Ketika Lia keluar apartemen pagi itu, hidungnya langsung menyergap aroma udara sejuk awal musim gugur. Ya, musim gugur telah merentangkan sayap-sayapnya di semenanjung Korea, mengubah warna daun-daun yang semula hijau menjadi kuning kemerahan, untuk kemudian rontok satu per satu. Entah dari mana munculnya perasaan ringan dan keriangan di dalam hatinya itu. Udara seolah bertabur konfeti dari pesta ulang tahun ke-17 seorang dara.
Ia memalingkan wajahnya ke arah matahari yang bersinar lembut keperakan. Membiarkan matahari mengulurkan sinarnya untuk menyentuh kulit wajahnya yang halus dan dihiasi sepasang mata yang begitu hidup dan bercahaya, bibir yang seolah selalu tersenyum, pipi yang kemerahan, dan hidung yang menguatkan kesan manis pada wajahnya. Wajah seorang wanita Jawa yang menjelma sebagai merpati yang berani terbang jauh, sendiri, meninggalkan negerinya di lingkar khatulistiwa.
Awan putih seperti kapas berarak di pucuk-pucuk langit yang seolah diselimuti warna ganih. Ia mengancingkan blazernya. Udara sejuk ini ih hitam yang semula disangkanya masih kerabat gagak di Jawa--yang terbang melintas terdengar. Orang Korea percaya, bila burung itu bersuara, pertanda orang yang dirindukan akan tiba. Persis seperti orang-orang tua di Jawa dulu mengatakan akan ada tamu yang datang jika ada kupu-kupu yang tersasar masuk ke dalam rumah. Ah, Korea, Indonesia, sama saja.
Lia menarik napas dalam-dalam. Baru beberapa minggu lalu ia merasakan sengatan matahari musim panas di semenanjung Korea yang dirasakannya lebih panas daripada Jakarta. Sekarang ia sudah harus mengenakan baju kerja yang lebih tebal untuk menahan serbuan udara yang berubah menjadi lebih sejuk dan berangin.
Wanita muda itu melangkahkan kakinya menuju kampus tempatnya mengajar. Ini semester keduanya di Korea Selatan. Beberapa bulan lalu ketika pertama kali tiba di kota ini, ia langsung jatuh cinta begitu melihat kampus itu. Letaknya yang unik, diapit oleh perbukitan hijau yang mengelilinginya, memanjakan mata Lia yang terbiasa dengan datarnya pemandangan metropolitan seperti Jakarta yang dibangun tanpa perencanaan dan tatakota yang matang. Sebentar lagi pemandangan kehijauan di sekitar kampusnya itu akan berubah, seiring dengan tibanya musim gugur. Daun-daun mulai berubah warna, untuk kemudian rontok seiring udara yang semakin dingin. Kecuali pinus, tentunya, yang perkasa melintasi musim demi musim.
Musim gugur konon melekatkan orang pada kenangan yang menyertai perjalanannya. Begitu pula dengan Lia, sambil berjalan menuju kampus, kenangan demi kenangan mencuri muncul di benaknya.
Lia tiba di Busan, metropolitan kedua setelah Seoul, akhir Februari tahun ini, ketika musim dingin bersiap berangkat meninggalkan semenanjung Korea. Awalnya, Prof. Howard Jones, pembimbing tesis S-2-nya di salah satu satu universitas di Australia, yang menawarinya pekerjaan itu.
"Lia, saya punya teman di Busan, Korea, dari Peninsula University of Foreign Studies. Namanya Prof. Lim Chun-Do. Dulu kami pernah sama-sama riset di Indonesia dan Malaysia. Kebetulan kami memiliki minat yang sama, mengamati perkembangan Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia. Prof. Lim malah lulus S-2 dari Gajah Mada, bidangnya sama denganmu, ilmu bahasa, sebelum melanjutkan ke Amerika untuk mengambil gelar doktor. Sekarang ia menjadi Ketua Departemen Malay-Indonesia di universitas itu."
"Lalu, Prof?"
"Kami secara teratur terus berkirim-kiriman email. Ia cerita sedang cari dosen dari Indonesia, native speaker, untuk mengajar di tempatnya, minimal S-2. Saya langsung ingat kamu, Lia. Saya bilang sama dia, saya juga punya murid dari Indonesia, baru saja rampung menyelesaikan S-2. Saya pikir ini kesempatan bagus untukmu mencoba menjadi dosen tamu di sana."
"Mengapa saya, Prof?"
"Coba saja, kalau kamu bersedia, saya akan rekomendasikan kamu pada Prof. Lim. Saya tawarkan kesempatan ini kepadamu karena saya tahu potensimu, meskipun kamu terkadang bisa juga menjengkelkan karena keras kepala dan senang membantah," kata Howard Jones sambil tertawa keras.
"Ah, masak sih saya semenjengkelkan itu, Prof?"
Profesor Australia yang meskipun galak namun bisa bersikap hangat seperti seorang ayah itu, mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Matanya bersinar-sinar jenaka. Ia melanjutkan perkataannya, "Selain mengajar, kamu bisa tetap mengembangkan diri di sana, menjadi peneliti mandiri, atau bahkan menulis buku. Kamu kan pernah bilang sama saya ingin serius jadi peneliti ilmu sosial yang baik. Ini kesempatanmu sekarang. Sekalian carilah beasiswa, kalau mungkin, untuk studi lanjutan S3-mu di sana.Tentu hal semacam ini tidak mudah kamu lakukan di Indonesia, jika kamu memilih pulang sekarang-sekarang ini. Saya tahu kesulitan negaramu. Well, bagaimana? Kamu belum ingin buru-buru menikah, kan?"
