Travel
Rasa Lama Korea di Seoul

8 Mar 2013


Sebagai kota terbesar di Korea Selatan, bisa dipastikan Seoul tak sanggup membendung derasnya arus modernisasi yang masuk, begitu pula untuk urusan kuliner. Jajaran resto hip dari berbagai negeri, khususnya Barat, tumbuh pesat di seluruh sudut kota. Meski begitu, toh hal ini tak membuat kuliner autentiknya mundur. Justru dijadikan aset yang bisa mendongkrak selera santap warga dunia, termasuk femina saat berkunjung ke sana.

Surganya Barbecue

Dapur Korea beken akan sajian bakar-bakaran. Saking penasaran, selepas mendarat di Seoul, femina segera meluncur ke Samwon Garden di kawasan Gang-nam. Sebuah resto yang dikelilingi taman terbuka, dengan bebatuan alam yang besar dan pohon yang diatur sedemikian rupa hingga mengingatkan femina pada lanskap Korea tua.

Menurut Woojong Hwang, warga Seoul sekaligus teman femina selama di kota ini, inilah ‘surga’-nya barbecue gaya Korea. Di antaranya galbi (iga sapi atau babi), bulgogi (daging sapi diiris tipis), hingga ayam dan seafood. Seluruhnya dibakar dengan sistem self service.

Sebelumnya, semua bahan direndam dengan bumbu khas seperti wijen, sari buah pir, kecap, dan bawang putih. Setelah itu, dipanggang di atas lempengan panas yang terletak di tengah meja di dalam resto megah yang sudah berdiri sejak 30 tahun lalu ini.

Piring panggangan pun tiba. Dirancang dengan sangat cerdas. Bagian atas datar dengan beberapa lubang sebagai area keluarnya asap dari arang, disiapkan sebagai tempat meletakkan daging mentah berbumbu. Di bagian bawahnya terdapat ‘kolam’ kecil sebagai wadah arang dan tempat menampung sari kaldu daging.

Tak sabar, femina segera memanggang galbi dan bulgogi di atas arang kayu. Kehangatan instan dari asap sejenak menggelitik wajah. Hmmm… wangi daging bakar yang keluar dari panggangan arang ternyata memang jauh lebih baik daripada panggangan gas yang biasanya ada di resto Korea di Jakarta.

Ada cara khusus dan tak sembarangan untuk menikmati maksimal daging bakar ini.  Setelah dibakar, daging dicelupkan ke dalam ssamjang (saus pedas dari pasta kacang kedelai, cabai merah, dan minyak sayur). Setelah dicelupkan, daging ditaruh di tengah daun selada bersama   irisan cabai hijau, mentimun, wortel mentah, dan bawang putih. Lalu, dibungkus daun selada atau daun perilla (daun wijen/daun shiso) dan langsung dilahap. Tersedia pula kimchi sebagai pendampingnya.

Seafood Kaki Lima, Seru!

Menjelang malam, femina menginjak kawasan Insa-dong dan diajak ke salah satu warung tenda yang ada di sepanjang jalan kawasan tersebut. Suasananya mirip tempat makan di Pecenongan, Jakarta. Sebagian besar makanan yang disajikan adalah seafood. Semuanya dimasak sekaligus dengan cara dibakar di atas kompor yang tersedia di  tiap meja. Hidangan laut itu enak disantap dengan wasabi.

Yang paling unik, kami juga diminta mencicipi gurita yang masih hidup! “Gurita merupakan makanan khas Korea, lho. Rugi jika tidak mencobanya,” kata Ricky, panggilan akrab Hwang. Ia tertawa melihat wajah kami yang terlihat enggan mencoba. Kami mencoba menolaknya sesopan mungkin. Nggak kebayang rasanya, ada tentakel gurita yang menempel kuat di gigi!

Sebagai gantinya, femina menikmati suguhan lain, yakni haemul pajeon,  pancake gurih yang berisi aneka seafood: kerang, udang, atau cumi. Makanan lezat ini juga sering disajikan di beberapa resto sebagai appetizer.  Tak mau ketinggalan, femina juga  mencicipi odeng. Penganan ini direbus dalam kaldu seafood yang terbuat dari kepiting atau ikan teri, plus bawang daun dan lobak. Jika memesannya, Anda akan mendapatkan ekstra kaldu untuk diminum atau untuk mencelupkan odeng.

Sayangnya, Seoul memang kurang tepat untuk menikmati makanan jalanan. Gerobak jalanan di sana dianggap ilegal oleh pemerintah setempat. Pihak yang berwenang pun berusaha untuk menyingkirkan mereka. Namun hal ini tidak menghentikan pendatang untuk menikmati sensasi jajanan kaki lima.

