Bepergian tak berarti muncul keharusan untuk mengubah kebiasaan makan secara ekstrem, sekalipun Anda berkunjung ke negara lain dengan perbedaan iklim atau zona waktu yang drastis. Kuncinya adalah berani menyesuaikan lidah dengan cita rasa lokal, dan tetap berpegang pada prinsip-prinsip dasar makan sehat. Berikut ini tip dari ahli gizi Emilia E. Achmadi MS., RD untuk mengatur pola makan Anda selama liburan.Perhatikan Porsi dan Frekuensi
Jaga frekuensi makan Anda setidaknya tiga kali sehari, meski jam makan Anda mungkin bergeser karena perbedaan waktu. “Kebiasaan waktu makan tak menentu malah cenderung membuat Anda makan lebih banyak,“ ujar Emilia. Pasalnya, jika Anda baru makan saat sudah merasa sangat lapar, hormon dalam tubuh sudah tidak seimbang, dan akan mendorong Anda mencari makanan yang tinggi gula dan lemak. "Buat jadwal kunjungan ke tempat-tempat makan pada jam makan," saran Emilia.
Jangan ragu untuk bertanya pada pramusaji seberapa besar porsi makanan yang akan Anda pesan, agar Anda tidak makan sampai terlalu kenyang atau malah membuang-buang makanan. Interaksi seperti ini diperlukan agar Anda tetap bisa menjaga disiplin pola makan selama liburan.
Selalu Sedia Air
Tubuh yang relatif lebih aktif bergerak, faktor makanan lokal yang mungkin mengandung banyak garam, juga udara yang bisa jadi lebih kering daripada Indonesia, dapat membuat Anda kehilangan lebih banyak cairan saat berlibur. Maka, sering-seringlah minum air, dan jangan tunggu sampai merasa haus, termasuk ketika berada di pesawat. Sirkulasi udara di pesawat cenderung kering dan menurunkan kadar cairan tubuh, sehingga Anda rentan mengalami dehidrasi.
Pilih-Pilih Menu
Berhadapan dengan makanan yang terasa asing saat di luar negeri? Anggaplah itu bagian dari petualangan. Mulailah dari mencari alternatif asupan yang berbeda dari biasa. Contohnya, untuk karbohidrat, gantilah nasi dengan pilihan lain, seperti roti, ubi, jagung, kentang, pasta, atau mi.
Cobalah aneka ragam roti lain yang belum pernah ditemui. Kuncinya, makin gelap warna rotinya, makin beragam isi nutrisinya. Makin kasar dan padat tekstur roti, makin tinggi kandungan seratnya. Bila belum bisa menikmati yang cita rasanya lebih kaya dan teksturnya lebih padat, seperti roti pumpernickel asal Jerman yang cenderung asam, cicipilah roti gandum utuh atau sourdough.
Selain roti, Anda juga bisa mencoba aneka crackers. Kombinasi roti atau crackers, irisan keju, dan olesan selai kacang bisa menjadi menu sarapan yang bergizi, lengkap dengan karbohidrat dan protein, apalagi bila ditambah buah-buahan.
Jangan lupa, sebelum mencoba makanan tradisional setempat, perhatikan konten bahan-bahan dan cara pembuatannya. Apakah menggunakan banyak lemak, mengandung banyak gula, atau digoreng dengan banyak minyak, sehingga mengandung kalori tinggi.
Kunci Atasi Jetlag
Lakukan antisipasi untuk meminimalkan efek samping jetlag sejak di pesawat. Siapkan tubuh Anda sesuai zona waktu di tempat tujuan dengan makan sesuai dengan jam tersebut. Biasanya pramugari akan menyediakan makanan sesuai waktu tempat yang dituju. Saat itu, bersantaplah meskipun belum merasa lapar.
Sebisa mungkin, di hari-hari pertama liburan, jangan bebani tubuh dengan terlalu banyak aktivitas. Dengan demikian, jam biologis dalam tubuh Anda akan lebih mudah beradaptasi. (f)


