Travel
Semburat Warna Bago dan Golden Rock

13 Feb 2015


Sekilas kota yang tampak sibuk, kering, panas, dan berdebu di musim panas ini tidak terlihat seperti kota besar yang pernah menjadi pusat Kerajaan Mon di abad 14-16. Namun, keberadaan sejumlah situs keagamaan dan sisa kerajaan masa lampau menjadikan Bago salah satu destinasi populer untuk day trip dari Yangon di Myanmar. Dari sana saya, Susan Poskitt, juga mengunjungi lokasi ziarah umat Buddha di Gunung Kyaiktiyo dan melihat pagoda emas di atas batu yang menantang gravitasi.


Bercakap-cakap di Kereta
Saat ini saya sedang berada di salah satu gerbong kereta api di stasiun kereta api Yangon. Tujuan saya adalah Bago, sebuah kota kecil di utara Yangon yang berjarak kurang lebih 2 jam perjalanan kereta. Jaraknya tidak terlalu jauh, namun kereta api di Myanmar jalannya sangat lambat, jadi memakan waktu lebih lama daripada perjalanan bus atau mobil. Namun, justru itu yang membuat saya tertarik untuk mencoba perjalanan kereta api di Myanmar.

Kereta api di Myanmar kebanyakan kereta tua, peninggalan masa pemerintahan Inggris. Kursi-kursinya masih banyak berupa bangku kayu yang keras dan tidak dilapisi sama sekali. Susunannya berhadap-hadapan antara 2 kursi panjang yang masing-masing kapasitasnya untuk 2 orang. Kelas yang paling murah yang saya naiki ini tidak memiliki kipas angin sama sekali, hanya mengandalkan jendela-jendela yang terbuka lebar.
Sebelum kereta berangkat, gerbong dipenuhi oleh penumpang yang bercampur dengan para pedagang asongan. Biasanya mereka duduk di kursi-kursi kosong sampai ada penumpang yang mengaku itu adalah tempat duduknya. Jangan salah, walaupun terlihat sangat kuno, pengoperasian kereta api tersebut masih mengikuti sistem yang dulunya diterapkan pada masa Inggris, yakni tiket yang diberikan sudah ada nomor kursinya. Jadi, walaupun terlihat agak semrawut, asalkan sudah dapat tiket pasti akan kebagian tempat duduk.

Setelah beberapa kalimat sederhana untuk berinteraksi, beberapa wanita muda penjual asongan mulai terlihat relaks dan berkerumun di sekitar saya. “What’s your name?” Rupanya mereka mengerti beberapa frase bahasa Inggris yang sederhana. Sempat bertukar nama, namun sampai sekarang saya tidak pernah ingat dan tahu bagaimana menuliskan nama mereka karena sangat sulit diucapkan. Entah benar atau tidak, salah satu dari mereka namanya terdengar seperti ‘Tusalam’. Saya pun mengambil kesempatan itu untuk bertanya-tanya sedikit tentang beberapa frase sederhana bahasa Myanmar.
Dengan membuka buku panduan saya yang berisi sedikit daftar  kata sederhana yang berguna, saya menunjuk kata-kata dalam karakter bahasa Myanmar dan meminta mereka melafalkannya. Min ga la ba (salam/halo), jai zu ding ba de (terima kasih) dan te tawng (seribu) berhasil saya ingat sampai sekarang. Mereka tertawa terbahak-bahak  tiap kali saya kesulitan mengulang kata-kata yang mereka ucapkan. Sungguh sulit pelafalan bahasa Myanmar.

Akhirnya terdengarlah bunyi peluit tanda kereta akan segera berangkat. Para pedagang asongan tersebut tidak serta-merta panik dan berlarian turun dari kereta. Mereka masih terlihat santai duduk dan berdiri di koridor. Rupanya benar, laju kereta api tersebut sangat pelan. Beberapa menit kemudian barulah para wanita  pedagang asongan itu turun sambil melambaikan tangannya kepada saya. Sampai jumpa lagi di Yangon!
Gerbong kereta terguncang-guncang ke kiri dan ke kanan saat kereta melaju meninggalkan hiruk pihuk Kota Yangon. Hampir sama seperti di Indonesia, kereta melewati daerah pinggiran Kota Yangon di mana banyak terlihat permukiman kumuh di dekat rel. Tak lama kemudian barulah pemandangan berubah menjadi sawah-sawah hijau dan padang rumput yang kosong.

