Fiction
P U I T R I [1]

21 Oct 2012

Are you somewhere feeling lonely, or is someone loving you?
Tell me how to win your heart
For I haven't got a clue
But let me start by saying... I Love U.
(Hello, Lionel Richie)

“Matikan lagu itu!“ bentak Matahhati. Dadanya memanas, perutnya menegang. Ia letakkan teh dari Dusun Kemuning di samping komputer Pabelan, kekasihnya.  Batang sereh bergetar diam dalam  cangkir tanah liat dari Tegal.  Lagu lawas Hello, Lionel Richie, berputar  intro musiknya dari tuts piano yang  menekan-nekan perasaannya, berdeburan.
   
Suara Lionel Richie jernih, bening melengking indah, merayu telinga siapa pun yang mendengar, menggetarkan ruang. Tapi, bagi Matah, bening itu seperti jernih belati berkelebat mengiris udara di hampa hatinya. Liriknya membuat goyah hati dan membasahi mata.
   
Pabelan telah mengulangnya beberapa kali. Matah sedang membaca Angsa-Angsa Liar karya Jung Chang sampai halaman 559, hampir habis, ia berlari menyingkir di kebun kosong depan rumah itu, angannya meraih acak satu buku lagi untuk menemani pelariannya. Hatinya membadai. Ia letakkan saja dua buku itu, ia duduk di bawah pohon yang buahnya mirip buah salam atau plum. Tak satu pun orang tahu nama pohon itu.
   
Ia tak bisa meneruskan bacaannya. Ia ingat tetangganya, suami istri di depan rumahnya. Sang istri meminta mematikan lagu Didi Kempot, Sewu Kutho, jika suaminya memperdengarkan lagu itu di rumahnya. Ah, ia merasakannya sendiri kini. Satu musang pandan berlari melihat Matah.  Matah melihat ekornya cokelat seperti mantel diva. Pabelan menyusulnya. Matah terburu meraih salah satu buku itu dan pura-pura membacanya.
  
“Sang Alkhemist…? Kau kan sudah membacanya dulu sekali?”
Matah kaget, buru-buru ia menjawab sebisanya. Karya-karya Paulo akan didiskusikan lagi.
“Bukankah musim bunga turi ini kamu dan teman-temanmu akan diskusi tentang novel Angsa-Angsa Liar? Kamu pernah cerita dulu…? Sastra di musim bunga turi….?”
Matah diam, ia benar-benar tak sengaja dan tak tahu novel Sang Alkemist, Paulo Coelho, yang diambilnya secara acak tadi. Matanya menunjuk pada novel Angsa- Angsa Liar yang tergeletak di sampingnya.
   
Sejak kemarin sore, ketika ia datang ke rumah itu, Matah sudah menahan diri begitu mendengar lagu Hello terdengar lirih. Lagu manis dan romantis itu menegangkan sarafnya, mengeruhkan matanya. Diam-diam ia menyembunyikan kebenciannya pada lagu itu. Tapi, sore ini ia tak bisa lagi menahan kata. Ia telah melihat link lagu Hello di dinding facebook Pabelan yang dikirimkan Puitri.
   
Seperti sudah membaca hati Matah. Posting lagu itu sudah tak ada lagi di dinding Pabelan, entah si pengirim atau pemilik dinding yang menghapusnya. Atau memindahkan lagu itu ke jalur inbox, kotak pesan jalur pribadi. Ah, Matah  makin gerah hati. Puitri juga mem-posting link lagu itu ke dindingnya sendiri, dengan menambahi tulisan, Hello, is it me you looking for? Satu syair dalam lagu itu.  Sampai tiga sore ini Matah masih menemukan Pabelan dengan lagu itu.
   
Pabelan meraih tangan Matah bangkit dari kebun itu sambil menakuti kadang masih ada ular sawah atau ular bawang di gerumbul perdu ciplukan dan ketela mentega yang ditanam Pak Pongge, penjaga malam perumahan itu.
   
Matah merasakan tangan Pabelan menyembunyikan sesuatu. Hangat, tapi getarannya berbeda dari sebelumnya, atau itu karena getaran tangannya sendiri  yang resah karena lagu itu. Dikembalikannya Sang Alkhemist ke rak, musik dari sepasang speaker dengan dua nyala titiik merah itu telah berganti dengan Beethoven Sympony No. 9 bergantian dengan Mozart Symphony No. 25, piano concerto  No. 21, lalu Moonlight Soneta Beethoven yang lembut. Padahal, hatinya sedang mendendangkan Requiem, atau Ode to Joy yang sedih.
   
