Fiction
Musim Gugur Hay On Wye [3]

15 Jan 2015


<<<<< Cerita Sebelumnya


Kisah sebelumnya:
Ketika suaminya menghilang selama tiga hari, betapa bingung hidupnya. Memang dia baru mengenal suaminya sesaat sebelum memutuskan menikah. Proses laporan kehilangan di kantor polisi justru membuatnya kian gamang. Ia pun mencoba menggali masa lalu suaminya dengan Praha, teman baik suaminya.  


    “Kami masih belum berhasil menemukan jati diri suami Ibu yang sebenarnya.” Penyidik itu memberikan laporan pengembangan penyelidikan padamu.
    “Data dari teman Ibu sangat bermanfat, namun masih belum memberikan hasil final.”
    Kau mengangguk. Penantian-penantian itu memberimu pelajaran tentang kesabaran sekaligus terapi untuk melapangkan hati seluasnya.
    “Dengan bagasi buku-buku yang berasal dari Hay on Wye itu kami menduga bahwa ia berangkat dari Inggris. Bisa dari Manchester atau London. Dari jenis iduga dia transit di Dubai. Masalahnya ada lebih dari 100 penumpang warga negara Indonesia di dalam pesawat itu. Tidak mudah menentukan salah satunya sebagai suami Ibu. Data manifes penumpang, tak pula menyertakan jumlah bagasi yang dibawa.”
    “Ya, dia mengatakan kardus bagasi yang tertukar itu tak bernama.”
    “Alternatif lain adalah mendeteksi melalui foto paspor, itu yang sedang kami akses datanya. Diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk mengumpulkan data-data tersebut.”
    “Saya mengerti, terima kasih bantuannya,” katamu tulus. “Saya lebih khawatir telah terjadi sesuatu yang buruk padanya, sementara waktu yang dimilikinya untuk mendapatkan bantuan, barangkali terbatas.”
    “Maksudnya dia mengalami semacam musibah atau kejahatan?”
    Kau mengangguk.
    “Semoga bukan hal semacam itu yang terjadi.”
          Mata penyidik itu menatapmu lunak. “Bagusnya adalah, data penyelidikan kami pada rumah dan toko buku, menunjukkan bahwa dia tidak terlibat pada sesuatu yang terlarang. Mulanya kami berpikir mungkin saja dia terlibat pada jaringan berbahaya, yang berafiliasi dengan gerakan radikal atau organisasi lain semacam itu. Tapi, dari data-data buku dan dokumen yang ada, sama sekali tidak menunjukkan itu. Sejauh ini, kesimpulan itu yang kami peroleh. Mudah-mudahan kami tidak lengah melewatkan sesuatu.”
    Kau menarik napas panjang. Kelegaan mengalirimu pelan-pelan. Memberimu harapan-harapan yang menumbuhkan semangat untuk tak menyerah. Memberimu energi untuk menunggu, sekaligus mencari.

