Kisah Sebelumnya
Kehilangan istri saat melahirkan anak pertama mereka membuat Idham, seorang wartawan, shocked. Dia masih tak kuasa kehilangan manisnya pernikahannya dengan Ranti. Sayangnya, Idham pun tidak menyukai bayi mungil yang membuat Ranti meninggal.
Sisa-sisa kecantikan masih membekas di wajahnya yang penuh garis-garis ketuaan. Usianya sekitar 65-an. Tangannya yang sudah keriput menggenggam tanganku dengan kuat. Kontras. Gerakan tubuhnya gesit. Aku hanya bisa membayangkan bila dia menari di panggung. Tari Topeng Priangan, seperti juga Topeng Cirebon, menampilkan gerakan–gerakan gemulai yang gagah. Kejelitaan gerak yang perkasa.
Setelah mempersilakan duduk, penari tua itu meminta waktu sebentar untuk mengambil sesuatu di dalam kamarnya. Aku dan Dudi menunggu di ruang tamu suite room yang interiornya didominasi warna merah mahoni dan krem muda. Elegan. Penari sekaliber Tati Sumirat mendapat penghargaan yang bagus dari pemerintah, ia mendapat fasilitas hotel bintang 5.
Kebetulan ada festival tari topeng tingkat internasional yang diadakan di Teater Terbuka Taman Budaya, Bukit Dago. Berbagai jenis tarian topeng dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara bergiliran tampil. Ternyata banyak negara yang menggunakan topeng sebagai bagian dari pertunjukan tarian tradisionalnya. Terlepas dari maraknya keragaman tari topeng, penampilan Tati Sumirat menjadi momen yang paling ditunggu banyak orang.
“Dupi asal muasalna Topeng Priangan ti wewengkon mana?” ujarku, dalam bahasa Sunda. Aku menanyakan asal usul tari Topeng Priangan. Tati Sumirat lebih mudah berkomunikasi dalam bahasa Sunda ketimbang bahasa Indonesia. Ia menjawab dalam bahasa Sunda halus.
“Tari Topeng Priangan berakar dari topeng Cirebonan. Ada lima jenis tarian utama yang menampilkan lima karakter yang berbeda, yaitu Topeng Panji, Topeng Pamindo atau yang disebut juga Topeng Samba,” jelas Tati, segaris senyum tak pernah hilang dari bibirnya. “Nah, karakter berikutnya disebut Topeng Rumiyang, Topeng Tumenggung dan Topeng Kelana.”
Tati mengambil satu dari lima topeng yang dibawa dari kamarnya tadi.
“Topeng ini dipakai saat menarikan Topeng Panji, yang menceritakan kesucian manusia di masa awal kehidupannya. Karakter Panji juga mencerminkan sifat luhur seorang satria pinandita,” ujarnya, sambil memperlihatkan topeng berwajah putih itu, lalu ditaruhnya di sofa.
Dia mengambil dua buah topeng lagi. “Ini Topeng Samba yang mengisahkan manusia saat kanak-kanak dan Topeng Rumiyang yang merupakan simbol manusia remaja yang selalu bergerak mencari jati diri.”
Tati mempersilakan kami membuat minum sendiri sesuai selera kami.
Tanpa terasa wawancara itu berlangsung lebih dari satu jam. Beberapa kali Tati Sumirat memperagakan fragmen-fragmen tarian yang paling menarik dan ekspresif. Ia sempat berganti pakaian dan memakai kostum tari. Dudi memotretnya berulang-ulang. Ruang tamu suite room itu berubah jadi panggung instan sebuah pertunjukan tari tradisional yang masih bertahan di era milenium ini.
****
Kutemukan duniaku kembali. Walau beberapa saat bisa kulupakan Ranti, tetap saja rasa perih itu menggores, meninggalkan rasa nyeri yang sekali-sekali muncul. Binar mata yang penuh daya hidup itu selalu bertakhta di dalam benakku. Dia pun menciptakan ruang kosong yang hampa. Namun, dalam ketiadaan itu dia juga mengisi benakku dengan selaksa kenangan yang tak mudah dihapuskan begitu saja. Orang bilang, ditinggalkan orang yang kita cintai adalah penyebab stres nomor satu. Apakah aku mampu melalui fase yang sulit ini?
