Alexander the Great pernah berkata: "Semua yang saya dengar tentang Samarkand adalah benar adanya, hanya saja ternyata jauh lebih indah dari yang saya bayangkan."
Bepergian menyusuri kota-kota di Uzbekistan seperti layaknya sebuah perjalanan sejarah hidup, di mana dua koin sisi masa lalu dan kini akur berdampingan. Belum lagi, peninggalan Soviet yang kerap terlihat hadir melalui ketatnya sistem birokrasi, mobil Lada tua memenuhi sisi jalan, berpadu dengan ratusan bangunan madrasah dan kubah-kubah masjid berwarna biru toska, menjadikan Uzbekistan paket sempurna untuk saya, Fabiola Lawalata, kunjungi.

Jejak Rusia di Negeri Kand
Sopir taksi yang dikirimkan oleh penginapan yang saya tinggali selama di Samarkand, sibuk menjelaskan mengenai kota kelahirannya ini ketika saya diantar menuju penginapan. Dengan bahasa Rusia bercampur bahasa Inggris sekenanya, ia begitu antusias bercerita dan dengan semangat menggebu dia yakin bahwa Rusia akan menang di penyisihan Grup H Piala Dunia waktu itu. Walaupun sudah sejak tahun 1991 Soviet berpisah dan Republik Uzbekistan terbentuk, rakyat setempat masih mengelu-elukan sosok Rusia.
Keriuhan suara sopir yang tidak hentinya mengoceh disertai udara panas di dalam mobil tua merek Lada yang diubah menjadi taksi jadi-jadian, menemani perjalanan selama kurang dari 30 menit menuju ke kota tua Samarkand. Saya memilih penginapan ala guest house yang terletak hanya 5 menit berjalan kaki menuju Registan, ikon Kota Samarkand. Untuk destinasi seperti ini, saya lebih memilih tinggal bersama dengan orang lokal dan menikmati kesederhanaan mereka.
Seorang anak muda membukakan pintu dan memperkenalkan namanya, Umid, yang ternyata adalah adik dari pemilik guest house. Sepintas dia terlihat normal, namun belakangan saya dapat melihat bahwa Umid sedikit lebih lemah dibanding anak seusianya. Bahasa Inggris-nya lancar dan memiliki service of excellent yang tinggi untuk para tamu yang menginap di rumah milik keluarganya.
"Apa arti nama Umid sebenarnya? Kamu bukan orang pertama yang bernama Umid yang saya jumpai," tanya saya.
"Pengharapan!" jawabnya singkat.
Dari yang tadinya hanya 2 hari menginap di guest house ini, akhirnya saya perpanjang 1 hari lagi. Bukan hanya karena Kota Samarkand ternyata sangat besar untuk dijelajahi, namun juga karena saya ingin bermalas-malasan di taman guest house yang sangat nyaman sambil membaca buku atau sekadar ngobrol dengan para tamu lainnya yang juga tak kalah menyenangkan.
Tidak banyak tamu saat itu. Ada pria tua asal Prancis bergaya hippies yang traveling keliling dunia, dan mengaku Iran adalah negara favoritnya. Ada pria muda dari Moskow yang berpikiran terbuka. Ada juga seorang wanita muda campuran Prancis-Belanda yang akhirnya menjadi travel partner saya sampai ke Kota Khiva.
Dan, yang tak terlupakan, hadirnya tamu bayi berusia 1 tahun yang ikut ayah ibunya dari Negeri Kincir Angin sampai ke Uzbekistan. Ah, menyenangkan sekali, tamu-tamu penginapan ini seperti keluarga baru. Tiap pagi kami berbagi makan di meja panjang yang telah disiapkan, lalu sorenya kembali lagi kami ngobrol-ngobrol di gazebo taman yang teduh.

Rute Jalur Sutra
Selama ribuan tahun, rute perdagangan jalan sutra adalah layaknya perpaduan cerita para kafilah dan untanya yang membawa rempah-rempah, permadani, gading, dan sutra dari negeri Timur ke Barat dan kembali lagi ke Timur. Uzbekistan berada di persimpangan jalan tersebut.
Registan Square adalah jantung Kota Samarkand. Registan artinya ‘tempat yang berdebu’, tepat sekali dengan faktanya, sangat berdebu karena sedang ada renovasi di pelataran depan Registan. Ada tiga madrasah yang mengelilinginya: Ulugh Beg, Tilya Kori, dan Sher-Dor. Ulugh Beg madrasah yang tertua, dibangun pada tahun 1417 pada masa kekuasaan Timur. Kita dapat melihat ruangan di dalam masing-masing madrasah yang sayangnya sekarang hanya digunakan sebagai toko-toko suvenir dengan barang jualan yang rata-rata sama.
