Televisi kita penuh tayangan yang mengupas tingkah-polah selebritas, sudah bukan hal baru. Hampir tiap stasiun televisi memiliki program infotainment, yang ditayangkan pada pagi, siang, maupun sore hari. Dalam perjalanan ‘kariernya’, infotainment juga kerap mendulang protes: dianggap sebagai ghibah, tidak mendidik, dan masih banyak lagi hal miring lainnya. Namun, program ini tak pernah mati karena memang ada peminatnya. Biaya produksi yang murah dengan pemasukan iklan yang besar juga menjadi penyebab lain. Tapi, ketika tayangan acara selebritas ini kian melangkah jauh –berbentuk siaran langsung hingga belasan jam-- benarkah masyarakat (baca: wanita) memang menyukainya?
Ignatius Haryanto, peneliti media dari Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), menyadari bahwa selama ini wanita memang sering dijadikan alasan mengapa tayangan seperti ini ada. “Pemirsa kita memang suka pada hal-hal yang menghibur dan melodramatis,” katanya.
Harus diakui pula, saat ini segala hal yang terkait selebritas diulik habis-habisan. “Julia Perez sakit apa, kita tahu. Dari mana dia kena penyakit itu, kita juga tahu karena dia memang ngomong blakblakan di televisi,” ujarnya. Menurut Hary, buat si selebritas, acara itu memang memungkinkan mereka mendapatkan expose, karena bagaimana pun ada kebutuhan bagi selebritas untuk memelihara ingatan publik terhadap diri mereka.
Masalahnya, ketika mereka ditampilkan dalam bentuk infotainment seperti yang ada sekarang ini, liputan dunia hiburan itu hanya pada urusan pribadi para selebritas. “Jarang kita dengar misalnya –dari tontonan saya yang enggak lengkap ini- acara yang benar-benar mengulas mengenai prestasi si selebritas,” ujarnya. Misalnya, saat film Pendekar Tongkat Emas sedang tayang, dibahas bagaimana Eva Celia itu menyiapkan diri untuk tampil di film itu sebagai pendekar, berapa lama latihannya. “Bila liputannya seperti itu, berarti kita bicara tentang dunia hiburan yang sesungguhnya,” imbuh Hary.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Judhariksawan, juga membeberkan fakta yang akan membuat kita berpikir benarkah tayangan selebritas –termasuk siaran live acara selebritas-- ini kesukaan ibu-ibu? Terlepas dari fakta bahwa hubungan antara selebritas dan media infotainment itu seperti telur dan ayam (hubungan yang tak ada habisnya untuk dijawab), “Tayangan acara selebritas ini di TV klasifikasinya R, untuk remaja. Padahal aturannya, untuk klasifikasi remaja, program itu harus mengandung suasana, psikologi, dan gaya cerita remaja dengan tujuan untuk membangun remaja jadi lebih baik. Pertanyaannya, dengan informasi kawin-cerai, selingkuh, konflik rumah tangga, apakah benar itu buat remaja?”
Dengan klasifikasi R itu, harusnya lembaga penyiaran bisa memilih mana konten yang aman, mana yang tidak. Mereka bisa saja mengklaim program mereka banyak disukai ibu-ibu sehingga akhirnya yang keluar model-model berita seperti itu. Tetapi, bila pilihannya seperti itu, ada konsekuensinya, yaitu tayangan ini harus masuk kategori tayangan untuk dewasa yang artinya harus tayang setelah pukul 22.00.
Di luar masalah konten, hal paling mendasar yang harus disadari semua orang adalah bahwa frekuensi yang digunakan oleh televisi-televisi itu adalah sumber daya yang terbatas yang menurut UU Penyiaran dimiliki oleh negara. Oleh negara, frekuensi itu dipinjamkan kepada lembaga penyiaran (televisi) untuk dikelola.
Karena milik publik, lembaga penyiaran memiliki tanggung jawab yang –sebenarnya-- tidak ringan, yaitu menampilkan tayangan yang mengutamakan kepentingan publik. Karena itu, wajar jika kemudian ditanyakan, dari pernikahan Raffi-Gigi atau persalinan Ashanty, di manakah letak kepentingan publik itu?
Karena milik publik, lembaga penyiaran memiliki tanggung jawab yang –sebenarnya-- tidak ringan, yaitu menampilkan tayangan yang mengutamakan kepentingan publik. Karena itu, wajar jika kemudian ditanyakan, dari pernikahan Raffi-Gigi atau persalinan Ashanty, di manakah letak kepentingan publik itu?
Liestianingsih D. Dayanti, dosen Dept. Komunikasi FISIP Universitas Airlangga Surabaya, menegaskan, karena tanggung jawab itulah maka jika menampilkan tayangan yang hanya untuk kepentingan kalangan tertentu, itu berarti telah melanggar hak-hak pubik. “Memang, sih, tiap penonton pasti butuh sisi entertainment dalam sebuah acara. Tapi, khusus di tayangan siaran langsung yang durasinya terlalu panjang, dari pagi sampai sore, ini benar-benar merampas hak public,” ujarnya. Menurut Liestianingsih, kalau ada orang yang menyatakan tidak masalah dengan tayangan seperti itu, maka berarti ia tidak paham bahwa hak-haknya telah dirampas. Nah!
YOSEPTIN PRATIWI



