Fiction
Rumina

1 Apr 2016


Selasa, 9 November. Pukul 09.15 WIB. De Journal Tower, Lantai 11.

    Danu Winarko datang sepuluh menit lebih awal dari jam pertemuan yang sudah dijadwalkan. Rumina sedikit terkesima. Ternyata dia begitu tampan, gumamnya dalam hati. Tipikal cassanova Hollywood zaman dulu. Rambut hitam disisir rapi ke samping. Alis mata yang tebal. Hidung mancung. Bentuk bibirnya tipis dan terkesan basah. Kulitnya hitam dan begitu jantan. Postur tubuhnya begitu atletis. Tingginya kira-kira 178 sentimeter. Mengingatkannya pada sosok James Dean. Terlalu berlebihan, Rumina tersenyum sendiri.
    “Oh, iya, silakan duduk.” Rumina sedikit tergagap.
    Rumina Atmojo sudah menyiapkan semuanya.
    “Apa yang membuat Anda tergugah untuk mencalonkan diri sebagai bupati?” Dia tekan tombol ON pada alat perekam di tangannya. Pertanyaan pertama meluncur.
    “Sangat sederhana. Indramayu merupakan kota kecil yang mempunyai prospek yang sangat besar menjadi ibu kota provinsi yang mandiri. Indramayu juga mempunyai beberapa pantai yang indah, kampung nelayan yang asri, masyarakat yang beragam dan sangat toleran satu dengan lainnya. Rumah industri kecil. Tenaga kerja yang bermutu. Dan jangan salah, kita juga punya pengolahan gas bumi, bahkan salah satu yang terbesar di negara ini. Dan masih banyak lagi  aset yang belum terangkat di pemerintahan yang sekarang. Inilah hal yang ingin saya kemukakan. ”
    Pria itu berbicara dengan keyakinan total.
    “Kampanye ini tidak akan berhasil kalau Anda dan surat kabar Anda tidak meyakini apa yang saya rasakan. Semuanya berawal dari dasar hati, keikhlasan, dan kerja sama yang baik tentunya. ”
    “Saya rasa saya akan menikmati kerja sama ini. Apa yang Anda harapkan dari kami? ”
    “Berita yang jujur.”
    “Oh, sudah pasti. Jangan ragukan kredibilitas materi yang kami jual. Berita yang ada sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Yang pasti kami tidak menjual berita kacangan.”
          Obrolan itu berlangsung kurang lebih tiga puluh menit. Setelah Danu Winarko pergi, ia kembali ke dalam ruangannya.
    “Saya suka gaya bicaranya. Cerdas juga sopan. Dia cukup optimistis untuk  diunggulkan pada periode berikutnya. ”
    “Dari segi fisik juga oke. Seperti sosok pria sejati yang sebenarnya. Gagah dan berwibawa,” Sulastri ikut berpendapat. “Perbandingan dengan God Father?” God Father merupakan julukan untuk bupati yang menjabat saat ini.
    “Bandot tua bermulut besar.”
    “Sangat sulit untuk dikalahkan.”
    “Belum tentu. Masyarakat sudah terlalu banyak menelan kekecewaan. Begitu banyak skandal. Saya harus mendongkrak popularitasnya semaksimal mungkin. Saya menyukai perangainya. Entahlah, dia seperti peduli pada kota kecil ini. Selain itu saya juga menginginkan perubahan yang signifikan. ”
    “Tidak semudah yang kamu bayangkan.” Sulastri beranjak dari duduknya. “Ingat, dia masih lajang. Most wanted, limited edition. Jangan mengharapkan yang tidak-tidak.”
    Rumina Atmojo mengangkat bahunya.
    Rumina Atmojo berusia dua puluh lima tahun. Perawakannya tinggi semampai, berkulit khas gadis-gadis Indramayu pada umumnya, wajahnya cantik, tulang pipi yang menonjol, ramah juga hangat. Semenjak kecil sudah kelihatan bakatnya sebagai pemburu berita. Dia lebih menonjol dibanding teman-teman seumurannya. Selain cantik, dia juga sangat cerdas.  Ayahnya seorang TNI Angkatan Darat, ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Dia dibesarkan sebagai anak nomaden, semenjak kecil sudah berpindah-pindah ke berbagai sudut kota di Indonesia. Tapi, semenjak lulus SMA sudah tidak mengikuti lagi kebiasaan nomaden itu. Rumina Atmojo dititipkan pada sepupu ibunya di Bandung. Hanya fokus kuliah di Bandung.
    Dua kali menjalin hubungan asmara, dan keduanya kandas hanya dengan waktu yang teramat singkat. Rumina Atmojo begitu mudah bosan dengan persoalan asmara, dia menginginkan lebih. Belum menemukan sosok yang tepat. Otaknya terlalu canggih untuk didiamkan. Dia terlalu cerdas.
Begitu selesai kuliah dia langsung direkrut surat kabar terkemuka di Indramayu, De Journal. Dengan gaji yang sangat mencengangkan.
    Danu Winarko adalah tantangan berat pertamanya selama bekerja di De Journal. Begitu banyak pro-kontra yang berdatangan dari berbagai pihak. Terutama dari para pemegang saham dan perusahaan-perusahaan pemasang iklan.
    “Sebenarnya saya tidak terlalu suka berpolitik, tapi saya menginginkan perubahan yang terbaik bagi kampung halaman saya. “
    Pria ini memiliki pesona yang luar biasa, pikirnya. Rumina Atmojo terus mendengar apa yang diucapkan pria di hadapannya, menyimaknya kalimat demi kalimat. Ucapannya begitu tulus, sangat cerdas... dan juga tampan. Belum pernah dia merasakan kekaguman seperti ini kepada seorang pria.

