Trending Topic
Sebelum Terlambat

3 Mar 2014


Dampak adiksi pornografi ini ternyata lebih menyeramkan dari yang kita bayangkan, yaitu kerusakan otak yang lebih berbahaya dari kerusakan akibat bahaya narkoba. Begitu menurut Dr. Donald Hilton Jr, ahli bedah syaraf dari Amerika Serikat. “Menurut Dr. Hilton, adiksi narkoba akan merusak 3 bagian otak, sedangkan ketagihan pornografi merusak 5 bagian otak,” jelas Elly Risman, psikolog dan Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati. Ke-5 bagian otak itu yang berperan dalam kontrol perilaku yang menimbulkan perbuatan berulang–ulang terhadap pemuasan seksual. 

Jika otak sudah rusak karena pornografi, ada 5 hal yang akan terjadi. Yaitu, anak jadi tidak dapat mengontrol diri, tidak bisa menjaga emosi, tidak memiliki rasa bersalah, tidak memiliki konsep konsekuensi, dan tidak bisa mengambil keputusan. Sungguh menyeramkan, bukan.

Sebelum terlambat, kita harus memahami apa yang perlu dilakukan dalam mencegah anak-anak kita terjebak pornografi. Yang paling mudah adalah mendekatkan diri pada anak. “Kedekatan itu penting. Karena dengan begitu ia akan percaya kepada orang tuanya,” ujar Kak Seto. Mulailah tradisi menggelar acara diskusi keluarga. Tanyakan apa yang salah dari ayah ibu selama ini, dengarkan suara anak-anak, apa yang mereka harapkan dari kedua orang tuanya.

“Jika anak Anda lebih dari satu, bicaralah terpisah kepada mereka, karena setiap orang berbeda. Ayah akan menjelaskannya kepada putranya, dan Ibu kepada putrinya,” jelas Elly. Penting untuk ‘berani’ bertanya kepada mereka, apakah ia pernah melihat pornografi?

Jika ia menjawab ya, Anda harus bersikap jujur pada mereka. Misalnya, Anda mengaku dulu juga pernah mencoba-coba melihatnya di majalah. Lalu tanyakan apa yang ia rasakan ketika melihat pornografi. Setelah itu, Anda bisa memberinya pengertian mengenai apa yang ia rasakan serta jelaskan batasan-batasannya. 

Anda juga harus menyadari, ada dua hal yang harus diajarkan ke anak-anak kita. Pertama pendidikan seks, yaitu fungsi alat reproduksi yang membedakan pria dan wanita. “Ajarkan ini sejak mereka usia 2 tahun. Misalnya cari berkemih yang benar, bagaimana menutupinya, dan melatih rasa malu jika sampai terlihat,” jelas Elly. Kata malu bisa menjadi kata kunci yang harus bisa mereka ingat untuk selamanya.

Setelah ‘pelajaran dasar’ itu, orang tua juga wajib mengajari anak untuk menjaga seksualitasnya. Yaitu bagaimana cara ia berpakaian, membawa dirinya, bagaimana ia berpikir dan merespons tindakan atau ucapan yang berhubungan dengan tubuhnya. “Anda bisa mengajarkan hal-hal ini sejak mereka berusia 9 tahun, sejak anak mendekati akil balik,” imbuh Elly. 

Sayangnya, orang tua sering bersikap longgar dengan alasan ingin memberikan privasi kepada sang anak. Ada juga yang membiarkan anaknya berpacaran untuk menggairahkan belajar. Dalah hal ini, Elly dengan tegas menyarankan agar sebaiknya orang tua melarang anak-anak berpacaran hingga mencapai usia 18 tahun. Mengapa? “Karena hormon yang dihasilkan tubuh orang berpacaran, sama dengan orang yang berhubungan seks.”

Tapi memang melarang remaja untuk mulai berpacaran memang tidak mudah. Karena itu, bila si anak memang sudah punya pacar, orang tua memang harus lebih waspada, dan rajin-rajin menjelaskan apa sih pacaran itu termasuk apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan selama pacaran.

Memang dari banyak kasus yang ditangani Elly dan Kak Seto, tampak jika banyak orang tua yang tidak tahu anaknya sudah adiksi dan mereka tidak tahu anaknya sudah berhubungan seksual. Sayangnya, saat ketahuan, mereka malu membawa anaknya mengikuti terapi. “Tentu ada konsekuensi yang harus dihadapi, misalnya sanksi dari sekolah, atau secara hukum. Setelah itu, orang tua harus melupakan rasa malu dan mendampingi anak terapi atau konsultasi dengan psikolog. Karena ini adalah musibah yang harus diatasi bersama,” kata Kak Seto.

Argarini Devi



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?