Travel
Semburat Senja di Key West

17 Jul 2015


Setelah menghabiskan 3 hari di Orlando, puas bermain di Universal Studio dan Disneyland, serta menelusuri Cocoa Beach, saya, Leonardo Slatter, mampir ke Key West. Tempat di Amerika Serikat yang berbatasan langsung dengan Kuba ini adalah pulau kecil nan cantik tempat asal key lime pie yang sempat menjadi tempat tinggal penulis kontemporer kenamaan AS, Ernest Hemingway. Selain pemandangan menakjubkan, pulau ini juga menyimpan sejarah yang bisa ditelusuri hingga ratusan tahun ke belakang.

Kuliner Kuba & Bahama
Key West yang merupakan pulau terkecil di utara Florida, dihuni tidak lebih dari 25.478 orang. Pulau ini mulanya dikenal dengan sebutan Cayo Hueso (dibaca Kie-O Hwae-So) dalam bahasa Spanyol atau Small Island of Bones. Dinamakan demikian, karena pada saat pulau ini ditemukan, di sana terdapat banyak tulang manusia. Menurut penduduk setempat, Key West adalah pulau pemakaman suku Indian yang pertama kali tinggal di sana. Untungnya, kesan angker sama sekali tidak terasa di sana.

    Terletak sekitar 724 kilometer dari Orlando, Key West memang terasa sangat jauh. Perjalanan memakan waktu sekitar 6 - 8 jam menggunakan bus atau kendaraan pribadi melalui jalur darat. Namun, menurut saya, pemandangan pesisir pantai di sepanjang perjalanan membuat  perjuangan untuk mencapai pulau ini setimpal. Mata saya dimanjakan oleh keindahan laut berwarna biru dengan gradasi toska yang dihiasi pepohonan hijau ketika melewati kawasan Key Largo dan Islamorada.

Setibanya di pusat Kota Key West, bus saya berhenti di bandara yang letaknya cukup jauh dari hotel jika berjalan kaki. Satu-satunya akses adalah taksi berwarna pink. Saya pun mengajak beberapa turis lain yang baru saya kenal di bus untuk menggunakan taksi yang sama agar menghemat pengeluaran dari bandara ke hotel. Beruntung, saya juga bertemu dengan penduduk lokal yang baik dan memberikan rekomendasi tempat makan yang sangat menarik, yaitu Blue Heaven di Thomas Street.

    Restoran lokal ini tidak banyak diketahui oleh para turis, mengingat lokasinya tidak berada di jalan utama Key West. Namun, bangunan sederhana berwarna biru ini sangat berbeda dari restoran lain yang saya temui di sepanjang jalan utama.
Kesan pertama biasa saja. Namun, ketika memasuki koridor kecil yang kemudian membawa saya ke halaman belakang restoran, barulah saya melihat keistimewaannya. Restoran ini didekorasi cantik seperti taman di pinggir pantai.

    Selain aneka seafood segar dari hasil laut, makanan di Key West banyak dipengaruhi oleh Kuba karena letaknya berdekatan dengan Havana, misalnya saja black beans, yellow rice, roast chicken, dan unripe banana. Saya sempat mencicipi conch fritters, camilan Kepulauan Bahama yang dibawa ke Key West. Pada dasarnya, conch fritters ini adalah bakwan kerang.

Saat disantap dengan Bahamian-style sauce yang terbuat dari jeruk nipis, lada, mayones, sambal, saus tomat dan garam, rasanya sangat gurih dan renyah. Saya juga tidak merasakan bau amis dari kerang tersebut, malah saya jadi sedikit ketagihan.

    Santapan utama saya siang itu adalah loaded black beans bowl. Sesuai namanya, mangkuk ini penuh dengan aneka bahan, mulai dari black beans, nasi, selada romaine, coleslaw, salsa, sour cream, keju cheddar, avokad, jalapeno, dan roti jagung.

Usai makan siang, saya bergegas mencari toko dessert terdekat. Pasalnya, saya sudah tidak sabar untuk mencicipi key lime pie, hidangan penutup khas Key West yang tersohor di dunia. Berbeda dari jenis lime yang pada umumnya hijau, lime yang tumbuh di daerah Florida Keys ini berwarna kuning saat matang. Rasanya pun cenderung lebih kecut.
Meski pie ini mudah ditemukan di toko-toko kue di mana saja, bahkan di Indonesia, rasanya saya wajib mencoba langsung di kampung halamannya. Pilihan saya akhirnya jatuh pada toko Kermit’s yang lokasinya tidak jauh dari Blue Heaven. Meringue yang asam, berpadu dengan crust yang renyah dan cream filling yang lembut, begitu segar untuk dinikmati di siang hari yang panas.

Pasar Kerajinan dan Hiburan Malam
Dikenal sebagai salah satu tujuan singgah bagi para wisatawan kapal pesiar, Key West adalah kota tua yang ditata dengan cantik, rapi, dan romantis. Di sini polusi udara minim karena banyak diembus angin laut.

