sudah tertata rapi. Sedangkan Rayhan seperti lukisan puzzle yang masih berantakan. Orang akan cenderung penasaran dan tertarik kepadanya. 

Satu tahun bersama tidaklah tanpa hasil. Farah, si puzzle yang sudah jadi itu mulai tertarik pada Rayhan. Bukan cinta namanya kalau mulus perjalanannya tanpa hambatan. Bagaimana bisa ia bersanding dengan orang yang bertolak belakang dengannya. Prinsip hidupnya tak mengizinkannya merasakan ini semua. Rayhan itu sama seperti kerupuk, enak tapi tidak bisa dijadikan makanan pokok.  Sementara yang ia cari adalah nasi. Ada gizinya dan mengenyangkan. Idealismenya memang terlalu tinggi, tapi bukan Farah namanya kalau tidak seperti itu.

“Wanita macam apa yang mengungkapkan perasaannya lebih dulu, kenapa ia begitu tidak peka?” Farah menggerutu di depan televisi, melihat adegan pernyataan cinta oleh seorang wanita kepada pria yang ia cintai. Baginya, itu hal yang sangat menyalahi aturan, sama salahnya seperti seorang wanita yang memasuki toilet pria.  Ah, dasar Farah.  Dia cantik, cerdas, rajin, dan tekun. Semua sifat baik ia miliki. Sayang, dia lupa, wanita juga bisa melakukan apa yang pria lakukan. Pikirannya terlalu kuno dan sederhana.


Farah memandang sebuah bongkahan es di tengah ruangan di seberang. Meskipun sudah tidak beraturan,  masih cukup jelas kalau bongkahan itu bertuliskan huruf F & R. Kasihan, huruf F-nya sebentar lagi berubah jadi huruf I. Orang yang tidak tahu mungkin akan mengira ini pernikahan Inung & Rayhan, Intan & Rayhan, atau Indah & Rayhan? Ah, masa bodo, pikirnya.
  
“Ah, Rayhan, bagaimana perasaan dia saat ini, ya?” batinnya. Ingin sekali ia melihatnya, barang semenit saja. Sekadar memastikan apa baju yang ia pakai terlalu kekanak-kanakan? Apa dia masih suka memakai sepatu kebesaran? Apa dia memakai kaus kaki warna hijau polkadot pemberiannya? Seperti apa wajahnya setelah di-make up, apa terlihat makin tampan atau justru seperti banci yang mangkal di lesehan dekat taman kota yang dulu selalu menggoda Rayhan sewaktu mereka makan di sana? Terlalu banyak yang Farah khawatirkan. Tidak seharusnya ia seperti itu, ia tidak tahu kalau sebenarnya dirinya sendiri yang harus dikhawatirkan.

Ia sudah lama memikirkan hal ini. Jauh-jauh hari sebelum ada kepastian akan hari ini. Bagaimana kalau nanti aku menggandeng tangannya erat-erat, lalu lari bersama dari ruangan itu? Pasti akan sangat romantis. Orang-orang akan bersorak meneriaki kami. Berlari seperti dulu yang pernah mereka lakukan setelah memencet bel rumah orang, berlari seperti saat dikejar gerombolan preman karena melempar kaleng minuman tepat ke kepala  sang ketua geng. Ide-ide gila dan bodoh itu selalu ia pikirkan sebelum ia tidur. Ia melakukannya sembari memikirkan apa yang akan mereka lakukan setelah itu.

 “Ayo.” Suara temannya itu membuyarkan lamunannya. Farah hanya mengangguk. Mereka berdua beranjak  menuju ke ruangan itu. Langkah Farah terasa berat sekali, entah kenapa. Batinnya bergejolak. Harusnya ia bahagia, bukan gelisah seperti sekarang ini.

Serentak beberapa orang di ruangan itu memandanginya. Riasan di wajahnya agaknya tak mampu menutupi mata sembapnya. Beberapa orang memandanginya, mereka pasti  sedang bertanya-tanya.
“Apa yang dia lakukan semalam sampai matanya sembap seperti itu?” “Dia pasti tidak bisa tidur semalaman.”
Ia menjadi sangat gugup. Dari arah yang berlawanan terlihat rombongan mempelai pria mulai mendekati pintu masuk.
 “Kalau saja dulu junior bimbinganku bukan Rayhan, bagaimana akhirnya, ya?” batinnya dalam hati.

Rayhan, bocah ingusan yang dulu selalu merengek saat meminjam catatan kuliah. Rayhan yang dulu hampir kena DO karena nilainya yang sangat jelek. Dasar anak nakal, gumamnya. Dulu dia pernah bilang, dia akan tetap hidup, meskipun indeks prestasi-nya hanya 1. Entah memang jalan hidup Rayhan yang ditakdirkan bagus atau entah ini semua karena usaha keras Farah mengubah Rayhan menjadi seperti sekarang ini. Tugas Farah sebagai senior yang harus membantu kegiatan akademik Rayhan bisa dibilang berhasil, meskipun dia sendiri tidak bisa berhasil seperti Rayhan.

“Aku bisa bertahan mencintai orang seperti itu untuk tujuh tahun lamanya. Seperti bukan aku saja.”
Ia tersenyum melihat raut kebahagiaan di wajah Rayhan. Diiringi sorak dari para undangan Rayhan menggandeng sang pengantin wanita ke pelaminan.
“Aku pikir aku akan mati sesak napas saat melihatnya. Aku baru tahu, ternyata melihat orang yang kita cintai bahagia akan membuat kita lebih bahagia. Selamat menempuh hidup baru, Rayhan dan Fanny....”



 


MORE ARTICLE
polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?