Lia tertawa. "Ah, Prof ini. Bagaimana mau menikah, pacar saja saya belum punya."
"Masak sih, kamu kan punya 2B, beauty and brain. Behavior-mu, hahaha, juga not bad, meskipun saya merasa kadang-kadang kamu bisa membuat pria takut. Tapi urusanmulah itu. Bagaimana, kamu mau tidak?"
Tawaran itu menarik sekali. Namun, apakah ia akan sanggup melakoninya?
"Beri saya waktu untuk berpikir, Prof," kata Lia.
"Ya, jangan lama-lama, maksimal tiga hari. Beberapa hari lagi saya harus memberikan jawaban kepada Prof. Lim. Ia minta kabar secepatnya. Kalau kamu tidak bersedia, biar dia cari sendiri dosen tamu langsung dari Indonesia. Saya tidak akan merekomendasikan orang lain."
Waktu sependek itu digunakan Lia untuk mempertimbangkan tawaran itu baik-baik. Ia baru saja menyelesaikan S2-nya di Australia. Sempat ada pikiran untuk sekalian saja mencari beasiswa untuk studi S3-nya di negeri kanguru. Muncul juga dorongan cukup kuat untuk langsung kembali ke Indonesia, dan mungkin kembali ke almamater untuk menjadi dosen. Namun Lia sebelumnya sudah sempat merasakan, menjadi dosen di Indonesia, apa lagi dosen muda, dosen yunior, berarti juga harus siap berhadapan dengan birokrasi pendidikan yang menjemukan itu. Belum lagi mentalitas "pangreh praja" yang ternyata juga menghinggapi sebagian kalangan terdidik macam sikap senior-seniornya itu.
Lagi pula ia masih muda, baru 26 tahun, jalan 27. Ah, tawaran itu merupakan kesempatan emas untuk menempa kehidupannya kembali. Bukankah tinggal di negeri yang berbeda akan semakin mematangkan dirinya dan membuatnya lebih menghargai kemajemukan? Bahwa hidup yang sesungguhnya tidaklah terdiri dari warna tunggal, tapi berbagai warna yang menjelma menjadi pelangi kehidupan itu sendiri?
Dengan antusias akhirnya ia menerima tawaran itu. Dasar rezekinya sedang bagus, garis nasib tampaknya sudah menentukan demikian. Setelah melalui tahapan-tahapan seleksi, Lia ternyata diterima. Paling tidak sampai saat ini ia merasa pilihannya itu tidaklah salah.
Bulan-bulan pertama di negara asing selalu merupakan bulan-bulan penyesuaian. Ketika ia tiba akhir Februari lalu, musim dingin tengah bersiap angkat kaki, namun buatnya yang terbiasa dengan sengatan matahari Jakarta, tetap merupakan persoalan tersendiri.
"Tidak apa-apa Ibu Lia, nanti juga udara berangsur-angsur hangat. Lagi pula, Busan tetap lebih hangat dibanding Seoul," kata Lim Kyosunim (Profesor), panggilan Prof. Lim Chun-Do yang bertubuh pendek gemuk itu.
Wajahnya ramah dan matanya yang sipit seolah tenggelam dalam pipinya yang tembam dan kemerahan serta kacamata minusnya yang lebar. Sikapnya hangat dan bersahabat.
Lia kembali merasakan menemukan figur seorang bapak dari sikap Lim Kyosunim. Kecuali jika profesor yang potongannya mengingatkan pada sosok aktor Danny de Vito itu sedang banyak minum—kebiasaan yang sering dilakukan bersama koleganya atau dengan mahasiswa selepas kuliah.
Ah, kebiasaan minum orang Korea memang luar biasa. Bahkan untuk ukuran Lia yang sebenarnya juga tidak terlalu antiminuman beralkohol. Seolah minum menjadi pilihan, mekanisme yang efektif, untuk melupakan tekanan beratnya hidup dan pekerjaan di negeri semenanjung yang berambisi mengalahkan Jepang, seteru lamanya itu.
Dengan cepat Lia menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya itu. Juga dengan makanan Korea yang bagaimanapun tetaplah tidak terlalu asing untuk lidah Asianya. Kimchi, sejenis asinan yang hampir selalu ada setiap kali orang Korea makan, mula-mula dirasakannya sebagai teror di meja makan, karena rasanya yang aneh dan menyengat. Namun lama-lama ia pun bisa menyukainya.
Sesekali ia juga mampu membuat mahasiswanya bertepuk tangan setiap kali mereka makan bersama, karena di hadapan mereka Lia berani menunjukkan ia pun mampu menenggak soju (wiski) beberapa seloki. Meskipun kesudahannya sudah bisa ditebak: begitu sampai di aparte, isi perutnya akan keluar semua. Muntah. Tidak apa, ini pengorbanan untuk mendekati dan merebut hati mereka, meskipun ia juga tidak sungkan untuk memarahi mahasiswanya jika mereka malas atau membuat ribut di kelas.
Di kelas, Lia tetaplah kyosu, dosen yang harus dihormati. Di luar, bolehlah para mahasiswa itu menganggapnya onni atau nunna, kakak wanita yang galak, tapi tetap dekat dengan mereka. Maklum karena terkadang Lia harus bekerja ekstrakeras memacu motivasi belajar mereka yang justru menurun setelah menjadi mahasiswa. Mungkin energi mereka sudah habis semasa menjadi pelajar di sekolah dasar dan sekolah menengah yang begitu penuh dengan tekanan dan kewajiban. Inilah risiko dari ambisi bangsa Korea yang begitu besar untuk mengejar Jepang, di samping setiap orang memang harus bekerja keras karena Korea miskin sumber daya alam.
Penulis: Rahmat H. Cahyono