Bagi saya, mengunjungi pasar di tiap kota tua adalah agenda wajib. Selain menambah wawasan mengenai produk lokal daerah tersebut, saya juga sangat suka dengan suasananya yang bersahabat. Siang itu, saya menghabiskan waktu untuk menelusuri jalan utama yaitu Duval Street.

Duval Street ini merupakan satu-satunya pusat hiburan di Key West. Deretan toko, restoran, dan tempat hiburan malam berpusat di jalan tersebut. Kota ini mengingatkan saya pada kawasan Legian di Bali. Bedanya, kawasan ini lebih mudah dijangkau dengan berjalan kaki tanpa memerlukan kendaraan.

    Duval Village dan Mallory Square merupakan dua pusat belanja yang menjual aneka produk rumah tangga, pakaian, serta oleh-oleh seperti magnet, gantungan kunci dan ragam cendera mata yang terbuat dari spons, kerang, atau serabut dan batok kelapa. Harganya antara   4,99 - 9,99 dolar AS (sekitar Rp60.000-Rp120.000), yang menurut saya masih cukup terjangkau mengingat tingkat kesulitan dan kreativitasnya cukup tinggi. Selain itu, belanja di pasar tradisional di Amerika tidak bisa ditawar dan belum termasuk pajak.

    Malamnya, saya juga menyempatkan diri untuk menikmati hiburan malam di Sloppy Joe’s, bar tertua yang berdiri sejak tahun 1933 dan sangat terkenal di AS, khususnya di Key West. Dulunya nama tempat ini adalah Russell’s Bar, dari nama pemiliknya, Joe Russell. Namun, pelanggan setia mereka, Ernest Hemingway, menyarankan supaya namanya diganti menjadi Sloppy Joe’s, karena tempat itu selalu saja becek dan berantakan akibat ketumpahan minuman alkohol dan tetesan air dari seafood beku yang dibawa ke sana. 

Sambil menikmati segelas bir dingin, saya memandang sekeliling ruangan, bercengkerama dengan penduduk lokal sambil ditemani musik Kuba dan lagu-lagu classic rock ‘n roll yang membuat saya lupa waktu. Tempat ini memang begitu menghipnotis. Tak heran kalau Hemingway dulu banyak menghabiskan waktunya di sana, saat ia sedang ‘buntu’ dan tidak bisa menulis.



Benteng di Tengah ‘Surga’

Keesokan harinya, matahari bersinar begitu panas. Saya pun meneruskan eksplorasi ke Fort Zachary Taylor Historic State Park, landmark dari sejarah militer AS. Di sana terdapat salah satu dari serangkaian benteng yang dibangun tahun 1800-an untuk mengenang Fort Zachary Taylor, seorang anggota militer AS yang memiliki peran penting dalam Perang Sipil dan Perang Spanyol-Amerika.

    Saya menelusuri seluk-beluk bangunan yang pernah dihuni oleh 450 tentara itu. Bangunan yang terbuat dari batu bata berwarna cokelat kemerahan ini terlihat sangat tua namun masih sangat kokoh. Saya pun menelusuri lorong demi lorong dan melihat berbagai ruangan yang sempat digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata, serta deretan meriam yang tersusun rapi. Benteng ini mengingatkan saya pada bangunan kota tua yang ada di Jakarta, namun suasananya jauh lebih menyeramkan.

Fort Zachary Park memiliki kawasan pantai yang menjadi favorit di Key West, terutama karena pasirnya yang sangat putih dan halus. Di sana pengunjung juga bisa menyejukkan diri dari panas matahari dengan berenang, snorkeling, atau memancing. Lokasi ini juga sangat populer untuk trekking di jalur yang pendek, bersepeda, atau sekadar piknik bersama keluarga.
   


Berebut Sunset

Bagi yang senang berburu foto matahari terbenam, katanya Sunset Pier adalah tempat yang paling sempurna. Di sana, matahari terbenam dengan begitu spektakuler, memancarkan gradasi warna merah, biru, dan oranye.

    Waktu menunjukkan pukul 5:30 sore kala itu, saya pikir terlalu dini untuk menunggu sunset. Tapi, setibanya di sana, saya sangat terkejut melihat lautan manusia. Rupanya, banyak orang berbondong-bondong mencari tempat paling strategis untuk menikmati senja. Saya pun berjalan dan mencoba mencari beberapa kafe yang terdapat di pinggir pantai, tapi ternyata semuanya sudah penuh.

    Saya jadi bertanya-tanya, seberapa bagusnya, sih, pemandangan sunset di sini sampai-sampai semua orang berlomba-lomba untuk mencari spot terbaik? Karena tidak kunjung mendapatkan tempat yang nyaman untuk duduk, saya menyerah saja dan memilih  menelusuri jalan-jalan setapak sambil menikmati angin sepoi-sepoi di Sunset Pier.