Petugas kereta api didampingi oleh beberapa polisi mendatangi  tiap penumpang dan mengecek tiket. Kadang-kadang ada beberapa petugas keamanan yang patroli di gerbong. Mungkin mereka ada giliran jaganya karena terlihat ada yang tidur di bagian depan gerbong. Entah karena panas atau memang karena sedang tidak bertugas, petugas yang tidur membuka seragamnya dan menggantungkannya di dekat jendela. Mereka tidur dengan mengenakan kaus dalam berwarna putih dan celana panjangnya saja.
Barulah ketika kereta hampir sampai di suatu tujuan yang memerlukan pengamanan besar, mereka bangun dan bertugas dengan mengenakan seragam lengkap dan senjatanya. Beberapa menit sebelum kereta berhenti di Stasiun Bago, mereka sudah memberi tanda supaya saya bersiap-siap di pintu keluar. Begitu kereta melambatkan kecepatannya memasuki area stasiun, petugas keamanan melompat ke platform untuk langsung berjaga-jaga.
 
Sambil bergegas turun, saya pun baru menyadari mengapa saya diperintahkan untuk bergerak cepat. Rupanya para calon penumpang yang sudah menunggu di Stasiun Bago terlihat sangat tergesa-gesa menaiki kereta yang baru datang itu. Mungkin karena kereta berhenti hanya 2-3 menit saja, sedangkan barang bawaan mereka terlihat banyak. Beberapa dari mereka terlihat meminta bantuan kepada penumpang yang ada di dalam kereta untuk mengambil barang-barang bawaan mereka terlebih dahulu lewat jendela. Baru setelah itu mereka bergegas naik ke atas kereta. Tak lama kemudian kereta api pun melanjutkan perjalanannya lagi.


Raksasa di Kota Kecil
Begitu keluar dari Stasiun Bago, segerombol  calo langsung menyerbu para turis. Seorang pemuda berusia 30-an mendatangi saya sambil tersenyum ramah dan menanyakan apakah saya butuh hotel. Dia meyakinkan saya bahwa dia akan membawa saya ke sebuah hotel yang bagus dan murah serta tak jauh dari stasiun.

Lima menit berjalan kaki, saya pun tiba di sebuah hotel di pinggir jalan utama. Namun, karena kurang cocok dengan kamarnya yang agak berisik karena berada di pinggir jalan, saya meminta rekomendasi lain. Seorang pria berkulit gelap berbadan besar memerintahkan pemuda itu untuk mengantar saya dengan menggunakan sepeda motor ke hotel lain. Belakangan diketahui bahwa pria tersebut bernama Mr. Yee, seorang calo tiket bus yang sudah ‘berkuasa’ selama bertahun-tahun di Kota Bago.

Pemuda calo tersebut mengantar saya ke sebuah hotel lain yang agak jauh dari pusat kota. Katanya di Myanmar tidak semua penginapan boleh menampung turis. Hanya penginapan yang sudah mengantungi izin dari pemerintah yang boleh menerima tamu asing. Entah benar atau tidak, situasi tersebut menciptakan persaingan yang kurang ketat sehingga terkadang kualitas yang ditawarkan oleh penginapan tidak sebanding dengan harganya.

Karena saya merasa bahwa pemuda itu adalah seorang yang sopan dan baik, saya memutuskan untuk keliling Bago dengan menggunakan jasa motornya. “Jangan khawatir, saya sudah tahu semua yang ada di buku panduan kamu. Saya akan membawa kamu ke semua tempat itu.” janji pemuda yang kemudian diketahu bernama Zou Ma Leih itu. Dari 10.000 kyat yang diminta akhirnya kami sepakat dengan harga 6.000 kyat (sekitar Rp70.000).

Destinasi pertama kami adalah melihat para biarawan makan di sebuah biara. Entah kenapa aktivitas ini bisa terkenal di Kota Bago. Namun yang pasti, saat kami ke sana sudah banyak turis yang berkumpul. Kebanyakan terlihat seperti orang Thailand yang beragama Buddha yang sekaligus datang untuk minta didoakan oleh biarawan yang mereka kenal.

