Bencana asap yang meliputi Provinsi Riau ini bukan hal yang baru lagi. Praktik eksploitasi sumber daya alam melalui penggundulan hutan dan praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar ini telah terjadi sejak 1997, dan berulang setiap tahunnya. Selama 17 tahun masyarakat Riau harus menghirup udara yang sarat dengan racun asap. Indeks udara di Pekanbaru Riau saat ini sudah mencapai 900 psi (polutan standar indeks). Ini adalah rekor tertinggi tingkat pencemaran udara yang sangat membahayakan. Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat sudah 55.422 jiwa warga di berbagai kabupaten/kota menderita penyakit akibat kabut asap.
“Angka ini didapat dari jumlah warga datang ke rumah sakit atau puskesmas untuk berobat. Sementara itu ada 5,5 juta warga Riau yang saat ini menghirup udara yang tidak sehat. Dampak ini paling berat diderita kaum perempuan, anak-anak, dan orang tua,” ungkap Riko Kurniawan, Eksekutif Daerah organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) di Riau kepada femina, Jumat (14/3).
Dengan jumlah penduduk Riau yang nyaris 50 persennya adalah wanita, bisa dibayangkan seperti apa kualitas generasi Riau di masa mendatang akibat warga yang selama bertahun-tahun harus menghirup udara beracun?
Mencoba mengurangi warga yang terdampak, sejak tiga hari yang lalu Dinas Kesehatan Pekanbaru Riau menghimbau seluruh ibu hamil dan anak-anak untuk mengungsi dari Riau. Pertanyaannya, Siapa yang akan membawa mereka, kemana, dan siapa yang akan menampung mereka?
Sampai hari ini kabut asap dikabarkan semakin pekat. Saking tebalnya, sinar Matahari tidak bisa menembus, mengubah provinsi Riau menjadi sesuram Gotham City dalam cerita Batman. Apabila tidak segera diatasi, maka akibatnya akan semakin buruk. Apalagi mengingat prediksi BMKG yang menyatakan bahwa musim kemarau masih akan berlangsung hingga Juni nanti.
“Pemerintah perlu mengerahkan segenap sumber daya yang ada untuk mengatasi kebakaran lahan dan hutan di Riau. Sebab, dengan kualitas udara seburuk ini masyarakat mungkin hanya akan bertahan selama satu bulan! Sebab, kadar oksigen terus menipis berganti dengan karbon yang beracun,” tekan Riko.
Satu demi satu korban mulai berjatahun. Dinas kesehatan Pekanbaru menyatakan bahwa sebanyak 48.390 jiwa mengidap infeksi saluran pernapasan atas (ispa) akibat menghirup udara beracun ini. Anak-anak, wanita, dan mereka yang lanjut usia harus mengenakan alat nebulizer untuk membantu agar paru-paru mereka bisa bernapas lebih lega.
Ini bukan hanya urusan Riau, ini menjadi masalah nasional. Sebab, bencana serupa juga
menyerang kota-kota lain, seperti di Jambi, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Sampai kapan kita aman dari bahaya asap akibat praktik pembakaran hutan dan lahan?
Naomi Jayalaksana
Foto: Corbis