Ia ingat, Puitri pernah men-share di dinding facebook-nya Requiem Mozart, dan katanya lagu itu mengingatkannya pada pertunjukan Opera Diponegoro Sardono W Kusumo yang ia tonton sampai tiga kali di ISI Solo dan RRI. Padahal, waktu itu Pabelan dan Matah juga menontonnya berdua. Kenapa Tuhan belum menemukan mereka waktu itu, padahal ada dalam satu gedung yang sama dengan tiga ratus penonton saja?
   
Pabelan meraih sepasang kaki Matah ke pangkuannya. Tanpa melihat ke arah Matah ia mencabuti bunga rumput yang menusuki ujung celana jeans Matah, bunga putik-putik lancip itu berlepasan ketika tersentuh, seperti jarum yang menempel. Mungkin Pabelan ingin minta maaf dengan perhatian itu. Tapi, hati Matah masih belum reda murung hatinya. Lagu klasik yang memenuhi ruangan itu  makin memberi ruang galaunya. Kenapa Puitri memberikan lagu itu dengan  video romantis di kelas seni drama, dosen dan mahasiswinya yang buta, dua manusia yang berjarak tapi hatinya saling bertaut.
   
Keduanya diam, tangan Pabelan masih mencabuti jarum rumput yang berderet seperti peniti. Mereka tidak membicarakan lagu itu. Pabelan berusaha berbicara hal lain. Tentang pohon di kebun yang buahnya mirip plum, daunnya yang mirip daun jambu mawar itu akan menguning seluruhnya lalu berguguran, tak satu pun daun tersisa dan yang tampak tinggal batang dan ranting. Di musim hujan, semi daunnya bermunculan kecil-kecil. Belum pernah ada pohon seperti itu di Kota Solo, hanya randu alas yang mengalami itu di kota ini, dan jumlahnya hanya beberapa pohon saja.
   
Matah masih tidak bersemangat ketika Pabelan menceritakan musang yang semalam memakan buah matoa yang telah berwarna merah anggur di halaman belakang. Piano Mozart malah mengembuskan bisikan pada lagu Lionel Richie, Hello, menguat kembali di hati Matah. Bila di tempat terbuka saja Puitri berani memberikan lagu romantis itu, apalagi di jalur pribadi? Di mana semua orang tak tahu apa yang dikirimnya pada Pabelan?
   
Ada banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Pabelan sebenarnya. Kenapa Pabelan memesan undangan lebih banyak kepada Matah sebagai salah satu panitia pergelaran tari kolosal Matahhati di Mangkunegaran? Kenapa Pabelan berkeras mengajaknya menonton pertunjukan piano tunggal dari Cina di rumah Sardono W. Kusumo di daerah Kemlayan? Dan dari mana ia tahu di ujung gang rumah itu ada penjual rujak langganan Ibu Tien Soeharto zaman dulu? Matah menunduk, pandangannya pada beberapa genggam rumput jarum yang terkumpul di sudut  lantai. Pabelan telah membersihkan rumput jarum di celananya, tapi rumput jarum yang lain tumbuh mengendap meriyap-riyap di palung perasaannya.

****
Dua hari, kecemburuan Matah telah mengering. Kalau itu daun, gemerisik  yang memecah mengering di bawah terik matahari itu masih mengganggunya, jadi  masih ada dan membekas sampai nanti, meski berubah jadi humus yang menyuburkan hidup. Ia buka dindingnya sendiri, dua hari lalu ia telah men-share lagu Torn, Natalie Imbruglia, di dindingnya. Duri-duri itu diharapkan akan terus melunak, hingga ia tak sanggup menyobek hatinya, hingga ia akan menelannya tanpa terlalu banyak mengeluh kesakitan.
   
Tapi, ia tergoda untuk membuka dinding Puitri.  Ia tahu mungkin akan terluka, tapi ia akan menikmati sensasi luka itu. Mungkin ia  makin terluka bila tidak membukanya. Hmm, Titi, seorang penulis novel remaja, menyapanya,  “Mbak, aku iri dengan huruf ‘i’ di tengah namamu.”
   
