Fiction
Selendang Penari (2)

30 Aug 2012

DEMIKIANLAH, KAU INGAT DENGAN bahagia proses pinangan itu. Sebuah pinangan sederhana di bawah rindang pohon sawo kecik, dilengkapi manisnya es kelapa muda.
   
Ibu memelukmu dengan bahagia saat kau menuturkan pinangan itu. Matanya berkaca-kaca serupa cahaya kristal saat menatapmu. Sungguh kau tahu keharuan yang seolah menggenangi Ibu, tidak hanya sudut mata, melainkan seluruh hatinya.
    “Pohon sawo kecik dan es kelapa muda yang manis, semuanya adalah perlambang kebaikan,” kata Ibu kemudian. Digenggamnya tanganmu lunak nan lembut.
    “Semoga akan menjadi pertanda yang membawa hal-hal positif dalam kehidupan kalian berdua nanti.”
    “Amin,” katamu.
    “Kau tahu apa arti nama pohon itu? Berasal dari kata sarwo becik, bermakna segala sesuatunya serba baik. Buahnya kecil, langsat, legit dan manis. Banyak ditanam di pelataran dan kebun keraton, karena dipercaya pohon itu akan membawa berkah kebaikan bagi segala sesuatu sesuai namanya. Semoga berkah yang sama akan terkarunia bagimu juga, Nak.”
    “Ya, Ibu.”
    “Dan, es kelapa muda bersirop manis itu, pastilah semacam berkah tambahan untukmu. Kelapa muda membawa kesegaran bagi peminumnya, begitu pulalah hidup perkawinan kalian nanti, segar dan manis senantiasa. Buah kelapa makin tua justru makin berminyak, berarti makin berkualitas, demikian juga kebersamaan kalian nanti, makin lama hendaknya akan  makin berharga,” demikian Ibu berkata serupa permohonan dan harapan yang tulus.
     Dan, di sinilah kau berada sekarang ini. Mempersiapkan segala sesuatunya menjelang hari bahagia itu.
    “Ayo, kembali pada daftar kita, masihkah ada yang belum siap?” katamu kemudian, berusaha kembali berkonsentrasi pada rancangan perjamuan pernikahanmu.
    “Semua sudah beres. Sudah terdelegasikan pada panitia terpilih. Hanya tersisa satu hal yang harus kita lakukan secara pribadi.”
    “Apakah itu?’
    “Pengakuan dosa. Ibu menyarankan supaya kita melakukan ibadah pengakuan dosa terlebih dahulu, paling tidak satu bulan menjelang hari H.”
    Kau terdiam tiba-tiba. Rasa dingin menjalarimu seketika, bermula dari telapak kakimu yang menjejak lantai tanpa alas.
    “Sebuah usul yang baik kurasa,” kekasihmu melanjutkan kalimatnya. “Bukankah kita akan menjalani hidup yang seolah baru? Pasti akan lebih baik bila terjalani semua itu dengan diri yang baru juga, yang telah terlepas dari beban dosa masa lalu.”
    Seketika itu juga kau kehilangan gairahmu. Semangatmu menyurut, seolah kau tergiring pada sebuah sudut yang tak kau kehendaki. Sesuatu di sudut itu, telah sekian lama hendak kau enyahkan dari ingatanmu. Meski sejauh ini upayamu sia-sia belaka.
    “Romo mengatakan kita bisa melakukannya bersamaan, pada bilik yang berbeda.”
“Tidak, akan kupilih hariku sendiri,” tolakmu dengan segera. Sembari berusaha menyamarkan gelombang perasaanmu.
“Baiklah.”
Kekasihmu setuju tanpa prasangka. Barangkali oleh kepandaianmu menyamarkan apa yang sedang terjadi di dalam dirimu.
“Oya, aku ingin mengenalkanmu pada seseorang yang penting dalam hidup keluarga besar kami.”
“Siapa?” kau bertanya.
“Seorang bibi yang merantau sejak lama. Kini dia datang dari jauh khusus untuk perjamuan pernikahan kita.”
“Belum pernah kau ceritakan.”
“Pada suatu ketika di masa lalu, beliau pernah menjadi juru selamat bagi kami. Ayah meninggal mendadak ketika itu, sementara Ibu hanya ibu rumah tangga biasa tanpa karier. Bibilah yang menghidupi kami bertahun-tahun hingga Ibu mampu mandiri. Bibi merantau jauh sesudah itu, berpindah-pindah kota.”
“Berpindah kota? Alangkah dinamisnya kehidupan serupa itu. Menemukan berbagai hal baru untuk mengisi kehidupan, tidak menyisakan ruang di benak untuk sejarah usang yang tak penting.”

Begitulah kau berkata, sembari berpikir benarkah kehidupan yang senantiasa berganti itu, akan berfungsi seperti sebuah kelahiran kembali? Mungkinkah seperti lapisan kulit ular yang berganti secara periodik, melepaskan kulit lama beserta segala bekas lukanya, untuk berganti lapisan kulit baru?

Mungkinkah kau akan mengalami proses yang sama, menggali sebuah hidup baru dan mengubur kehidupan lama beserta segala sejarahnya? Dan kisah usang yang tak kau kehendaki itu akan lenyap kemudian tak berjejak? Yakin bahwa itu tak akan menghampirimu lagi pada suatu ketika entah kapan?
Kau simpan pertanyaan itu pada suatu ruang tertutup di dalam benakmu.

xxxx

SANG PENARI
Perempuan itu berdiri di puncak tangga.
Cahaya redup sinar matahari menjelang petang menyambutnya pertama kali ketika langkahnya melewati batas pintu. Membentang sinar itu, berasal dari langit berwarna jelaga di kejauhan. Saat yang sama gerak angin mendatanginya, menerbangkan anak-anak rambut di pelipisnya, seolah sapaan lembut selamat datang dan mengajaknya segera melanjutkan langkah. Anak tangga itu telah menunggu. Berjajar rapi menurun, bersiap menerima setiap jejak langkah.
   