Polisi yang korupsi di Uzbekistan bukan cerita rahasia lagi. Banyak polisi yang mestinya menjaga area Registan, menggunakan kesempatan untuk meminta uang kepada wisatawan dengan dalih tiap foto harus membayar. Kejadian ini sempat menimpa saya juga. Sedang asyik foto sana-sini, tiba-tiba seorang polisi disusul rekannya menghampiri saya dan berkata bahwa saya harus membayar ekstra jika ingin mendokumentasikan salah satu kubah. Tentu saya tolak karena sebelumnya saya sudah membaca beberapa ulasan di buku panduan perjalanan ke Uzbekistan mengenai tipuan seperti ini.

Hikayat Timur Leng
Nama Samarkand identik dengan nama pemimpin legendaris Timur Leng yang juga dikenal dengan nama Amir Timur atau Tamerlane, penakluk dunia dan pemimpin paling kuat di dunia Islam. Keberanian dan ketangguhannya dalam berekspansi dan memimpin telah berkontribusi bagi perkembangan dan peradaban Islam.
Keputusannya untuk membuat Samarkand sebagai ibu kota kerajaannya di masa Dinasti Timurid di akhir abad ke-14, menjadikan Kota Samarkand sebagai kota paling megah di Asia Tengah. Sosok Amir Timur melekat pada jati diri Kota Samarkand. Apa pun yang telah dilakukan oleh Timur di masa lampau, ekspansi berdarah sekalipun, tetap membuat dirinya sebagai simbol tauladan.
Bicara mengenai penguasa Amir Timur, maka cerita mengenai Bibi Khanum tidak luput dari perhatian. Dari 8 orang istri yang dimiliki Timur, Bibi Khanum-lah yang menjadi favoritnya.
Bibi Khanum yang sangat cantik berasal dari negeri Cina. Pada saat Timur sedang dalam perjalanan ke India, Bibi Khanum ingin membuat kejutan dengan membangun sebuah masjid yang direncanakan selesai saat Timur kelak kembali ke Samarkand.
Pembangunan masjid ini dibantu oleh arsitek asal Persia yang ditugasi membangun sebuah masjid yang paling megah di Samarkand. Konon, menurut legenda yang beredar, si arsitek terpukau oleh kecantikan Bibi Khanum dan menunda menyelesaikan pekerjaannya dengan cara apa pun.
Bibi Khanum sangat marah dengan keterlambatan proyek ini karena suaminya akan kembali ke Samarkand, sedangkan bangunan masjid masih belum siap. Ketika Bibi Khanum meminta arsitek untuk bergegas menyelesaikan proyek pembangunan masjid, arsitek memberi persyaratan bahwa bangunan akan siap tepat waktu, jika dia dapat mencium Bibi Khanum.
Timur yang tak lama sejak itu kembali ke Samarkand, sangat bahagia melihat bangunan masjid yang besar dan mewah. Namun, di lain pihak ia pun tidak bodoh melihat dan mendengar bisik-bisik berita yang beredar mengenai arsitek yang kurang ajar itu.
Akhir cerita menyebutkan, arsitek tersebut tewas di tangan Timur dan dikubur di bawah bangunan yang berfungsi sebagai perpustakaan. Sejak saat itu Timur memerintahkan agar semua wanita menggunakan cadar supaya pria tidak tergoda.
Masjid Bibi Khanum sempat mengalami kehancuran setelah gempa bumi tahun 1897 dan baru direnovasi tahun 1970. Saat ini pun, banyak facade Masjid Bibi Khanum yang memerlukan perbaikan. Pada masanya, kubah Masjid Bibi Khanum ini disebut-sebut sebagai kubah masjid terbesar di dunia Islam.
Puluhan peziarah dari pelosok negeri Uzbekistan terlihat berbondong-bondong mengabadikan kedatangan mereka di Masjid Bibi Khanum ini dengan memanggil tukang potret jalanan. Belum puas, mereka pun memanggil saya untuk kembali memotret mereka. Pastinya karena mereka melihat sebuah kamera yang saya kalungkan di leher. Sayang sekali, saya tidak membawa kamera polaroid yang langsung jadi. Mereka pasti senang sekali jika hasil foto itu bisa mereka bawa pulang.
Samarkand memiliki beberapa peninggalan mausoleum atau kompleks makam yang megah, salah satunya adalah Gur-Emir Mausoleum, makam pemimpin legendaris Timur. Timur tutup usia saat melakukan pertempuran melawan Dinasti Ming. Makamnya dibangun oleh keturunannya, berdampingan dengan makam putra dan cucu-cucunya. Meskipun saat ini yang tersisa hanya lantai dasar dari madrasah dan khanaka, gerbang pintu masuk dan menara, eksteriornya masih terlihat megah seperti aslinya.
Situs makam terkemuka lainnya adalah Shakhi-Zinda, yang dalam bahasa Persia berarti The Living King. Berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir untuk beberapa tokoh masyarakat yang paling menonjol di Samarkand saat itu.