Kamis, 26 Desember. Pukul 19.45 WIB. Khamijara Coffee & Tea.
    Dan mereka pun terlihat  makin akrab.
    “Apakah saya harus menyerah...,” kalimat Danu Winarko sedikit melemah.
    “Tenanglah, masih banyak waktu. Akan aku atur kembali jadwal pertemuan-pertemuan selanjutnya. Saranku carilah materi yang lebih sederhana dari sebelumnya, anggap saja sharing dengan masyarakat. Mereka butuh pendengar yang baik, mereka tidak butuh ucapan penjual obat.”
    Kepala Danu Winarko menunduk, “Entahlah...,” gumamnya, hampir tidak terdengar. “Jajak pendapat menempatkan posisiku di urutan terbawah. Tapi tak apa, aku sudah sangat berterima kasih dengan segala usaha yang sudah kamu tempuh untuk mendukung saya. Kamu sangat luar biasa. Selain cerdas, kamu juga sangat cantik.”
    Rumina Atmojo menatapnya tanpa bisa berkata apa-apa. Padahal dia sangat mengagumi pria tampan itu. Ingin sekali dia memeluk dan menghiburnya. Rumina Atmojo, kamu harus bangun dari mimpi-mimpimu.
    Ketika hendak berpamitan, Danu berkata sedikit ragu, “Aku tidak tahu harus membalas dengan apa. Kamu begitu baik. Sebelum semuanya telanjur mengecewakan, apakah lebih baik aku harus mundur saja? ”
    “Kamu tidak boleh berputus asa. Kita akan berjuang bersama-sama.”
    “Apakah kamu yakin?”
    Danu Winarko kemudian menyentuh jemari wanita yang duduk di sampingnya, menggenggamnya mesra.
    “Sudah terlalu malam. Aku harus masuk.” Rumina mendadak kikuk.
    “Besok aku jemput jam sembilan. Kamu tidak langsung ke kantor, ‘kan?”
    Rumina Atmojo mengangguk mantap.

    Selasa, 22 Juli. De Journal Tower, siang hari.
    De Journal Tower berdiri megah tepat di seberang kantor kebudayaan daerah. Mempunyai delapan belas lantai, tiap lantainya mampu menampung lebih dari lima puluh orang karyawan dengan ratusan PC komputer dan mesin printer sebagai fasilitasnya. De Journal Tower dibangun oleh arsitek lokal  lulusan Hammond Lloyd University. Dan konon menghabiskan lebih dari delapan puluh juta dolar AS, merekrut seratus lebih tukang bangunan dan menelan delapan belas jiwa. Katanya sebagai tumbal untuk di  tiap lantainya. Siapa tahu, inilah Indonesia yang sebenarnya.
    Tidak ada yang bisa menyangkal kalau kampanye yang digalakkan Danu Winarko atas kerja keras Rumina Atmojo mulai memperlihatkan hasil. Baik polling di stasiun teve lokal ataupun surat kabar-surat kabar lokal menempatkan Danu Winarko pada urutan kedua.
Selain itu, Rumina Atmojo sudah menjadwal dan mengatur kunjungan Danu Winarko untuk beberapa minggu ke depan. Mulai dari pasar tradisional, perkumpulan para petani dan nelayan, perkumpulan buruh pabrik, asosiasi pengusaha-pengusaha kecil, bahkan sampai ke pondok pesantren.
    “Lihat?” Pranoto sang pemimpin redaksi menyerahkan setumpuk dokumen yang baru saja dibacanya. “Kelihatannya pangeranmu sudah bisa menunjukkan popularitasnya. Cuma mengingatkan, totalitas pekerjaanmu di sini, bukan dalang jurkam.”
    Memang disadarinya, semenjak keterlibatannya dalam pencalonan Danu Winarko sebagian besar waktu yang dihabiskan hanyalah mengurusi tetek bengek hal-hal yang berbau kampanye. Tetapi Rumina juga tidak mengenyampingkan begitu saja semua tanggung jawabnya pada perusahaan. Tanggung jawab perusahaan tetaplah tanggung jawab pekerjaannya, cuma  tidak setotal dulu. Tidak bergairah seperti dulu. Hasratnya yang sekarang adalah melenggangkan sang pujaan ke kursi pemerintahan. Apa pun akan aku korbankan demi keberhasilannya, gumamnya dalam hati. Rumina benar-benar sudah tergila-gila.