Bergerak lanjut kaki perempuan itu, menurun menapak setiap anak tangga. Pada anak tangga terakhir, dilepaskannya alas kaki untuk kemudian menjejakkan kaki telanjangnya pada dataran tanah. Inilah bumi kampung halaman yang telah ditinggalkannya entah sejak kapan. Tahun-tahun berlalu seolah tak ingin dihitungnya sejak keberangkatan itu. Keberangkatan? Tidaklah pelarian adalah pilihan kata yang lebih tepat?
   
Perempuan itu mengibaskan rambut, seolah hendak mengesampingkan pertanyaan itu agar menepi dari lingkaran benaknya. Lebih dipilihnya untuk merasakan gesekan lembut telapak kakinya saat menapak dataran. Dingin dan keras tanah datar itu, namun betapa hangat dan lembut yang tertebar di hatinya, mendapati bukti bahwa dia telah kembali pada tanah itu. Bumi dari mana dia berasal dan tumbuh. Tanah bumi yang menyimpan ari-arinya sejak hari awal kelahirannya.
  
Hangat hati, menghangatkan juga matanya, memunculkan genangan pada sudut-sudutnya. Nyaris tumpah air mata itu, sebelum dengan sigap disekanya dengan ujung selendang yang melingkar di bahu. Lalu dilanjutkannya langkah kaki, tetap dengan telapak yang telanjang, menuju pulang.
   
Ada banyak taksi, juga becak, yang para pengemudinya bergegas menghampiri setiap orang dan membujuk untuk menjadi penumpang. Berebut bertanya ke mana arah tujuannya. Perempuan itu menggeleng, menampik semua tawaran itu. Dia tak hendak naik becak, apalagi taksi. Dipilihnya sebuah bendi. Saisnya takjub demi mendapati seorang perempuan menempatkan dirinya di kursi penumpang, dengan gerak luwes tanpa canggung dan memintanya menuju pada sebuah tempat tanpa bermaksud menawar.
    Terpesona atau takjub?
    Terserahlah. Perbedaan keduanya tidak terlalu signifikan untuk diperdebatkan.

Roda dokar berputar melaju seiring derap kaki kuda menariknya menuju sebuah arah sesuai helaan sang sais. Saat yang sama ingatan perempuan itu melaju pada sebuah kisah silam. Roda masa lalu berputar kembali di lingkaran benaknya, melaju lambat tanpa arahan sais.
   
Diingatnya keberangkatan itu. Sebuah petang yang tak hendak terlupa dari ingatan. Itu adalah petang yang berangin, langit berwarna abu, seolah menyiratkan suasana yang muram.
     “Janganlah pergi,” laki-laki itu berkata, tatap matanya menyiratkan permohonan sekaligus bujukan. “Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa yang layak dicemaskan.”
Perempuan itu mengalihkan tatap mata, menepikan diri dari bujukan yang berpotensi memengaruhi keputusannya. Gurat gelisah sungguh tampak pada segala geraknya.
      “Aku ingin berangkat sekarang,” gumamnya kemudian. Ada nada mengambang pada suara itu, antara keraguan dan keinginan yang mendesak.
     “Kendalikanlah cemasmu, kau hanya sekadar emosi, kekhawatiran yang berlebihan,” lagi laki-laki itu membujuk hendak menenangkannya.
    “Bukan semata karena itu,” perempuan itu menggeleng.
    “Dia hanyalah anak kecil, ingatannya tak akan bertahan lama. Pastilah segera terlupa peristiwa itu. Yakinlah padaku.”
   
Perempuan itu bangkit dari tempatnya duduk. Kursi rotan itu berderak lirih saat beban tubuh beranjak darinya. Derak lirih itu, lebih mirip desahan tak rela melepaskan tubuh perempuan itu, yang segala geraknya luwes gemulai belaka. Setiap lekukan gerak, seolah alunan nada dari sebuah lagu panjang yang berjeda-jeda.
   
Mata laki-laki itu mengikuti setiap gerak, tampak betul tak ingin melewatkan satu nada pun. Entah berpanggung ataupun tidak, baginya semua gerak perempuan itu tak ubahnya bagian dari sebuah tarian, yang terus berkesinambungan serupa pentas tari yang tak berkesudahan, apalagi tamat.
   
Maka, ketika sang penari, perempuan itu, seolah ingin mengakhiri pementasannya, kegelisahan laki-laki itu memuncak tak tentu arah. Baginya lampu panggung masih menyala, akan sungguh tak elok bila panggung gemebyar itu ditinggalkan penarinya dan menjadi pentas yang merana kesepian.
   
Di sisi lain, sang penari mendapati kenyataan bahwa bukan panggung itu yang merana, melainkan dirinya sendiri. Baginya, gemerlap cahaya pentas tak lagi menghadirkan tepukan dan sanjungan yang setiap kali membuatnya bergairah, melainkan justru membuka tabir titik nadir yang sebenarnya.

                                                                                   cerita selanjutnya >>


Penulis: Sanie B. Kuncoro


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?