Tak ada salahnya membiarkan hidup mengalir begitu saja, go with the flow. Tapi, jika Anda merasa gamang di tengah jalan, merasa tidak bahagia, atau kehilangan gairah hidup, mungkin ini saatnya Anda melakukan refleksi diri.
Stop dan Renungkan
“Sesekali kita memang perlu melakukan refleksi, untuk menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan dalam hidup kita,“ ujar psikolog keluarga yang berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah, Roslina Verauli, M.Psi. Tidak hanya soal pekerjaan, tapi tentang apa saja yang kita lihat di sekitar kita, juga hal-hal yang sifatnya personal, seperti hubungan dengan pasangan, teman, dan keluarga.
Begitu dinamisnya kehidupan kita, sering kali memang membuat kita tak pernah berhenti bergerak dan berpikir. Sibuk terus! Namun, tanpa disadari segala kesibukan itu hampir selalu berkaitan dengan fisik dan dunia di luar seperti bekerja di kantor, berolahraga, menghadiri undangan ini itu, mengurus keluarga, memasak, arisan, dan lain sebagainya.
”Orang selalu sibuk melihat ke luar, tapi yang jarang dilakukan orang adalah refleksi ke dalam dirinya sendiri, atau istilahnya inward,” ujar Verauli. Padahal, selain berkomunikasi dengan dunia luar, kita juga perlu berkomunikasi dengan diri kita sendiri. Tanpa itu, lama-kelamaan kita seolah-olah kehilangan diri kita sendiri. Bisa-bisa kita tak lagi mengenali siapa diri kita. Ini yang kemudian membuat hidup jadi terasa gamang, kurang bermakna.
Hal ini juga yang sering menjadi alasan seseorang untuk mencoba melakukan meditasi, mengikuti kegiatan-kegiatan religius, menempuh perjalanan ke negeri-negeri asing, untuk mencari diri mereka. Namun, menurut Verauli, semua itu sebetulnya hanyalah alat. ”Jika kita tidak melakukan perenungan dan pencarian ke dalam diri, ya, belum tentu membuahkan hasil,” terangnya.
Nuri Fajriati