Sabtu, 26 Juli 2014. Loubfe & Pasta, saat makan malam…

    Selain makan malam yang romantis, ternyata Danu Winarko telah menyiapkan kejutan khusus bagi dirinya. Sebuah cincin tunangan.  “A... aku... aku.... sayanggg….” Rumina tergagap.
“Maaf aku meminangmu di tempat seperti ini. Seharusnya kamu bisa mendapatkan yang lebih. Mau kan kamu menikah denganku? Meski aku gagal menjadi seorang bupati sekalipun.“
    “Sayang, aku mencintaimu... sangat-sangat mencintaimu….”
    Danu langsung menciumi tangan kekasihnya berkali-kali.
    Dua puluh hari berikutnya kesibukan Rumina Atmojo  makin berlipat-lipat. Sibuk mempersiapkan rencana pernikahannya dan juga sibuk mempersiapkan agenda kampanye yang dijalankan sang calon suami. Memilih-milih model baju pengantin yang akan dekenakannya, mengatur tamu-tamu undangan, menjadwal ulang kampanye-kampanye yang tertunda, dan lain sebagainya.
    Dua minggu sebelum hari H. Ketika gaun pengantin sudah dipersiapkan, gedung resepsi sudah dipesan, dan undangan sudah disebarkan.
    “Semuanya sudah siap, Sayang. Aku harap kamu jangan terlalu lama tinggal di Bandung.”
    “Maaf telah membuat kamu cemas. Salah satu perusahaan sedang bermasalah dengan perkumpulan buruh. Aku usahakan paling lama dua hari.“
    Setelah kepergian Danu, Rumina kembali menyibukkan dirinya di De Journal. Berusaha mencoba menghilangkan rasa kekhawatiran yang  makin lama  makin menggerogoti sebagian memorinya. Begitu mengerikan, Rumina mencoba menghilangkan bayangan-bayangan menakutkan yang terus menghantui pikirannya.
    Hingga suatu pagi,
    “Mbak, ada telepon di line tiga.“
    “Dari siapa, Yan?“
    “Bapak Rusdi, ketua DPRD kita.”
    Mendadak tenggorokan Rumina tercekat. Dia diam sebentar, berusaha menenangkan diri. Ada keperluan apa dia meneleponku? Rumina mulai cemas. Setelah mengatur napas….
”Sambungkan,” ujarnya, ragu.
“Halo, selamat siang….”
    “Selamat siang, Mbak Rumina, ya? Saya rasa kita butuh ngobrol empat mata.”
    “Ada yang bisa saya bantu, Pak?“
    “Mengenai hubungan Anda, Mas Danu... dan putri saya.” Suara di seberang sedikit ragu.
    “Maksud Bapak?“ Detak jantung Rumina  makin tidak terkontrol.
    “Saya hanya ingin menjelaskan dan meluruskan apa yang sedang dan juga sudah terjadi. Tentunya kejadian sebelum kedekatan Anda dengan Mas Danu. Begini Mbak Rumina, jauh-jauh sebelum kalian berdua bertemu, sebenarnya Mas Danu dan anak saya sudah bertunangan. Danu seorang pria pilihan. Banyak  gadis cantik dan kaya raya mengejar-ngejar dia, hingga wajar jika dia pernah berbuat kesalahan terhadap putri saya. Tapi itu dulu. Danu sekarang sudah menjelaskan semuanya itu kepada putri saya, dan mencoba memberi pengertian kepada saya. Terus terang, saya merasa kecewa terhadap dia karena perilakunya kepada Anda.  Tapi, ini semua demi putri kesayangan saya. Sebagai ayah, secara tidak langsung saya merasa bersalah terhadap Anda. Tapi, apa mau dikata, mereka sepertinya pantas untuk mendapat kesempatan yang kedua. Dari segi politik juga akan sangat menguntungkan.“
    “Maksud Anda?“ Rumina memegang gagang telepon erat-erat, menahan emosi.
    “Ya, mereka berdua sudah berbaikan. Dan akan segera melangsungkan pernikahan secepat mungkin. Sekali lagi saya sebagai pribadi, ayah dari putri saya dan calon mertua dari Mas Danu, mohon maaf sebesar-besarnya. Untuk segala pengeluaran yang sudah telanjur, nanti saya akan ganti semuanya.“
    Ia meletakkan gagang telepon. Ini semua hanya mimpi buruk. Beberapa menit lagi ia akan terbangun dan menyadari bahwa ia hanya bermimpi.
Tapi, ini bukan mimpi. Kali ini ia dicampak¬kan.

17 Agustus 2014. Balai Kartika Kusuma Bangsa. Di sebuah resepsi pernikahan.
Sang mempelai wanita  cantik sekali. Ia memakai pakaian adat Jawa. Begitu juga mempelai pria, sangat amat tampan sekali. Sepertinya mereka sangat bahagia. Syukurlah, gumam Rumina dalam hati. Sebab aku takkan diam sebelum berhasil membuatnya menyesal pernah dilahirkan.
   
***
Gheya F


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?