Aku benci tangisan makhluk kecil itu. Tangis yang selalu mengembalikan diriku ke dunia nyata. Tangis yang merenggut diriku dari saat-saat indah yang pernah terjadi sebelum bayi pencipta tangis itu ada. Ambu sering kali berusaha memancing naluri kebapakanku. Sejauh ini, usaha Ambu kurang berhasil. Meski terkadang aku sempat tersentuh, naluri itu cepat pula padam. Sesudah itu aku kembali dalam kebekuan yang penuh goresan tajam. Aku tahu, ini bukan sesuatu yang baik, tapi beri aku waktu untuk menata hatiku kembali.
Aku sengaja meminta supaya lebih sering mendapat tugas reportase ke luar kota. Sandra, atasanku yang penuh pengertian itu, mengabulkan usulku. Ambu pun tidak memprotes kesibukan baruku, yang penting aku tak pernah lupa membelikan susu atau diapers. Pada sisi lain, aku bisa mengalihkan perhatianku agar segala beban kepedihanku berkurang. Lebih sering berada di luar rumah, membuatku menemukan banyak dunia baru yang menyajikan kisah yang selalu berbeda.
Kali ini, aku kebagian tugas meliput Pantai Pangandaran, usai terjadinya tsunami. Pantai di bagian selatan Jawa Barat itu jadi lebih cantik karena ditata lebih baik dari sebelum tsunami melanda. Para wisatawan sudah mulai berani datang ke situ, menikmati fasilitas wisata yang ada. Dari berkuda, berselancar, sampai menyelam sambil menikmati indahnya ikan-ikan kecil di antara terumbu karang.
Pukul empat pagi Ambu meneleponku, Si Kecil sakit. Demam dan sering terbatuk-batuk. Suara Ambu begitu khawatir.
“Ambu takut sakitnya keterusan! Cepat pulanglah, Nak, kasihan anakmu…!”
Rasa panik Ambu menular padaku. Aku mencoba meredam perasaan panikku yang mulai menjalar. Bagaimanapun, dia anakku, buah cinta kasihku bersama Ranti. Cepat-cepat, kuselesaikan pekerjaanku dari waktu yang seharusnya. Aku naik pesawat Susi Air yang belum lama ini membuka jalur penerbangan dari Pangandaran ke Bandung. Lumayan, cukup menghemat waktu.
Sore harinya, aku sudah berada di Bandung. Di rumah hanya ada Ambu dan anakku. Farid pulang kampung, adik bungsunya keserempet motor. Sebetulnya, bisa saja Ambu pergi ke dokter naik taksi atau minta tolong diantar tetangga. Tapi, entah mengapa, aku malahan bersikeras agar Ambu menungguku karena aku begitu yakin penyakit anakku tidak terlalu parah. Apalagi tadi siang Ambu mengabarkan, panasnya mulai turun.
Ambu menyambutku dengan wajah rusuh dan lelah. Kuraba dahi Si Kecil, agak panas. Tangannya yang biasa bergerak-gerak pun kini terkulai. Tanpa sadar aku bergerak mengecup pipinya, hangat. Ya, anak ini benar-benar sakit. Aku dan Ambu saling bertatapan. Ambu yang biasanya tenang, kini begitu khawatir. Ketika Ranti meninggal saja, Ambu terlihat lebih tegar daripada anak lelakinya. Dia yang berupaya menenteramkan hatiku dan mencoba menguatkan aku. Dari kejadian ini, aku mencoba memahami betapa berartinya seorang cucu bagi Ambu.
Kami segera membawanya ke dokter. Syukurlah, sakitnya tidak separah yang kami kira. Meski hanya terjangkit gejala flu biasa, kami harus tetap waspada. Minimal menjaga sistem kekebalan tubuhnya agar lebih kuat melawan penyakit dengan cara meminum obat dari dokter. Bayi seumurnya memang masih rentan, apalagi dia tidak mendapat ASI dari ibunya yang dapat memperkuat daya tahan tubuhnya.
