“Keunikan dan kekhasan rempah Indonesia dipadu dengan teknik memasak yang diadopsi dari hasil interaksi budaya menciptakan kreasi unik pada semur,” tutur chef Ragil. Menurut Dr. Phil. Lily Tjahjandari, Manajer Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, semur merupakan sebuah kearifan kuliner lokal yang saat disantap akan ‘mengeluarkan’ memori akan keluarga dan kehangatan suasana rumah, melalui cita rasanya. “Rasanya layak jika warisan kuliner ini disahkan, meski untuk mengukur wacana tersebut perlu dilakukan survei untuk mengetahui seberapa sering masyarakat Indonesia mengolah masakan semur,” sambungnya.Berangkat dari keyakinan ini, tercetuslah ide untuk menetapkan semur sebagai warisan budaya tak benda (warisan budaya atau kelokalan yang tidak dapat disentuh) secara resmi kepada UNESCO. Saat ini penelitian-penelitian, diskusi, dan seminar yang melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan, seperti Kementerian Budaya dan Pariwisata, masih terus dilakukan. Apakah semur akan berhasil diakui UNESCO sebagai warisan kuliner Indonesia, seperti halnya batik? Kita tunggu saja!
Felicia
Mau bikin semur sendiri? Ini resepnya!