Matah mencibir kecut dalam hati. Ia ingat Pabelan ketika memuji namanya.  Matahhati adalah nama dari istri Pangeran Samber Nyawa, Raden Mas Sahid atau Mangkunegara I. Kakek Matah seorang kerabat Pura Mangkunegaran dan menjadi kepala perpustakaan Mangkunegaran. Maka, nama itu pemberian dari sang kakek untuk nama cucu perempuan pertamanya. Masih lebih indah dan bersejarah namanya, seru Matah di persembunyian hatinya.  
   
Lalu Matah menurunkan anak panah, jari tengahnya memutar mouse komputernya menurun. Puitri menulis, “Aku Gunung Merbabu yang tak pergi ke mana pun, dan tak banyak bicara tentang bulan dan awan.” Dua puluh dua jam yang lalu ia menuliskan kalimat itu.
   
Matah ingat, Pabelan memperhatikan Merbabu lama sekali senja itu. Beberapa hari itu Merbabu dan Merapi tampak jelas dari Solo hingga senja. Apakah Pabelan telah menerima pesan dari Puitri di teleponnya untuk keluar rumah melihat Merbabu? Juga untuk keluar melihat gerhana bulan, beberapa malam lalu? Lalu Pabelan menuliskan di notes di meja teras itu. “Merbabu tampak berterus terang beberapa hari ini, Merapi kehilangan kata, wangi wedang pisang di pinggir kali kuning, tercium di teras ini.”
“Kau akan men-share kalimat ini di dinding?” tanya Matah di sampingnya.
“Tidak, aku tidak pernah menulis apa-apa di dunia maya,” jawab Pabelan tersenyum.
Beberapa prasangka meliuk, menembus terusan semisutra yang sedang dikenakannya, lalu menembus bebas dadanya. Matah menurunkannya lagi halaman dinding Puitri.  “Telah tiba musim bunga turi, hanya beberapa pohon saja di kota ini, seperti  rona pipi penari,  dingin pancaroba ini, di manakah kamu?” Puitri menulisnya kemarin.
   
Mata Matah serasa berasap, pedas. Jadi, dia juga perhatikan beberapa pohon turi yang tertinggal di kota ini? Siang itu ia dan Pabelan menumbuk kacang goreng, dengan daun jeruk dan kencur untuk membuat sambal pecel bunga turi, yang paginya mereka beli di Pasar Kleco. Pabelan yang mengingatkan bunga itu.  'Kamu'...? Apakah Pabelan, yang dimaksud dengan 'kamu' itu? Oh, so sweet, tapi Matah hatinya merintih.

Matah tergoda menurunkan lagi halaman dinding itu dan kemarin Puitri menulis, “Makan siang sendiri di warung dekat sawah, sawah terakhir di kota Solo mungkin.” Matah buru-buru menutupnya. Ah, Pabelan pernah membicarakan juga tentang sawah terakhir di kotanya. Sebentar galau menggodanya, tapi tak lama. Lalu ia membuka dinding Pabelan. Sepi. Mungkinkah jalur private-nya yang ramai?

Tapi, Matah setengah tersenyum, Pabelan mengganti foto profilnya dengan foto mereka berdua. Matah tidak terlalu berbahagia melihatnya, lagu Hello itu terus mengalun di sepi hatinya. Matanya terus melihat  kotak e-mail-nya, seakan menarik dan mengajaknya masuk dalam satu pintu gua bawah tanah.  Siapa saja  hanya bisa mengirimkan pesan tapi tidak bisa tahu pesan yang lain. Mungkinkah Pabelan dan Puitri sering berkirim e-mail?

Seandainya Matah tahu password e-mail Pabelan. Ya, seandainya Matah tahu. Dulu, awal mereka bersatu, tak ada rahasia di antara mereka. Kata sandi e-mail mereka sama. Dan tentu hanya mereka berdua yang tahu. Dan mempunyai kata sandi bersama ternyata merepotkan. Mereka memutuskan mempunyai kata sandi sendiri-sendiri. Kini hanya tinggal nomor PIN kartu ATM saja yang masih tak ada rahasia di antara mereka berdua.
   