Setelah dipastikan kondisi Si Kecil baik-baik saja, aku kembali larut dalam pekerjaanku. Meski begitu, Ambu sempat memohon agar aku meluangkan lebih banyak waktu untuk anakku. Aku mematuhi permintaan ibuku, meski sekadar ada di rumah atau pulang lebih awal. Biarpun aku tak pernah menggendong anakku itu, Ambu tak ambil pusing. Baginya, kehadiranku sudah cukuplah. Di hari Minggu, terkadang Ambu minta aku mengantarnya, sekadar beli perlengkapan bayi sambil makan siang. Bila aku pergi ke luar kota, Ambu minta tolong Farid. Tentu saja Ambu tak bisa ikut, karena Farid pakai motor. Ambu senang pergi bersamaku, karena itu berarti Si Kecil bisa ikut. Mobilku cukup luas dan lebar untuk menampung kami bertiga.
^^^
Beberapa waktu terakhir, Ambu jarang mengajakku pergi. Tumben! Suatu pagi ponselku ketinggalan, mau tidak mau aku balik lagi. Di halaman rumah, kudapati Ambu tengah terlibat pembicaraan akrab dengan seorang gadis. Sambil menunggui anakku yang sedang berjemur, mereka asyik mengobrol.
Tampaknya gadis itu penghuni baru di kompleks perumahan kami. Malam harinya, Ambu bercerita. Gadis berambut sebahu itu tinggal di sebelah rumah, namanya Nadia. Dia adik bungsu Ibu Hasan, yang baru saja lulus D-3 desain grafis di Semarang. Sambil menunggu panggilan kerja, dia mengikuti kursus bahasa Inggris. Dia hanya ditemani seorang pembantu yang sudah tua. Sejak dua bulan yang lalu, Ibu Hasan sekeluarga pindah ke Kalimantan.
Pagi berikutnya aku sering berpapasan dengan gadis itu tanpa bertegur sapa. Kami hanya saling tersenyum atau mengangguk di depan pintu pagar rumahku. Sekadar basa-basi antartetangga. Belakangan ini, Ambu sering meninggalkan gadis itu bersama Si Kecil. Selagi Ambu belanja di tukang sayur, gadis itu duduk menunggui bayi yang sedang berjemur di meja kecil. Meja yang sengaja ditaruh Farid tak jauh dari kolam ikan.
Ambu kelihatan senang dengan kehadiran gadis itu. Mungkin Ambu merasa mendapat teman baru yang cocok diajak bicara dan mau ikut mengasuh Si Kecil.
“Kenapa Ambu biarkan gadis itu sering menimang anakku?”
“Ambu sudah terlalu tua untuk mengasuh bayi, biar saja Nadia ikut mengasuhnya. Dia suka anak kecil….”
“Tapi….”
“Kamu tidak suka ada orang lain memperhatikan anakmu, sementara kamu sendiri, ayahnya, menelantarkan dia…?” Tak biasanya Ambu berkata setajam itu.
Aku sengaja menghindari tatapan Ambu. Bila Ambu sedang meradang begini, diam itu lebih baik.
“Kamu sudah mengabaikan cucu Ambu, dan membiarkan dirimu larut dalam kesedihan yang berlarut-larut. Kamu laki-laki, Idham! Seharusnya kamu lebih kuat! Kasihan anakmu. Kenapa semua ini kau bebankan pada Ambu? Ambu sudah tua, tinggal menunggu waktu. Kalau Ambu tidak ada, apa mau anakmu kau titipkan ke panti asuhan? Atau lebih baik diasuh orang tua Ranti? Kamu sendiri yang tidak mengizinkan anakmu ikut bersama mereka. Ambu bingung, apa maumu sebenarnya?!”
