Jenis takjil, seperti kolak, biji salak, atau aneka es hanya bisa menggantikan kadar gula darah, tetapi tidak mencukupi makan kita. Dibutuhkan makanan lengkap yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, sayur, dan buah. Jangan pula buru-buru menjejali perut Anda dengan makanan besar usai mengonsumsi takjil. Beri waktu sejenak, sebagai jeda. Misalnya, selingi waktu antara takjil dan makan malam dengan melakukan salat terlebih dahulu.
Perut yang kosong dalam waktu 14 jam, jika langsung diisi makanan dalam jumlah banyak akan terasa penuh dan tidak enak. Ini karena enzim dalam pencernaan belum siap. Jadi, lakukan secara bertahap.
Setelah seharian menahan lapar, orang biasanya tergoda mengudap takjil secara berlebihan. Misalnya, dengan mengonsumsinya lagi setelah makan malam dan salat Tarawih. Ditambah dengan berkurangnya aktivitas tubuh, jelas saja kalau kalori tubuh kita langsung melambung. Oleh karena itu, seimbangkan jumlah kalori yang telah dimasukkan dalam tubuh dan aktivitas kita.
Agar dapat menjalankan fungsi dengan baik, tubuh membutuhkan asupan kalori sebesar 1.500 – 2.500 kilo kalori (kkal) setiap harinya. Selama puasa, kebutuhan ini bisa terpenuhi melalui tiga tahapan, yaitu sahur (625 kkal), takjil (250 - 400 kkal), dan makan malam (875 kkal). Jika tidak ingin gemuk, makan takjil cukup sekali, yaitu saat berbuka.
Takjil selalu baik jika disajikan dalam bentuk buah dan sayuran yang kaya serat dan vitamin. Agar lebih mudah dicerna oleh lambung, sebaiknya sayur dan buah-buahan tersebut dikonsumsi dalam bentuk jus. Cara ini juga membuat gula yang terkandung dalam sayuran dan buah lebih cepat dicerna dan dimanfaatkan oleh tubuh. Sehingga, kadar gula yang hilang akan cepat tergantikan. (f)