    Makin jauh kaki saya melangkah, makin banyak hal menarik yang saya temukan. Beragam booth makanan, minuman, lukisan, merchandise khas Key West saya temukan di sana. Satu jam sebelum sunset, para turis bisa mengisi waktu sambil menikmati atraksi akrobat atau sulap yang memukau. Rasanya, pulau ini memancarkan suasana liburan sepanjang tahun. Semua orang tampak menikmati hidup santai, seakan tidak dikejar-kejar sesuatu, dan tidak punya beban pikiran.

Makin mendekati matahari terbenam, saya pun  makin paham mengapa semua orang begitu niat untuk pergi dan nongkrong di Sunset Pier. Desiran ombak, lenguhan kapal berlabuh, kicauan burung camar, dan  embusan angin bertiup seakan melepas kepergian matahari, yang memancarkan keindahan warna biru kemerahan yang belum pernah saya lihat sebelumnya.


Bertamu ke Rumah Hemingway
Pulau bersejarah ini juga meninggalkan satu lokasi wisata yang wajib dikunjungi yaitu The Ermest Hemingway Home & Museum. Tahun 1931, penulis dan wartawan legendaris itu pindah dari Paris ke Key West bersama istri keduanya, Pauline Pfeiffer. Hingga tahun 1940, saat Hemingway pindah ke Kuba, rumah itu ditempatinya bersama istri dan kedua putranya, Patrick dan Gregory.

Ketika Hemingway akhirnya meninggal tahun 1961, anak-anaknya sepakat untuk menjual rumah tersebut. Pemiliknya, Bernice Dixon, menjadikan rumah bergaya kolonial Spanyol tersebut  sebagai museum yang dibuka untuk umum dan bisa disewa untuk acara pernikahan hingga sekarang.

Terletak di 907 Whitehead Street, properti rumah tinggal paling besar di Key West ini mudah dikenali. Bagian luar bangunannya didominasi warna putih dan kuning,   dikelilingi kebun dan pohon-pohon yang rimbun. Sedangkan bagian dalamnya, berisi aneka perabot yang dibawa Pauline dari Paris, serta koleksi pribadi Hemingway yang memang menggemari barang-barang antik Spanyol dari abad ke-17 dan 18.

Salah satu fitur paling spektakuler dari rumah ini adalah kolam renang. Kalau dilihat sekarang, kolam renang berukuran sekitar 7,2 x 18,3 meter persegi ini terlihat besar, tapi biasa saja. Namun dulu, pembuatannya menyebabkan Hemingway harus mengeluarkan biaya hingga 20.000 dolar AS (Rp264 juta), nominal yang luar biasa besar pada tahun 1937-1938. Pasalnya, mereka harus menggali tanah berbatu koral sedalam 1,5-3 meter. Pada waktu itu, kolam renang pribadi juga masih dianggap amat sangat mewah.

    Yang tak kalah menarik dari rumah ini adalah 40-50 kucing gemuk yang berkeliaran bebas di sana. Bukan sembarang kucing, melainkan kucing jenis polydactyl yang memiliki 6 jari kaki (kucing biasa memiliki 5 jari di kaki depan, dan 4 jari di kaki belakang). Hewan peliharaan kesayangan Hemingway ini begitu menggemaskan dan terlihat seperti memakai kaus kaki. Ketika saya ke sana, beberapa ekor kucing gendut tampak sedang bermalas-malasan di beranda, tidak memedulikan pengunjung yang berusaha untuk mendapatkan perhatian mereka.


TIP

Berkeliling Key West hanya membutuhkan waktu 2 hari. Tapi, jika ingin mencoba snorkeling dan atau naik kapal, 4 hari 3 malam adalah waktu yang cukup ideal.
Key West bisa ditempuh dengan pesawat selama 2 jam dari Orlando. Tapi, naik bus tentunya lebih murah, kursinya pun nyaman dan tersedia wi-fi.

Jika penumpangnya lebih dari dua orang, taksi dari bandara Key West dari atau ke dalam kota menggunakan tarif flat 9 dolar AS (Rp119.000) per orang. Bila penumpangnya hanya satu orang, tarif yang dikenakan sebesar 17 dolar AS (Rp225.000).

Dengan berjalan kaki kita dapat mengeliling semua lokasi di Key West. Namun bila ingin berpergian ke pulau kecil lainnya, harus menyewa kendaraan pribadi karena tidak ada transportasi umum.

Sebagain besar hotel menjual tiket untuk seperti snorkeling, diving, dan atau naik kapal glass bottom dengan harga lebih murah, yaitu sekitar 65-75 dolar AS (Rp860.000-Rp990.000). Di tempatnya, tiket biasanya dijual dengan harga di atas 150 dolar AS (Rp1,9 juta).

Harga hostel paling mural di Key West adalah 60 dolar AS (Rp792.000). Seashell Motel atau Wiker Guesthouse cocok untuk solo traveler karena suasananya sangat kekeluargaan.

Makanan utama di Key West tergolong mahal, 10-18 dolar AS (Rp132.000-Rp237.000), sedangkan untuk hidangan penutup seperti key lime pie harganya 7 dolar AS (Rp92.000) per potong.(f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?