Hartari, Pemenang III Sayembara Cerpen Femina 2013
Sebuah pesan pendek baru saja aku terima dari Wak Rowi, kakak ayahku.
Pulang sebentar, Nduk. Ada hal penting yang harus dibicarakan. Tapi kalau sibuk, Wawak tak akan memaksamu lagi.
Seberapa penting? Tak usahlah dipertanyakan seberapa penting perkara yang akan dibicarakan Wak, tetapi aku tidak berani lagi mangkir. Wak Rowi pengganti ayahku. Aku harus pulang setelah berkali-kali aku tidak memenuhi panggilannya untuk pulang kampung.
Aku tak ingat berapa kali aku mudik, hanya hitungan jari. Aku beralasan jatah libur bersama hanya sebentar, cuti pun tidak mendapat izin.
Tahun pertama, alasan itu bisa diterima Wak Rowi. Tahun kedua, dengan alasan yang sama tak mendapat respons sedikit pun dari Wak. Beliau tidak bertanya banyak. Aku tenang. Pasti beliau memakluminya. Di tahun berikutnya dan berikutnya lagi, tak ada tanya lagi dari Wak. Aku sendiri yang mengirim kabar, tapi Wak Rowi tidak menanggapinya. Alasan terlalu klise, atau mungkin malas mendengarku mengarang alasan lain.
Dan ini adalah permintaan Wak untuk kesekian kali, memintaku pulang. Aku akan pulang. Sudah cukup bagiku untuk bisa berdiri tegak dengan capaian yang sudah kudapat selama ini. Tak lagi harus merasa berutang budi pada Pak Min yang bersusah payah menitipkan aku untuk bisa bekerja di sebuah perusahaan di luar kota.
Aku dititipkan pada salah satu saudara Pak Min yang bekerja di perusahaan itu. Toh, aku bisa menunjukkan prestasi kerja yang hebat. Karierku naik dengan cepat. Kupikir ini pun takdir sehingga aku bisa bekerja di perusahaan itu. Pak Min hanya perantara saja. Dan ini pun kuanggap juga bentuk balas budi keluarga Pak Min karena telah bertahun-tahun beliau beserta anak istri menumpang di rumah orang tuaku, membantu menjaga rumah serta sepetak tanah tepat di belakang rumah. Meski tak luas, hanya sejengkal tanah dengan sebatang pohon kelapa yang selalu menghasilkan buah.
Kepulanganku juga bukan untuk Joko, putra Pak Min yang seumuran denganku. Kebaikan Pak Min pada Ayah dan atas pekerjaanku bukan berarti aku harus berjodoh dengan Joko. Jodoh tak lagi karena ‘kami telah menolongmu, maka engkau pun harus membalasnya’. Zaman telah berkembang, urusan jodoh adalah urusan cinta bukan karena keharusan balas budi.
***
Rumahku berbeda dengan rumah kebanyakan. Bangunan kuno, peninggalan zaman entah kapan. Ayahku bukan dari kalangan berada, dan rumah besar ini beliau dapatkan dari Kakek, karena ayahkulah yang berhak menempatinya dengan pengorbanan yang tidak sedikit.
Aku tak malu mengaku, kepergian Kakek ternyata meninggalkan utang. Satu per satu harta tergadai untuk membayar utang. Ayah masih mempertahankan rumah, karena rumah inilah pemersatu keluarga. Tak akan dijual kepada siapa pun.
Ayah bekerja keras untuk membayar utang-utang Kakek. Di saat yang bersamaan, Pak Min, sahabat Ayah, datang dengan kondisi memprihatinkan. Dia minta tolong Ayah untuk memberi pekerjaan padanya karena dipikirnya Kakek masih berjaya. Gayung tak bersambut. Keadaan tak seperti yang diharapkan.
Akhirnya Pak Min bahu-membahu bekerja dengan Ayah. Satu-satunya bantuan yang bisa diberikan pada Pak Min adalah tumpangan rumah, sementara Wak Rowi tak banyak membantu. Kondisi tubuhnya tak memungkinkan. Meski tak bisa disebut parasit, karena sesekali dia membantu Ayah dari hasil memijat. Keahlian yang dimilikinya.
Dan setelah beberapa tahun, Ayah bisa bernapas lega. Utang telah terbayar. Rumah dengan pekarangan tak seberapa luas tak jadi tergadai. Namun, rumah besar itu kini telah sepi. Hanya ada Wak Rowi dan Joko, setelah Ibu, Ayah, dan Pak Min serta istrinya berpulang beberapa tahun silam.
Mobil berhenti tepat di depan rumah. Wak Rowi sudah menunggu di luar. Meski kondisinya tak sempurna ditambah renta usia, air mukanya berlumur bahagia. Joko menggendong Wak Rowi menyambutku. Rona wajah pemuda ganteng berkulit legam itu pun tak jauh beda dengan Wak Rowi.