Serasa gerhana, hitam gelap membulat. Mata hatinya gelap, cahaya pucat memaksa keluar, tapi tertahan keping hitam. Matah menulis alamat e-mail Pabelan. Jantungnya seperti anak panah yang tak terkenali lagi oleh busurnya, biasanya ia menulis namanya sendiri.
   
Ia mencoba memasukkan kata sandi di e-mail Pabelan. Kata-kata penting dalam hidup Pabelan, seperti nama ibunya, pelukis kesukaannya, Van Gogh, judul lukisan Van Gogh, Irises atau Starry Night dengan mengambil delapan huruf, semua tidak mau membuka dengan kata itu. Matah mulai berdebar ketika ia menuliskan namanya sendiri, nama kecilnya, juga satu kata yang dalam dunia ini adalah kata milik mereka berdua, bahkan malaikatpun tak tahu rahasia kata milik mereka.
   
Tapi, ia kecewa karena e-mail itu tak juga membuka dan selalu muncul tulisan berhuruf merah yang mengatakan kata sandinya salah. Wah, 'kata' milik mereka berdua tak lagi penting buat Pabelan. Jantung Matah berdegup, ketika ia masukkan kata Puitri dalam kata sandi. Tapi, ia cukup lega dan menghela napas panjang karena bukan Puitri kata sandi itu, meski Matah telah membalikkan hurufnya dari belakang, mengacaknya dan menambahi nama belakang Puitri, tapi tetap gagal. Hmm, cukup rapi juga Pabelan menyembunyikan satu kata sandi itu.
                            
           ***
   
“Halo?”
Matah terpaku, kata halo mengingatkan kembali pada lagu Hello. Suara Lionel Richie berputar jelas di ruang ingatan. Suara Kambangarum temannya di seberang telepon terlambat dijawabnya.
“Temanku kesambet kiai, kita ke sana Matah, mungkin dia bisa menolong kamu menanyakan hubunganmu dengan Pabelan. Banyak yang sudah manjur,” suara Kambangarum gegap gempita di ujung telepon.
“Ha?  Oh, ya?” Matah tak percaya, ada saja cerita dari Kambang.
“Temanmu? Lelaki atau perempuan?” Matah mengerutkan dahinya.
“Perempuan, Lungsari. Kalau nanti sekiranya syirik, kita tinggal saja, kita coba dulu,” Kambang bersemangat.
Matah hanya bisa melongo. Tidak semua jalan itu terlihat. Mungkinkah ini jalan yang ingin ditunjukkan padanya. Matah ragu, tapi semangat Kambang membuatnya tak sendiri.
                                                           ***

Kambang dan Matah telah sampai di rumah modern bercat putih apel. Rumahnya tidak terkesan rumah milik orang pintar. Tapi rumah orang kaya zaman sekarang. Pintu utama menuju ruang tamu itu gebyok jati ukir Jepara. Padahal, Matah membayangkan rumah kuno  bergaya Jawa dan Eropa yang mistis.
   
Satu orang antre di teras, sementara   satu orang sedang berada di dalam. Tak lama mereka datang, ada satu keluarga tiba. Tampaknya dari luar kota. Kambang mengajak untuk mengambil giliran yang terakhir saja agar bisa berbincang lebih lama.
“Jadi itu teman SMP-mu?” bisik Matah. Setelah rumahnya, ia melihat tuan rumah tak tampak seperti orang pintar. Pakaiannya mirip Kambang, jilbab ibu-ibu muda yang fashionable. Dan… benarkah? Ia melihat seorang perempuan hamil berkerudung segi empat putih dengan tusuk emas putih dan batu safir keunguan di kepalanya. Bajunya kaus panjang ungu dengan celana panjang putih. Matah memandang ke arah Kambang dengan tatapan tak percaya.
“Yah, namanya dukun anyaran (baru),” kata Kambang lirih, sambil tersenyum. Ia juga tak menyangka Lung yang dipilih kiai itu untuk mewariskan ilmunya.
   
Setelah tak ada lagi antrean, Lungsari menyambut Matah dan Kambang layaknya seorang teman saja. Dan Lung memang teman Kambang. Anak mereka sekolah di TK yang sama. Gerai tawa memecah. Tapi, setelah Kambang mengatakan kedatangannya mengantar Matah, Lung terdiam, menyilakan Matah duduk tenang di atas lampit tikar Kalimantan. Lung menatap Matah seperti melihat jejak peta.

