Gangguan sindrom ovarium polikistik (SOPK) atau polycystic ovary syndrome (PCOS) sesungguhnya cukup banyak terjadi. Menurut Mayo Clinic, di Amerika Serikat saja setidaknya ada lima juta orang menderita SOPK. Gangguan hormonal ini menyerang 5% - 10% wanita usia produktif, yaitu antara 12-45 tahun. Penyebabnya karena gaya hidup dan faktor genetis.
Masalah utama pada kasus SPOK adalah proses pematangan telur yang terganggu. Ini biasanya berkaitan dengan metabolisme insulin pada tubuh. SOPK biasanya menyebabkan peningkatan kadar hormon pria atau androgen. Meningkatnya produksi androgen ditandai dengan timbulnya jerawat dan rambut yang berlebihan di muka dan tubuh, seperti dada, perut bagian bawah, punggung, dan paha sebelah dalam.
Pada wanita, androgen dihasilkan di indung telur dan kelenjar adrenal. Pada keadaan normal, keberadaan hormon estrogen akan menangkal efek androgen pada wanita. Prinsip dasar penanganannya adalah merangsang sel telur agar dapat matang. Cara paling sederhana, dengan olahraga dan diet sehat. Kalau tidak berhasil, baru diberikan obat-obatan perangsang yang akan membuat sel telur matang. Berbagai penelitian terus dilakukan untuk menemukan pengobatan yang tepat. Dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 2013, Lourdes Ibáñez dari University of Barcelona, memaparkan pengobatan untuk SOPK, yaitu kombinasi antara obat pengendali gula darah dan insulin dan antiandrogen, yang dinilai memiliki hasil lebih baik ketimbang kontrasepsi oral. Menurut Mayo Clinic, jika obat-obatan tidak berhasil, mungkin diperlukan tindakan operasi yang disebut ovarian drilling untuk mengurangi produksi androgen.
SOPK biasanya segera bisa diketahui setelah seorang wanita mengalami menstruasi untuk pertama kali. Para ahli menyarankan untuk segera ditangani, sebab jika tidak, maka akan makin sulit untuk diobati. Yang lebih mengkhawatirkan, SOPK meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang, seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan penebalan lapisan dinding rahim. (f)