Kata-kata Ambu adalah bilah-bilah bambu yang menusuk dadaku. Aku berusaha mengerti mengapa Ambu bicara sekeras itu. Jauh di lubuk hatinya, Ambu juga mempunyai beban psikologis atas musibah yang aku alami. Aku menarik napas panjang, lalu melepaskan udara yang memenuhi rongga pernapasanku. Bukan rasa lega yang kudapat, tapi rasa sesak yang kian membuatku terjebak. Meski aku menelantarkan anakku seperti yang Ambu bilang, rasanya takkan sampai hati bila harus menitipkan dia kepada orang lain. Sejak saat itu, aku tak pernah protes bila anakku sering digendong Nadia.
^^^
Sore itu, aku pulang lebih awal. Perutku mulas.
Teras rumah terasa sepi, hanya bunga-bunga alamanda yang tampak bersembunyi di balik rimbunnya daun. Tumben. Biasanya, begitu kakiku menginjak teras, selalu saja suara bayi mungil itu menyambutku. Entah dalam bentuk tangisan atau celoteh riang khas bayi, berbaur suara Ambu atau gadis tetangga sebelah. Suasana teras membuat aku menahan langkah. Aku sengaja duduk di kursi rotan favoritku. Di kolam, ikan-ikan koi hilir mudik. Butiran sisa makanan ikan tampak mengambang di pinggir kolam, barusan dikasih makan rupanya.
Cukup lama aku menikmati rasa sejuk yang selalu mengalir di teras itu. Matahari senja bersembunyi di balik mendungnya langit. Perutku mulas. Pintu terkunci, dari kaca jendela kulihat isi rumah tampak sepi. Kupanggil Ambu, lalu Farid. Tak ada jawaban sama sekali. Jangan-jangan mereka pergi.
Aku tak bisa masuk ke dalam rumahku sendiri. Kunci serep lupa kubawa, kemarin malam kugantung di balik pintu kamarku. Sambil menahan perutku yang makin mulas, kutunggu mereka. Sore mulai redup, lampu tetangga sudah dinyalakan. Tinggal rumah kami, gelap. Mungkin penderitaanku akan makin lengkap, bila hujan lebat pun turun.
Beberapa saat aku memang masih bisa mengalihkan perhatian agar rasa mulasku beradaptasi dengan kenyataan.
Sebuah mobil memasuki halaman rumah. Ambu datang! Ambu terlihat lebih jelas daripada orang yang memegang kemudi. Cahaya lampu garasi rumah sebelah jatuh tepat kepada Ambu yang sedang menggendong Si Kecil. Farid bergegas turun, membawa belanjaan Ambu.
“Masih banyak, Rid?” tanyaku, spontan. Rasa mulasku terabaikan. Farid mengiakan. Aku sempat berpapasan dengan pengemudi mobil itu. Ternyata Nadia.
“Kalian sudah saling kenal, bukan?” tanya Ambu, sambil membenahi kain gendongan. Ambu menatap padaku, seakan tidak berkenan pada sikap kaku yang tak dapat kusembunyikan. Aku tak menjawab, mencoba memalingkan wajah, tapi sia-sia, karena gadis ini menghalangi jalanku.
“Sudah, Ambu…. Ini Kang Idham, ‘kan?” ujar gadis itu, memecah kebisuan yang melingkupi diriku. Dia berinisiatif mengulurkan tangan lebih dulu, mau tak mau kusambut salamnya.
“Nadia….”
Aku hanya tersenyum padanya dan mengangguk sedikit. Aku enggan menyebut namaku sendiri. Untuk apa? Toh, dia sudah tahu namaku. Kupikir dia agak sok akrab, ikut-ikutan menyebut ibuku dengan sebutan Ambu. Aku segera masuk ke dalam, belanjaan Ambu ternyata banyak juga.
Setelah Nadia berpamitan, tanpa kuminta Ambu bercerita. Nadia dititipi mobil oleh saudaranya yang pergi liburan ke Singapura. Jadi, Nadia bisa mengantar Ambu.
“Kenapa tidak menunggu aku, Bu….”
Ada sedikit rasa cemburu menyelinap, Ambu dan Si Kecil jadi lebih dekat dengan Nadia sekarang.
“Kamu selalu tegang bila berada di dekat putrimu. Kadang-kadang Ambu merasa tidak nyaman. Bersama Nadia, Ambu bisa lebih santai. Apalagi Nadia senang bergiliran menggendong putrimu. Berat badannya nambah, lho. Sesudah sakit kemarin dia naik sekilo….!”
