Begitulah komentar orang yang dimabuk kepayang oleh cinta saat ditanya seperti apa perasaannya. Sejuta rasanya! Ada bahagia, kangen, waswas, benci, marah, dan masih banyak lagi. Sebenarnya, apa yang terjadi dalam tubuh kita ketika semua rasa ini berlomba-lomba untuk mengekspresikan diri?
Nyatanya, istilah chemistry dalam hubungan cinta itu bukan kiasan belaka. Bahkan, bisa ditelaah secara ilmiah. Semuanya bermula di dalam otak. Organ pemikir yang satu ini tidak hanya berfungsi sebagai bank data, tapi juga menjadi laboratorium reaksi kimia dalam tubuh, termasuk di antaranya proses jatuh cinta, sejak dari pandangan pertama hingga munculnya hasrat seksual.
Bicara tentang ketertarikan terhadap lawan jenis, dokter ahli bedah saraf Ryu Hasan mengatakan bahwa secara evolusioner, gen manusia telah dibekali dengan daftar preferensi, yang meliputi kriteria fisik dan karakter. Ketika seseorang itu sesuai dengan kriterianya, maka otak emosinya akan langsung bereaksi. Dalam hal ini, baik wanita maupun pria mengalami proses kimia yang sama.
“Pada saat itu akan terjadi ‘gempa testosteron’ yang menimbulkan rasa senang dan dada yang berdebar-debar. Apabila ketertarikan ini mendapat tanggapan positif dari lawan jenis, maka otak akan dibanjiri dopamine yang membangkitkan sensasi ‘sejuta rasanya’,” jelas dr. Ryu Hasan tentang neurotransmitter atau senyawa kimia dalam otak yang berfungsi menyampaikan pesan dari satu saraf ke saraf lain.
Banjir dopamin yang terjadi dalam otak sangat berpotensi menimbulkan ‘tsunami cinta’. Di saat inilah, menurut dr. Ryu Hasan, orang akan kehilangan rasionalitasnya. “Orang bisa menyetir jauh-jauh di malam hari hanya untuk melihat pagar rumah wanita idamannya, kemudian tenggelam dalam luapan kebahagiaan tak terhingga,” lanjutnya, menggambarkan gelombang irasionalitas orang yang jatuh cinta.
Fase ini akan berubah menjadi mabuk kepayang ketika neurotransmitter lain, yaitu endorfin, ikut menambah kekuatan ‘tsunami cinta’. “Endorfin ini sifatnya seperti morfin, yaitu adiktif dan bisa membuat orang merasa bahagia yang berlebihan, atau euforia. Jadi, jangan heran jika dalam fase ini orang bisa tetap merasa segar, meski tidak tidur dan tidak makan. Sifat adiktifnya membuat pria ingin selalu berdekatan secara fisik dengan wanita pujaannya,” jelas dr. Ryu Hasan.
Jika pada pria ‘tsunami cinta’ yang terjadi dalam otak merupakan kombinasi reaksi beruntun antara testosteron-dopamin-endorfin, pada wanita kombinasinya adalah testosteron-dopamin-oksitosin. Sebuah pelukan atau belaian sayang pada wanita akan membuat otak melepaskan senyawa oksitosin. Pada wanita, oksitosin ini akan menumbuhkan rasa percaya dan membutuhkan terhadap pria pujaannya.
Sama halnya dengan efek endorfin yang memunculkan euforia berlebihan, taraf percaya yang dimunculkan oleh oksitosin bersifat berlebihan. Sehingga, sangat mungkin wanita tersebut lebih percaya kepada pria pujaan yang baru dikenalnya daripada kepada orang tuanya sendiri. Gawatnya, berpisah dari pasangan di saat kadar oksitosin sedang tinggi akan menimbulkan kegelisahan dalam diri wanita.
Namun, seperti halnya produk pabrikan, fase cinta sejuta rasa ini pun punya masa kedaluwarsa. “Biasanya hanya berkisar antara tiga sampai enam bulan, atau maksimal satu tahun. Setelah itu, semua rasa deg-degan, mabuk kepayang, akan hilang. Biasanya, fase yang juga dikenal dengan istilah masa percumbuan ini akan berakhir setelah hubungan seksual yang pertama. Setelah itu, rasio kembali mengambil alih,” ungkap dr. Ryu Hasan.