Aku dan Joko sebaya, teman sejak kecil. Cerita hidup kami tak jauh beda. Semua tentangku dia tahu. Juga sebaliknya. Sekali lagi, aku meyakinkan, ini bukan urusan balas budi. Cinta adalah cinta. Tak sama antara cinta dan balas budi.
“Kamar Mbak Miranti masih sama. Tak ada yang menempati, hanya sesekali Wak Rowi tidur di situ,” Joko membuka pembicaraan. Sedikit gugup.
“Ngaso dulu saja, Nduk. Nanti malam saja kita ngobrol,” Wak Rowi menyela.
“Inggih, Wak.”
Aku merebahkan diri. Perjalanan 8 jam yang melelahkan, tapi tak sedikit pun menciptakan kantuk. Bayangan wajah Joko dan topik pembicaraan nanti malam membuat kantuk tak singgah sedikit pun. Wak Rowi pun tak menampakkan wajah serius. Mungkin alasan memintaku pulang hanya untuk membayar rasa rindu.
Matahari baru saja tumbang. Wak Rowi duduk di bale-bale ditemani secangkir kopi dan pisang goreng. Aku beringsut mendekati.
“Ada hal penting apa, Wak ?” aku membuka pembicaraan.
“Bukan Wak yang punya kepentingan, tapi si Joko. Ada hal kecil yang ingin dibicarakannya padamu. Wawak sendiri tidak tahu, tapi ingin mendengarnya,” jelas Wak Rowi.
Sepertinya sebentar lagi urusan hati yang akan dibicarakan. Aku sudah memiliki jawaban jika nantinya dia mempunyai maksud seperti yang kupikirkan. Tentang cinta dan balas budi.
Joko menyusul duduk di bale-bale, membawa dua cangkir teh hangat. Semilir angin pegunungan meningkahi perasaanku.
“Sebenarnya bukan hal penting, Mbak. Sepele. Tapi, rasanya tak nyaman bila belum saya utarakan pada Mbak Miranti.”
Sepi. Joko beranjak masuk. Hanya kalimat itu saja yang dikatakannya. Aku tidak paham. Tak lama dia muncul dengan selembar kertas serta amplop tebal.
Dia melanjutkan penjelasannya. Kertas itu berisi denah kampung kami. Aku sudah tahu, tanah di belakang rumah kami terkena proyek pelebaran jalan kereta. Rencana pembuatan rel ganda yang melewati desa kami membuat sejengkal tanah yang tak begitu luas di belakang rumah harus tergusur. Wak Rowi pun telah membuat tembok batas antara rumah dan tanah yang diminta untuk pelebaran jalan kereta. Apa masalahnya? Warga yang tanahnya terkena proyek juga tak bermasalah dengan rencana ini.
“Tapi saya masih mempertahankan sejengkal tanah itu, mumpung pembangunan baru akan dilaksanakan beberapa bulan ke depan.” Wajah Joko serius.
Sepetak tanah yang berada di belakang rumah hanya menyisakan sebatang pohon kelapa. Tidak ada tanaman lain selain semak.
“Semua tanah telah dibebaskan. Semuanya telah memperoleh ganti, hanya sejengkal tanah itu yang masih belum selesai. Saya menunggu Mbak Miranti.”
“Mengapa ? Ada Wawak yang bisa mengurusi,” kataku, tak sabar menunggu penjelasan Joko.
Pohon kelapa itu telah bertahun-tahun tumbuh dan berbuah. Buahnya diambil untuk dijual. Uangnya kini telah terkumpul dan disimpan dalam amplop tebal itu.
“Saya telah menjaga pohon itu, mengganti tugas Ayah. Kini amanat itu akan saya kembalikan kepada Mbak Miranti.”
Aku tercenung. Hanya untuk sebatang pohon kelapa aku pulang. Sebatang pohon kelapa yang akan segera diratakan dengan tanah. Hanya sebatang, tetapi pohon itu adalah milikku. Bukan masalah seberapa banyak, namun adat di kampung tetap dijunjung. Pantang seseorang mengambil hak orang lain, kecuali berdasarkan kerelaan. Dan Joko tetap setia menunggu kepulanganku untuk mengembalikan sebatang pohon itu padaku. Dia rela menjaga sebatang pohon yang diamanatkan kepadanya, rela menunggu kepulanganku hanya untuk itu. Dia telah berjanji untuk merawatnya dan merawat kesetiaannya padaku, pada keluargaku.
Lidahku kelu. Budi tak pernah akan terbayar. Kesetiaan Joko telah membuktikannya. Semua dugaku runtuh oleh sebuah kesetiaan.