Hangatnya Samgyetang dan Soju

Menginjak malam berikutnya, Ricky juga mengajak femina menikmati kawasan Myeong-dong alias kawasan perbelanjaan yang digemari para ABG. Di sepanjang jalan daerah tersebut terdapat restoran dan kedai minuman tradisional yang jumlahnya cukup banyak.

Konon, pria-pria Korea senang menghibur diri dengan cara minum sambil berkaraoke. Setelah seharian bekerja, mereka biasanya bersantai, berkumpul bersama sahabat.
“Tapi, tak semua minuman itu beralkohol, banyak juga yang lebih suka minuman ringan,” cerita Ricky. Di sana, Ricky juga mengajak kami mencicipi samgyetang, sup dari ayam muda utuh berisi rempah dan ginseng yang dihidangkan dengan nasi ketan. Semua bahan direbus sekaligus dalam panci tanah liat khusus. Selagi panas, langsung disajikan. Tiap orang akan mendapatkan satu panci samgyetang. Sedap sekali!

“Samgyetang populer dikonsumsi sebagai sumber nutrisi pada musim panas, di mana warga Korea kehilangan banyak energi karena cuaca panas,” tambah Ricky. Sebagai padanannya, Ricky mendesak femina untuk menyeruput soju. Minuman beralkohol atau minuman distilasi ala Korea.

Walau bahan bakunya beras, sebagian besar produsen soju menggunakan bahan pengganti, seperti kentang, gandum, ubi, atau dangmil (tapioka). Minuman ini terlihat bening dengan kadar alkohol beragam, antara 20% sampai 40%.

Selain  itu, femina juga ditawari minuman tradisional non-alkohol, yaitu berbagai macam teh, mulai dari teh ginseng, teh hijau, sampai teh jahe. “Kalau saja usia saya lebih tua, kalian harus mengangkat gelas dengan kedua tangan untuk menerima minuman yang saya tuangkan ini. Begitu pula jika kalian menuangkan minuman bagi orang yang lebih tua,” katanya.

“Suatu kehormatan bagi seseorang jika orang yang lebih tua menawarkan dan menuangkan minuman. Orang yang lebih muda akan memutar tubuhnya agak menyamping, lalu baru minum. Hal itu dilakukan untuk menghormati orang yang lebih tua,” kata Ricky, menambahkan.  

Bersantap ala Raja

Sebelum kembali terbang ke Jakarta, femina menyempatkan diri untuk merasakan hanjeongsik di Bongraheon. Sebuah rangkaian makan semacam fine dining ala kerajaan di Korea, yang dimulai dari makanan pembuka hingga penutup. Dua hal yang harus Anda persiapkan: perut yang benar-benar kosong dan waktu yang cukup panjang agar tidak terburu-buru.

“Di restoran yang luas ini, biasanya tiap meja diberi tirai agar pengunjung merasa makan di ruangan pribadi,” jelas Ricky. Hanjeongsik dimulai dengan appetizer, lalu banchan. Berbeda dengan makanan pembuka cara Barat, hidangan di sini disuguhkan dalam takaran porsi kecil, tetapi banyak ragamnya, yakni dalam mangkuk-mangkuk mungil  dan bercita rasa  gurih untuk mengundang nafsu makan.

Yang disajikan sebagai pembuka adalah kimchi, namul (sayuran rebus yang dilumuri minyak wijen), dan jeon (gorengan). Sambil menunggu makanan utama datang, femina mencicipi  variasi ketiga macam camilan ini. Jika makanan utama belum datang dan masih ingin ngemil, Anda boleh meminta tambahan camilan tanpa dikenakan biaya tambahan.

Untuk makanan utama, seperti halnya makanan Indonesia, makanan Korea sangat bervariasi. Jika ingin sesuatu yang berkuah, bisa mencoba kimchi jjigae (sup kimchi dan daging), sundubu jjigae (sup tahu dan telur), atau seolleongtang (sup tulang sapi).
“Jika tidak mau berbagi makanan, bisa memesan jenis makanan dalam  hot pot seperti dolsot bibimbap,” saran Ricky. Bibimbap adalah nasi campur ala Korea yang disajikan dalam mangkuk batu panas. Aduk dulu sebelum disantap! Acara bersantap makin seru saat mencicipi gugigui (baca: kukikui) atau daging bakar yang serba lezat itu!  

Tahapan terakhir dalam hanjeongsik adalah dessert. Seperti halnya appetizer, makanan penutup pun bervariasi. Pilihannya biasanya mulai dari buah-buahan segar (semangka, melon, jeruk), es krim (rasa teh hijau atau kacang merah), dan minuman penutup favorit, yakni es kopi. Wah, benar-benar pengalaman makan yang tak terlupakan. Mimpi bertemu selebritas Korea pun lenyap seketika!



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?