“Ada apa Matah? Kau hampir memiliki semua.” Suara Lung tenang, berwibawa, kulit wajahnya bersih dan segar, pasti ia seperti Kambang memakai krim pagi dan malam dari dokter kecantikan. Berbeda ketika menyambut mereka datang, kini mata Lung tampak meredup dan fokus. Matah menceritakan semua resah dan galaunya, tentang Pabelan, kekasihnya.
“Aku hanya ingin tahu kata sandi itu Lung....”
Lung diam mengikuti resah Matah.
“Buat apa?”  Kambang terbelalak mendengarnya. “Yang penting adalah hubunganmu dengan Pabelan, tak perlu kata kunci itu,” desak Kambang.
“Kamu meresahkan yang tak ada,“ suara Lung seakan menggema di dinding hati Matah.
Benarkah tak ada? Dia itu tak ada? Tak mungkin, mereka baru saja bertemu di  reuni aktivis kampus. Pabelan ketua pencinta alam, dan dia adalah anggotanya. Mereka sering naik gunung bersama, mungkin juga pernah hanya berdua saja.
“Ada, tapi tidak seperti yang kamu khawatirkan, dan bagaimana kamu tahu?” tegas Lung hati-hati.
“Di dunia maya,” mata Matah tertunduk
Lung tertawa kecil.
“Di dunia maya yang nyata ada, tampak samar, yang sebenarnya tak ada tampak nyata,” sindir Lung.
“Tapi , aku tetap ingin tahu kata sandi itu,” wajah Matah mengeras.
“Temuilah dia, dia tidak seperti yang kamu khawatirkan.”
Matah diam. Apa? Ia tidak akan pernah ingin bertemu dengannya. Tapi, foto Puitri di puncak Merbabu itu melekat  di ingatannya.
“Baiklah,” Lung diam agak lama. Hening. Jantung Matah berdebaran. Napasnya memburu. Pabelan terus meneleponnya, tapi Matah belum mengangkatnya. Ia  mengirim pesan menanyakan  di mana Matah berada.
“Kata sandinya ... hatimatah,” ucap Lung pelan.
Kambang tersenyum. Matah bersemu merah wajahnya.
“Halah, tidak ada gunanya kita ke sini kalau hanya untuk tahu itu,” seru Kambang, tertawa kecil. Matanya melirik ke samping.
“Benarkah? Atau kau hanya ingin menyenangkan hatiku? Kemarin kata itu telah kumasukkan, tapi e-mail itu tak mau membukanya,” suara Matah berserak ragu.
“Dia telah mengganti kata sandi itu,“ suara Lung ringan di udara.
“Kapan?” Sejenak semu merah itu lenyap berganti garis curiga
“Pagi tadi.”
“Bisakah aku tahu kata sandi sebelum ini?” Matah merayu Lung.
“Cukup Matah!”  Suara Kambang meninggi.
Lung menunduk tenang dan sedikit dingin. Ia tak berapi-api seperti Kambang.
Lung menjawab hampir tanpa gejolak. Berbisik, tapi suaranya jelas. “Matahku...,” desis Lung.
   
Angin dingin pancaroba mengembus kuat, memukul-mukulnya, Matah kaget. Tubuhnya lemas menggigil, bahkan ‘Pabelan’ bukan kata sandi Matah untuk membuka e-mail-nya. Kata sandinya adalah sebuah kata dari puisi seorang penyair pujaannya. Wajah Pabelan jelas terlihat di depannya. Digenggamnya telepon di tangannya yang berkeringat, awalnya ia ingin membuka e-mail Pabelan. Ia berharap akan menemukan puisi kiriman Puitri atau sebaliknya, tapi ia urungkan niat itu. Ia biarkan Pabelan memiliki rahasianya sendiri seperti mereka memutuskan untuk memiliki kata kunci sendiri-sendiri.
   
Dibacanya pesan dari Pabelan. “Hai angsa liar, kembang turinya habis, ke pasar kesiangan. Tapi ini ada ikan kembung, pecel daun pepaya yang tak pait dan buah kecipir muda, juga kembang  kecombrang yang menyala merah untukmu.”

Puitri Hati Ningsih



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?