Sangu Tutug Oncom Saung Kiray. Begitulah judul yang diberikan Ambar L. K. Dharmaputra untuk warungnya yang ada di sebuah halaman rumah, di tengah kesejukan Kota Bogor. Dominasi bangunan dari kayu, bambu, dan kiray (daun kering) membuat warung ini tampak sederhana dan sangat alami. Menu yang ditawarkan tidak macam-macam. Hanya sepiring sangu tutug oncom. Masakan tradisional dari dapur Sunda berupa sangu (nasi) hangat, yang ditutug atau ditumbuk dengan oncom bercita rasa gurih. “Walau identik dengan masakan Sunda, sangu tutug boleh dibilang masakan khasnya orang Tasikmalaya,” urai Ambar, yang sudah merintis usahanya ini sejak delapan tahun lalu. Di daerah asalnya, sangu tutug ini biasa dinikmati saat sarapan, atau sebagai bekal para petani saat bekerja di sawah. Alasannya karena kepraktisan. Hanya dengan sebungkus nasi hangat bercampur cincangan oncom, penikmat sangu tutug sudah merasa kenyang.
Cara membuatnya tidak sulit. Oncom disiapkan pertama kali. Untuk nasi campur olahannya, Ambar memilih oncom hitam yang terbuat dari bungkil kacang tanah. Selain jarang dipakai oleh nasi tutug lain, oncom hitam terasa lebih gurih. Agar aroma asapnya kuat, oncom tidak ditumis, melainkan dibakar terlebih dulu hingga matang. Dengan dibakar, oncom juga jadi tidak basah. Sebab, jika ditumbuk dalam keadaan basah, maka oncom akan sulit menyatu dengan nasi. Setelah dibakar, oncom dihancurkan bersama bumbu berupa kencur, bawang merah, terasi, dan garam.
Untuk mengaduk nasi, Ambar pun memakai cara tradisional, menggunakan dulang (ulekan) yang terbuat dari bongkahan kayu pohon nangka. Ambar rela menjelajah hingga daerah Cicalengka, dekat Bandung, untuk mencari dulang yang keberadaannya kini sudah mulai langka.
Ambar menyediakan tiga varian rasa nasi, yaitu Sangu Tutug Pasundan, Sangu Tutug Ikan Asin, dan Sangu Tutug Opak Pedas. Sangu Tutug Pasundan merupakan versi asli nasi tutug. Hanya berupa nasi campur oncom, dan diberi taburan kerutuk atau remahan tepung gorengan tempe yang gurih dan garing. Sangu Tutug Ikan Asin jadi jawaban bagi penyuka sangu tutug yang bercita rasa asin gurih. Suwiran ikan jambal berpadu apik dengan nasi hangat, menciptakan sepiring nasi tutug yang menggiurkan.
Sangu Tutug Opak Pedas disiapkan untuk siapa pun yang mencari rasa pedas. Dua sendok makan sambal cabai rawit bercampur minyak sayur matang yang biasa disebut sambal goang, jadi kunci Sangu Tutug Opak Pedas disantap hingga bersih. Tak ketinggalan, opak ketan yang khusus datang dari Majalengka, menjadi taburan yang pas untuk nasi pedas ini. Kalau ingin menikmati sensasi rasa asin pedas, tamu bisa minta dibuatkan nasi tutug asin pedas, yaitu paduan suwiran ikan jambal dan sambal goang pada nasinya.
Pengalaman makan sangu tutug makin lengkap, dengan beragam lauk ala rumahan sebagai pendamping, seperti tahu goreng, tempe goreng, ayam goreng, serundeng, semur daging sapi, hingga tumis-tumisan. (BLI)
Lokasi: Jl. Bina Marga No.13, Baranangsiang, Bogor. Telp: (0251) 8323 392. Harga*): Makanan dan Minuman: Rp3.000 – Rp20.000. Jam buka: Setiap hari, pukul 11.00 – 17.00 WIB. Suasana: Warung makan tradisional.
*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu, cek sebelum bersantap.
FOTO: HARRY HIKMATULAH.


