Trending Topic
Peluncuran Vitek Mass Spectrophotometry

28 Mar 2013


PT Kalbe Farma Tbk melalui anak usaha PT Enseval Medika Prima (EMP) meluncurkan Vitek Mass Spectrophotometry (Vitek MS), sebuah alat kesehatan dengan teknologi baru pemeriksaan mikrobiologi dalam darah. Tes ini membantu diagnosa penyakit serta penentuan fungsi penggunaan antibiotik agar lebih tepat dan rasional.

“ EMP ingin mewujudkan Indonesia yang lebih sehat melalui alat kesehatan yang tepat dalam proses penyembuhan berbagai penyakit, bertepatan dengan 16 tahun kerjasama antara EMP dan Biomerieux kami meluncurkan teknologi baru Vitek MS,” ujar dr. George Kiongdo, Direktur PT Enseval Medika Prima.

Masa waktu identifikasi jenis bakteri atau pun kuman dalam tubuh pun dipersingkat dalam hitungan menit saja, yang biasanya mencapai waktu 1 sampai 3 hari, sehingga memudahkan pelayanan dan penanganan pasien.

“ Teknologi mikrobiologi klinik semakin berkembang, dulu pemeriksaan membutuhkan waktu sangat lama, sekarang hanya dalam waktu dua menit koloni bakteri dalam darah dapat teridentifikasi. Pemeriksaan darah ini memiliki peran penting dalam proses penyembuhan penyakit khususnya dalam menentukan penggunaan obat antibiotik bagi pasien,” jelas Prof. Amin Subandrio, PhD, Sp.MK, Deputi Menteri Negara Riset dan Teknologi.

Dengan pengembangan teknologi ini selain menghemat waktu tes laboratorium, biaya rumah sakit pasien juga dapat ditekan.

“ Vitek MS dapat memeriksa 10.000 kuman per tahun, dan dibekali Software AES (advanced expert system). Dengan kecanggihan teknologi ini, kuman-kuman mikrobiologi akan dipilah, dideteksi, serta dikenali kemudian dicek dalam data base kuman yang terus diperbaharui ,” ungkap Country Manager Biomerieux Indonesia, Drs. Sugianto Hondopranoto.

Dr. Frans J. Pangalila, SpPD(KIC) dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara menambahkan bahwa terobosan terbaru dalam bidang mikrobiologi ini dapat menekan angka mortalitas penduduk Indonesia.

“ Penggunaan obat antibiotik yang tidak tepat akan menimbulkan ekses negatif kepada tubuh. Jika terlalu rendah dosisnya dapat menimbulkan kematian karena tidak tertangani penyakitnya atau pasien harus dirawat lebih lama untuk pemulihan. Jika terlalu tinggi dosisnya, pasien bisa resisten (kebal) terhadap antibiotik tersebut dan biaya obat juga akan mahal,” urai Dr. Frans.

Woro Hartari Trianti



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?