Pernah terucap dalam suatu blind test di Jepang bahwa kualitas teh terbaik berasal dari Nusantara. Namun, di balik pencapaian tersebut, tanaman yang menjadi salah satu komoditas Cultuurstelsel (Tanam Paksa) pada zaman pendudukan Belanda ini justru sedang dalam keadaan terombang-ambing.
“Yang berkualitas dijual ke luar negeri, rakyat Indonesia beli yang bermutu rendah,” jelas Fahrial, Kepala Tanaman Perkebunan Teh Gedeh. Sudah bukan rahasia bahwa fakta ironis itu ada. Tapi, masalah ini bukan serta-merta kesalahan para produsen atau pemerintah yang mencari keuntungan untuk menambah sumber pendapatan negara.
Bila dilihat dari sejarah panjang budaya teh di Indonesia, bangsa ini memang tidak akrab dengan rasa ringan teh yang bermutu tinggi. Sejak zaman Belanda, rakyat Indonesia terbiasa menikmati teh bermutu rendah yang dijatahkan oleh pemerintah kolonial. Maka, terbentuklah kebiasaan menikmati teh nasgitel (panas, sepet, legi/manis, kentel/kental). Karena tidak ada pasar di negeri sendiri, para produsen milik pemerintah maupun swasta mengekspor teh bermutu baiknya.
Hingga tahun 2000 produksi teh Indonesia mengalami peningkatan. Namun, sejak saat itu, ia mengalami periode downhill (penurunan). Tanaman teh yang tidak diregenerasi kurang produktif sehingga kuantitas yang dihasilkan tidak sebanyak dulu. Harga jual teh kering yang relatif rendah (US$ 2.50 per kilogram untuk teh mutu terbaik) juga menjadi isu. Demi kelangsungan hidup perusahaan, tak sedikit lahan teh yang dikonversi menjadi kelapa sawit atau tanaman lainnya yang lebih menguntungkan.
Di sisi lain, budaya minum teh di negeri Barat turut mengedukasi masyarakat Indonesia. Ini menjadikan gaya hidup masyarakat urban pun berubah. Maraknya peredaran label teh premium internasional di Indonesia menandakan mulai terbentuknya pasar teh berkualitas di sini. Minum teh tak lagi sekadar kebutuhan, melainkan juga bagian dari gaya hidup yang health conscious. Tentu saja peluang ini tak disia-siakan oleh produsen teh lokal. Bermunculan pula gerai teh yang menyuguhkan jamuan teh premium asli Indonesia. Di butik-butik tersebut, akhirnya mereka bisa menikmati racikan teh premium yang beberapa di antaranya ternyata didapat dari negeri sendiri.
Teh Walini
Walini merupakan label teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII. Mengejar ketinggalan karena sempat tidak diperbolehkan berusaha di bagian hilir, kini salah satu BUMN ini giat memperkenalkan pruduk-produknya dengan membuka galeri-galeri teh di Kota Bandung. Di Jakarta, galerinya pun kerap dikunjingi pembeli yang mencari teh white tea salam kemasan eksklusif
Walini Tea Gallery
Lotte Mart Gandaria City, Jl. Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jakarta (021- 2905 3060)
OZA PREMIUM TEA
Usaha Oza Sudewo, pengusaha muda asal Bandung yang memajukan teh premium asli Indonesia ini perlu diacungi jempol. Ia meluncurkan label teh premium dari perkebunan teh di Jawa Barat dengan namanya sendiri, OZA Premium Tea. Tak hanya itu, ia pun membuka rumah teh yang menyajikan kreasi minuman teh dalam berbagai rupa. Disandingkan dengan camilan serta interior ruang gaya Eropa membuat acara ngeteh makin seru.
Oza Tea House
Jl. Diponegoro No.25, Bandung (022-4268739)
TONG TJI
Sebagai salah satu ‘pemain’ pasar besar teh di Indonesia, Tong Tji memiliki 3 konsep gerai untuk mendekatkan dirinya dengan para konsumen: Tea Bar, Tea House, dan Tea Booth. Karena memang sudah cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia, gerai-gerai ini pun sudah tersebar di beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makassar. Tong Tji Tea Bar dan Tea House yang juga menyajikan camilan khas Indonesia yang membuat tempat bersantai ini ramai dikunjungi.
Tong Tji Te Bar
Plaza Semanggilt.3, Jl. Jend. Sudirman Kav.50, Jakarta