Aku tersenyum, bukan karena mendengar keriangan Ambu saat bercerita. Senyumku tersimpul karena barusan sempat membayangkan, andai yang bercerita itu Ranti, tentu saja aku akan bahagia. Betapa cerianya Ranti menceritakan pertumbuhan anak kami. Betapa sempurnanya kehidupan kami, sebuah keluarga.
“Kenapa, Idham?” suara Ambu pelan, tapi menghujam. Mataku menerawang, Ambu seakan mampu membaca pikiranku. “Alangkah sulitnya kau menerima kenyataan ini. Bangunlah, Nak, dari mimpi burukmu!”
Perutku yang mendadak mulas lagi, menyelamatkan diriku dari keharusan menjawab atau menanggapi kalimat Ambu.
^^^
Hari berikutnya sakit perutku makin parah, bolak-balik ke toilet. Akhirnya aku izin pulang lebih awal dari kantor. Kukemudikan mobil sambil menahan rasa sakit yang membelit perutku. Tadi, Dudi sempat menawarkan diri mengantar, namun kutolak. Pekerjaan kami menumpuk. Bila Dudi mengantarku, otomatis dia akan kehilangan banyak waktu. Deadline penerbitan majalah kami sudah dekat. Lagi pula, sebagian pekerjaanku banyak dibantu dia karena kami berdua satu tim.
Ambu menatapku penuh selidik. Tak biasanya aku pulang sesiang ini. Tanpa perlu kujelaskan panjang lebar, Ambu sudah tahu aku terserang diare.
“Nanti Ambu bikinkan rebusan daun jambu klutuk, ya, biar mampet!”
Aku mengangguk pelan.
“Farid, tolong Uwa mintakan daun jambu ke Nadia. Tak usah banyak-banyak, satu kantong plastik kecil saja!”
“Tak usahlah Ambu, biar aku minum obat saja. Mungkin perlu ditambah dosisnya…,” sergahku, dengan suara nyaris berdesis.
Farid menatap kami bergantian. Ambu memberi isyarat dengan matanya agar sepupuku itu melaksanakan perintahnya. Farid bergegas, tak lama kemudian dia datang tanpa membawa benda yang diminta Ambu.
“Nadia sedang pergi, Uwa.”
“Biar nanti Uwa telepon dia ke ponselnya…,” ujar Ambu, taktis.
Aku ingin mencegah, tapi rasa mulas keburu menyergapku lagi. Aku cepat-cepat ke dapur, membuat teh pahit. Siapa tahu, penderitaanku segera berakhir dengan obat tradisional ini. Sore harinya Nadia datang membawa daun jambu klutuk. Dari kamar, kudengar suara gadis itu bercakap-cakap dengan ibuku. Aku membalikkan badanku, rasa pusing dan lemas menyergapku tanpa ampun.
Tangan Ambu meraba dahiku. Mataku terasa sepat, aku berusaha bangkit dari tidurku. Tapi, rasa lemas membuatku tidak berdaya. Ambu memanggil Farid. Lalu mereka sibuk sendiri. Farid memakaikan jaket, memapahku ke mobil Nadia yang sudah menunggu di depan rumah. Jangankan menolak, bicara pun lidahku sangat kelu. Kami bertiga berangkat ke dokter, Ambu di rumah menemani Si Kecil.
Dokter menyarankan agar aku diopname saja, aku bersikeras dirawat jalan saja. Kasihan Ambu, tentu akan menjadi sangat repot. Biarpun ada Farid yang selalu sigap membantu kami, dia juga tak dapat mengabaikan kuliahnya. Akhirnya, dokter mengizinkan aku dirawat di rumah dengan syarat harus istirahat total di tempat tidur. Aku mau mengikuti anjuran dokter.
“Terima kasih, ya…,” bisikku, lirih. Nadia tersenyum, membukakan pintu mobil untukku. Ambu belum tidur rupanya, dia menunggu di teras. Farid memapahku ke dalam kamar.
****
Katherina Achmad


