Hampir serupa dengan bambu, jumlah rotan di Indonesia begitu berlimpah. Kurang lebih 85% dari bahan baku rotan yang diolah di dunia berasal dari Indonesia. Ada setidaknya 365 jenis rotan yang tumbuh di Indonesia. Namun sayangnya, baru sekitar 5% yang telah benar-benar dimanfaatkan sebagai furnitur maupun bahan baku bangunan. Penggunaan rotan untuk furnitur pun bukanlah inovasi yang baru. Banyak desainer dan perajin tertarik menggeluti material ini karena beragam karakteristik menariknya. Rotan dapat tumbuh hingga sepanjang ratusan meter, sehingga dapat dimanfaatkan untuk produksi dalam jumlah besar. Sifat lenturnya yang tidak semasif kayu membuatnya mudah dibentuk mengikuti desain. Belum lagi warna dan teksturnya yang khas, seakan Anda tak perlu lagi menambahkan finishing penutup lainnya.
Namun, seperti material alami lainnya, rotan tentu masih punya beberapa kekurangan. Hampir serupa dengan bambu, urat rotan terbilang besar sehingga berisiko pecah bila dipaku. Dan, seperti kayu pada umumnya, rotan juga rentan rusak bila terkena air. Itulah mengapa kini banyak diproduksi furnitur rotan sintetis untuk menjawab kebutuhan furnitur rotan outdoor.
Untuk mendapatkan furnitur rotan di era modern ini terbilang mudah. Beberapa desainer lokal kembali menyuguhkan pesona rotan lewat desain-desain modern mereka. Sebut saja Abie Abdillah, Bayu Edward, Alvin Tjitrowirjo, dan almarhum Irvan A. Noeman, yang telah memproduksi beragam desain furnitur rotan bahkan memasarkannya hingga ke luar Indonesia.
Bila Anda ingin menemukan furnitur-furnitur yang lebih ‘mentah’, Anda bisa berkunjung ke Kota Cirebon. Saat ini pemerintah setempat sedang menyiapkan konsep kampung rotan untuk diterapkan di daerahnya dan rencananya akan diresmikan tahun 2017 mendatang. Konsep kampung rotan tersebut juga merupakan hasil kerja sama Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) dan Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo). (f)


