Pamor pelukis Raden Saleh begitu tinggi dan diakui seluruh dunia. Dan merupakan kesempatan luar biasa pula saat femina mengikuti tur “Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia” bersama kurator asal Jerman Dr. Werner Kraus, tanggal 2 Juni lalu. Sebanyak 40 lukisan dan gambar, baik koleksi publik maupun pribadi, dipertunjukkan dalam pameran akbar yang berlangsung dari tanggal 3- 17 Juni di Galeri Nasional Jakarta.
Sebagai ahli sejarah seni dan penulis biografi Raden Saleh, Dr. Werner mengisahkan satu demi satu karya sang maestro. Misalnya, lukisan potret ‘Pasangan Jawa’ yang dibuat tahun 1857. Dr. Werner berasumsi bahwa lukisan ini merupakan potret kedua orangtua Raden Saleh. “Dalam kebudayaan Jawa, laki-laki selalu berada di sebelah kanan dan wanita di sebelah kiri. Saat lukisan ini dibuat, ayah Raden Saleh sudah meninggal, namun ibunya masih hidup. Posisi laki-laki di sebelah kiri menandakan bahwa semua keadaan ‘terbalik’ di akhirat. Sementara sosok wanita yang memegang kunci, menggambarkan dialah pemegang kunci makam sang suami, ” ujar Dr. Werner.
Dr. Werner kemudian beralih ke lukisan-lukisan berikutnya. Lukisan ‘Penunggang Kuda Arab Diterkam Singa’ – konon merupakan koleksi Napoleon III dan ‘Memburu Banteng Jawa’ yang merupakan koleksi Istana Yogyakarta, terpampang gagah di dinding-dinding ruang pameran. Jika diperhatikan, hampir setengah lukisan yang dipamerkan memproyeksikan sosok harimau dan singa. “Orang Eropa mengharapkan adanya unsur unsur oriental dari hasil lukisan seorang dari Timur. Sebagai seniman yang menggantungkan hidup dari hasil seni, Raden Saleh berusaha mewujudkan keinginan pasar dan menampilkan singa atau harimau sebagai usaha untuk mematenkan diri sebagai seorang ‘oriental sejati,” jelas Dr. Werner.
Tepat di tengah ruangan terpampang lukisan fenomenal ‘Penangkapan Diponegoro/1857’. Dalam lukisan ini Raden Saleh jelas menyuarakan anti-kolonialisme guna meluruskan sejarah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro yang sebenarnya dijebak lalu ditangkap. Bukan menyerahkan diri seperti anggapan sejarawan Barat. “Lukisan ini saya temui pertama kali di Istana Bogor, dua tahun yang lalu. Keadaannya sudah usang, berdebu dan kekuningan. Enam bulan lalu, kondisi lukisan yang sudah dipajang di Istana Negara tidak berubah, tampak buram dan hampir tidak bisa dikenali. Sebelum dipamerkan, ahli restorasi asal Jerman bekerja keras selama 2 minggu dan hasilnya sangat menakjubkan. Keindahan lukisan kembali seperti sedia kala, ” ungkapnya bangga sekaligus haru.
Di sisi lain ruang pamer, beberapa sketsa lukisan saat Sarib Saleh, nama kecil Raden Saleh, berusia 11 tahun mampu mengundang decak kagum. Bakat alaminya sebagai pelukis besar sudah tampak. Ada juga sketsa landscape sederhana, meliputi pepohonan, rumah gubuk dan pemandangan pedesaan, yang merupakan serangkaian sketsa saat ia mengajari anak-anak sekolah menggambar.
Bisa dikatakan, seluruh lukisan Bapak Modernitas Jawa ini memancarkan energi yang luar biasa karena begitu dinamis, realistis, sekaligus magis yang berbalut keindahan. Beragam makna dan filosofi hidup terpancar dari karya-karyanya. Kritisinya terhadap nafsu manusia yang gemar mengganggu dan merusak alam serta isinya, penghormatan tiada henti terhadap sejarah bangsa, maupun konsep spiritual dan ketuhanan yang dimilikinya, masih relevan dan patut diteladani hingga saat ini.
Ingin melihat beberapa hasil karya apik sang maestro klik di sini
Woro Hartari Trianti