Dua buah panci kukusan nasi berukuran raksasa ada di depan sebuah pintu aula. Beberapa biarawan muda bertugas membagikan nasi dan sayuran. Di dalam aula ratusan biarawan duduk bersila di lantai dalam kelompok-kelompok kecil mengelilingi meja bundar. Entah bagaimana perasaan para biarawan tersebut  tiap hari harus makan sambil ditonton oleh pengunjung. Menurut Zou Ma Leih, para biarawan cuma boleh makan 1 kali dalam sehari.  Itulah sebabnya, jam makan para biarawan dianggap waktu yang istimewa.

Dari biara, barulah kami memulai temple-hopping dengan mengunjungi beberapa kuil yang terkenal di kota itu. Sebenarnya ada banyak sekali kuil di Bago, namun kuil-kuil yang kami kunjungi ini memiliki keunikan tersendiri. Yang paling terkenal adalah Shwethalyaung Reclining Buddha, yaitu patung Buddha tidur sepanjang 55 meter di dalam ruangan. Tak jauh dari sana ada juga patung Buddha tidur yang baru dibangun tahun 2002 di sebuah platform terbuka. Patung dengan nama Mya Tha Lyaung Buddha ini memiliki ukuran yang lebih besar dengan panjang lebih dari 80 meter.

Walaupun Bago adalah kota  kecil, banyak objek  raksasa di sana. Patung lainnya yang bisa membuat pengunjung berdecak kagum adalah 4 patung Buddha yang duduk bersila dengan posisi saling membelakangi. Tinggi masing-masing patung tersebut adalah 27 meter dan diletakkan di lapangan terbuka di dalam area Kyaikpun Pagoda. 
Dari sana kami mengunjungi Snake Monastery, tempat seekor ular piton raksasa, yang konon  berasal dari penjelmaan seorang kepala biara. Sambil mengucapkan doa, petugas biara meletakkan lembaran-lembaran uang kertas yang diberikan oleh para pengunjung di atas tubuh ular yang saat itu sedang tidur pulas. Diperkirakan saat ini ular itu berumur lebih dari 100 tahun dan memiliki panjang lebih dari 5 meter.


Mengejar Emas di Atas Bukit
Pernah melihat foto objek wisata dengan gambar sebongkah batu emas yang dihiasi oleh pagoda dengan posisi miring di atas sebuah bukit? Itu adalah Golden Rock yang berlokasi di atas Bukit Kyaiktiyo dengan ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Jaraknya kurang lebih 210 km dari Kota Yangon. Namun, karena saya sudah berada di Bago, perjalanan saya tinggal 2 jam saja dengan bus.

Bus dari Bago berhenti di Kinpun, desa terdekat untuk menuju Golden Rock. Dari sana ada 2 pilihan, berjalan kaki menanjak sejauh 11 km atau naik truk. Hanya dengan 2.500 kyat (Rp30.000) per orang, sekitar 70 orang sekaligus dapat terangkut untuk menuju ke atas bukit. Truk yang digunakan sengaja dimodifikasi supaya bisa menampung banyak penumpang. Bagian bak belakang berisi 10 baris kursi panjang yang sangat berdempetan jaraknya sehingga bagi yang kakinya panjang mungkin agak kurang nyaman.

Satu truk bisa terisi penuh hanya dalam waktu kurang dari 3 menit. Entah apakah sedang hari libur atau memang biasanya selalu ramai, saat itu banyak sekali turis lokal yang akan menuju ke Golden Rock. Begitu ada 1 truk yang dinyatakan akan berangkat, semua orang berlarian dengan panik dan saling sikut untuk berjuang mendapatkan tempat duduk.
Saya beruntung karena masih diperbolehkan berdiri di bagian belakang truk. Sambil berpegangan tangan erat-erat ke besi sandaran kursi di depan, tubuh saya terbanting ke kiri ke kanan saat truk melaju kencang melewati jalanan curam dan berkelok-kelok. Benar-benar seperti sedang naik wahana di taman rekreasi.