Salah satu makam yang ramai dikunjungi peziarah adalah makam suci milik Kusama Ibnu Abbas, sepupu Nabi Muhammad. Beliaulah yang mengajarkan agama Islam di daratan itu. Ruangan makam yang cantik ini didominasi keramik berwarna merah muda dan hijau muda.
Terlihat banyak sekali peziarah lokal dari pelosok Uzbekistan lainnya. Mereka terlihat khusyuk berdoa. Banyak dari mereka yang berasal dari Andijon, kota di Uzbekistan yang bertetangga langsung dengan negara Kyrgyzstan.
Beberapa ibu-ibu berusia lanjut yang mengenakan pakaian tradisional mereka, tampak sibuk menghitung jumlah tangga sepanjang Shakhi-Zinda. Konon, jika jumlah hitungan benar, maka niscaya dosa-dosa akan dihapus. Percaya tidak percaya, tapi hampir semua orang melakukan ritual ini.

Makan Apa?
Seperti kebanyakan negara Asia Tengah, plov adalah hidangan utama yang selalu disukai. Terbuat dari bahan dasar nasi, potongan kecil wortel, bawang, dan daging. Rasanya seperti nasi semur di Indonesia, dengan tambahan bumbu ketumbar dan jintan.
Satai yang disebut shashlik juga menjadi makanan yang kerap ditemui di Uzbekistan, baik di rumah makan ataupun di pinggir jalan. Potongan daging kambing atau domba ditusuk dan direndam selama berjam-jam dengan bumbu, lalu dibakar di atas bara, disajikan bersama irisan bawang mentah. Shashlik juga bisa dibuat dari daging sapi, ayam, dan ikan.
Karena letak geografinya yang berdekatan dengan dataran Cina, maka kuliner Uzbekistan juga banyak yang menyerupai makanan dari Cina, seperti laghman, yaitu mi dengan campuran potongan sayuran dan paprika cincang. Ada juga manty, pangsit isi daging cincang dan bawang.
Birokrasi. Selama di Uzbekistan, tiap wisatawan wajib menyimpan semua struk pembelian, bahkan membeli air botolan di supermarket sekalipun. Pada saat check in dan check out di hotel, tamu wajib diberikan selembar kertas registrasi yang diberi stempel hotel. Lembar registrasi ini berisi informasi tanggal kapan tamu tersebut tinggal di hotel itu. Jika kita tidak memenuhi persyaratan ini, maka bisa terkena masalah di keimigrasian.
Jika Anda melakukan perjalanan ke Uzbekistan dengan pasangan suami/istri Anda, siapkan fotokopi dokumen surat nikah. Sering kali hotel di Uzbekistan menanyakan hal tersebut ketika proses check in.
Uang Tunai. Susah menukarkan uang ke mata uang lokal. ATM dan pusat penukaran uang resmi hanya simbol belaka karena sama sekali tidak pernah berfungsi. Kartu kredit pun sama sekali tidak bisa digunakan di negara ini. Tukar menukar uang bisa dilakukan di jalan atau pasar. Biasanya, ada calo penjual mata uang yang akan menyapa Anda yang terlihat turis. Hati-hati, jangan sampai terlihat polisi, karena sebenarnya aksi ini adalah ilegal. Beberapa kali saya menukarkan uang dolar Amerika yang saya bawa melalui pemilik penginapan karena lebih aman.
Jangan kaget jika orang-orang di Uzbekistan membawa uang di dalam kantong-kantong plastik. Bukan karena mereka kebanyakan uang, namun karena mata uang som yang beredar hanyalah kelipatan 1.000 som saja. Coba bayangkan, dengan uang sejumlah Rp500.000, sama dengan segepok 285 lembar som Uzbekistan. Di tiap meja kasir, baik itu di hotel maupun restoran, mereka telah menyiapkan mesin penghitung uang.
Toilet. Toilet umum di Uzbekistan sangat basic dan sering kali kotor. Bawalah kertas toilet dan sabun ke mana pun Anda pergi.
Visa Uzbekistan diperlukan pengurusannya di Kedutaan Uzbekistan. Hubungi Kedutaan Uzbekistan di Jakarta untuk persyaratan dan proses pengurusannya.
Website: http://www.uzbemb.or.id
Jl. Daksa III/ 14, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Menginap. Jahongir Bed & Breakfast
http://jahongirbandb.com
Alamat: Chirokchi 4, Samarkand 140100 Uzbekistan
Airline. Bisa menggunakan Qatar Airlines, Thai Airlines, atau Turkish Air, dengan rute menuju ke Tashkent, ibu kota Uzbekistan. Dari Tashkent, perjalanan menuju Samarkand bisa dilanjutkan dengan pesawat lokal Uzbekistan Airlines, atau dengan menggunakan kereta api. Jarak antara Tashkent ke Samarkand adalah 344 kilometer.(f)