Empat puluh lima menit kemudian, truk tiba di stasiun pengangkutan penumpang. Belum selesai penumpang turun, truk sudah langsung diserbu oleh puluhan penumpang yang mau naik truk untuk turun gunung. Lepas dari kerumunan itu, saya baru bisa bernapas lega sambil berjalan di jalan setapak menuju gerbang Golden Rock Pagoda.
Jalanan beraspal rapi menyambut pengunjung, diramaikan dengan warung-warung dan toko-toko suvenir di kiri kanannya. Bagi turis asing, diwajibkan untuk lapor diri di sebuah kantor informasi di mana kami diminta untuk mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk sebesar 6.000 kyat.

Dua buah patung raksasa menyerupai singa berdiri gagah di pintu gerbang. Dari titik itu semua pengunjung diwajibkan berjalan tanpa mengenakan alas kaki. Ada yang meninggalkan alas kakinya begitu saja di tangga, ada yang menitipkan di loker dan ada juga yang membawa dengan memasukkannya ke dalam tas.
Dari gerbang tersebut pengunjung masih harus berjalan lagi melalui plaza terbuka dengan bebatuan marmer yang sangat panas saat siang hari. Beberapa pengunjung terlihat berjingkat-jingkat ataupun lari dengan cepat saat melewati daerah-daerah dengan bebatuan yang panas.

Tidak butuh waktu lama hingga saya akhirnya bisa melihat sendiri sosok megah Golden Rock. Sebongkah batu berwarna emas dengan hiasan pagoda di atasnya tampak dikelilingi oleh para pendoa. Batunya sendiri memiliki keliling 15 meter dan tinggi 7,6 meter, sedangkan pagoda di atasnya memiliki tinggi 7,3 meter. Warna emas di sekeliling batu itu disebabkan oleh kertas emas yang ditempelkan oleh para pengunjung setelah berdoa.

Yang paling mengesankan adalah posisi batunya yang hanya sebagian sisinya yang menempel pada ujung sisi bukit, sisanya bergantung menantang gravitasi tanpa ada penahan apa pun di bawahnya. Menurut legenda, Golden Rock dibangun dengan cara ditempelkan menggunakan sehelai rambut Buddha.

Saya pun berjalan mengelilingi batu emas itu. Ada 2 platform di mana pengunjung bisa menikmati keajaiban batu yang terlihat seakan-akan kapan pun bisa terguling itu, dari atas dan dari bawah batu. Sesuai dengan budaya yang berlaku di Myanmar, hanya pria yang boleh memasuki daerah sakral di sekitar batu dan menempelkan kertas emas.  Para wanita hanya boleh berdoa di luar pagar.

Wangi dupa tercium kuat di area-area sembahyang. Selain pemandangan Golden Rock itu sendiri, pemandangan alam di sekitar puncak bukit itu juga layak untuk dinikmati. Jika memiliki waktu yang lebih santai, mungkin bisa menginap satu malam di hotel-hotel yang ada di sekitar Golden Rock supaya bisa menikmati sunrise dan sunset yang pastinya sangat indah. 


TIP
•  Supaya praktis, 1.000 kyat sering kali disamakan nilainya dengan 1 USD. Tapi, pastikan dulu nilai tukar yang berlaku agar tidak rugi saat harus memilih mata uang pembayarannya.
•  Pembayaran dengan USD harus menggunakan lembaran uang kertas yang masih baru (tidak boleh ada lipatan, kotor, ataupun sobek).
•  Pastikan mengenakan pakaian yang sopan saat mengunjungi kuil. Tidak boleh mengenakan celana pendek di atas lutut dan atasan terbuka.
•  Jika berencana mengunjungi banyak kuil dalam satu hari, lebih baik mengenakan sandal dibandingkan sepatu supaya lebih mudah melepasnya.
• Jika berencana turun dari Golden Rock di hari yang sama, jangan sampai melewatkan truk yang terakhir (sekitar pukul 6 sore). Pastikan dengan bertanya kepada sopir atau petugas penagih ongkos kapan truk yang terakhir akan turun. Jika sampai ketinggalan truk, kita harus jalan kaki sejauh 11 km ke Desa Kinpun.  (f)




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?