*
    Kau bukan seorang perempuan yang mudah jatuh cinta. Justru kau terlalu cepat menjaga jarak pada laki-laki yang mengirimkan sinyal perhatian khusus padamu. Kau tidak terlalu tahu apa yang kau inginkan pada seorang laki-laki. Seperti umumnya para perempuan menetapkan kriteria bangunan masa depan dan hidup asmaranya. Kau lebih mematuhi rasa hatimu belaka, dengan atau tanpa alasan spesifik.
    Tapi, melihat caranya menyayangi buku dan ketelatenannya meladeni tamu di toko, membuat  hatimu hangat. Siapa pun yang datang, entah benar-benar membeli atau sekadar menumpang baca, selalu disambutnya sebagai sahabat. Ditemukannya buku-buku yang mereka cari, ditemaninya mereka menemukan buku baru, didengarnya  tiap cerita mereka. Entah tentang buku, justru lebih banyak tentang kisah sehari-hari. Dia menjadi sahabat bagi  tiap orang.
    “Mengapa memilihku?” Suatu hari kau bertanya. Ujung matanya bergerak menyiratkan semacam keterkejutan pada pertanyaanmu.
    “Hmm, jangan katakan bahwa kau telah mengucap janji untuk menikahi pembeli buku pertama saat Rumah Buku ini dibuka,” sergahmu sebelum dia memikirkan jawabannya.
    Dia terbahak. “Aku bukan petaruh, tak akan kuserahkan hidupku dengan cara semacam itu.”
    “Tentu saja. Pada umumnya laki-laki melihat pernikahan sebagai penjara.” Kalimatmu menyimpan dugaan sekaligus tuduhan yang tendensius.
    “Bukan itu, sebenarnya lebih pada pertimbangan kemampuanku sendiri.”
    “Maksudnya?”
    “Pernikahan itu adalah janji. Kedua belah pihak mengikatkan diri pada sebuah janji demi membangun kehidupan.”
    Kau setuju.
    “Tidak banyak yang kupunya, maka tak banyak hal yang bisa kujanjikan pada pasanganku. Sebaliknya tidak banyak pula yang kuinginkan darinya, yang utama adalah sanggup membuatku merasa tenteram.”
    “Keinginan sederhana,” katamu.
    “Padamulah kutemukan itu.” Matanya menatapmu dengan pendar yang teduh.
    “Sikapmu teguh, sangat tahu apa pilihan-pilihan yang diinginkan. Kau tahu apa yang tepat untuk dirimu, sekaligus luwes dengan risiko dan perubahan yang mungkin terjadi.”
    Kau tersipu. Kau tersanjung dengan caranya membacamu.
    “Lebih dari semua itu adalah kesederhanaanmu yang membuatku damai  tiap bertemu denganmu. Seumpama bunga, kau adalah bunga rumput. Bertahan dan tak menyerah pada segala musim.” Lagi dia berkata tanpa melepaskan tatapannya padamu.
    “Hatiku yang memilihmu, dengan keyakinan bahwa kau memiliki ketangguhan untuk hidup bersamaku.”
    Demikianlah dia memberimu keyakinan atas pilihanmu untuk menerima pinangannya. Dan persis seperti pembacaannya atas dirimu, maka kini kau harus menggunakan ketangguhan yang kau miliki untuk menjalani badai kehidupan yang dihadapkannya padamu.
    Akankah penilaiannya benar, bahwa kaulah bunga rumput yang bertahan terus berbunga melalui berbagai musim? Pertanyaan itu entah bagaimana menggerakkan pandanganmu melewati jendela. Di luar sana kau dapati rumput-rumput di pelataran kebunmu telah meninggi. Entah berapa hari kau alpa menyiram dan menyianginya. Sedemikian cepat rumput itu tumbuh, meski tanpa bantuan hujan.
    Adakah rumput tumbuh sesubur itu di dekat dirimu, sayang, entah di mana pun kau berada?
    Akankah dia mengenangmu, seperti mengenang pagi dengan embun bergulir pada  tiap tangkai bunga rumput? Awal kemarau bulan ini. Saat mana embun akan mengering dengan cepat, diburu matahari yang bergegas bangun. Kau berharap bahwa dia akan mengenangmu, seolah kau berada dalam lukisan berwarna hijau pastel. Tak ada kemarau, tak pula hujan, melainkan musim semi yang abadi. Tak ada rumput atau bunga yang mengering di sana.
*
    Kau dan Praha mendapat surat panggilan untuk waktu dan kepentingan yang sama. Yaitu melakukan identifikasi melalui foto-foto yang terpilih, yang adalah nama-nama yang terdapat dalam manifes penerbangan, di mana suamimu diduga menjadi salah satu penumpangnya.
    “Semoga kita bisa mengenalinya di antara foto-foto itu,” gumam Praha. Guratan wajahnya menampakkan semangat dan keyakinan tebal.
    “Entahlah,” gumammu seolah tak ingin memberimu harapan kosong pada dirimu sendiri. “Dia telah menjelma sebagai seorang yang asing, yang memenuhi dirinya dengan segala yang tak kutahu. Bahkan sekadar nama, kita tak lagi tahu apa nama aslinya. Maka aku sebenarnya tak lagi sanggup mengenalinya.”
    Praha termangu. Terkejut pada reaksimu, sekaligus mengerti pada putus asamu. Perlahan disentuhnya bahumu. Risau di dalam dirimu mereda sebentar. Kau syukuri keterlibatannya. Menjadikanmu tak sendirian menghadapi semua ini. Keberadaan dan ketulusannya memosisikan kalian saling menjaga.
Di dalam sebuah ruang yang dingin kalian bersama menyaring sejumlah foto-foto. Kau bergerak dengan cepat menyingkirkan yang jelas tampak berbeda. Tahap selanjutnya mulai meneliti lamat pada wajah-wajah yang memunculkan kebimbangan. Hingga kemudian kalian saling mendapatkan foto-foto yang serba meragukan.
Ternyata tidak mudah mengenali seseorang dari sepotong wajah pada foto digital. Bahkan kau nyaris menyesali dirimu sendiri, betapa rendahnya kemampuan daya identifikasimu pada seseorang yang bersamanya, kau menghabiskan separuh harimu, bahkan bagian tubuhnya telah menjadi tubuhmu pula. Seseorang yang selama berbulan-bulan ini berbagi selimut dan pelukan denganmu. Namun kini kau gagap menemukannya.
    “Beristirahatlah sebentar,” saran Praha yang rupanya melihat kelelahan pada wajahmu yang lesu. Tentu dia tahu betapa lebih lelah hatimu. Diulurkannya botol berisi teh dingin, yang langsung kau teguk lebih dari setengahnya. Rasanya yang manis sedikit sepat memberimu kelegaan sekaligus tambahan energi.
    “Tak perlu terburu-buru, dengan penyegaran dan sesaat, akan membantu ingatan kita bekerja lebih baik.”
    Kau mengangguk. Menghabiskan minumanmu dan meresapi kesegarannya. Petugas penyidik yang mendampingi, berbaik hati memberikan minuman baru untukmu. Kau berterima kasih dengan senyum di matamu.
    Seperti angin selalu berembus dengan cara yang tak terduga, datang entah dari mana dalam waktu yang tak terduga, demikian pula naluri memberimu pertanda semacam itu. Pada sederet wajah yang memicu keraguan sekaligus ingatan yang hilang timbul itu, mendadak salah satunya seolah memanggilmu dengan matanya. Sepasang mata yang tak asing.
    Kau mendekat, menatapnya lurus-lurus. Sepasang mata di bawah garis alis yang tak rapi itu menjelma lorong panjang yang seolah menunggu penelusuran. Bukannya berlari memburu, kau justru berhenti.
    “Siapa dia?” tanyamu.
Kau memanggil temanmu untuk mendekat. Bersama kalian mengamati sebuah profil yang asing. Laki-laki berambut panjang. Dagunya tak bercukur, membiarkan cambang tumbuh tak rapi di seputar rahang. Kau tak ingat mengapa tidak ‘membuangnya’ sejak seleksi awal. Sebuah profil yang jauh dari tipikal suamimu.
    “Dia membuatku ragu sejak semula,” gumam Praha mengikuti tatap matamu. “Sekaligus penasaran karena seperti seseorang yang tak asing, walau tak ada temanku berprofil seperti itu.”
    “Seperti mengenalnya?” tanya penyidik. Kau tak menjawab, temanmu yang mengangguk.
    Penyidik menampilkan profil itu dengan lebih jelas. Matamu menajam tanpa kedip. Kau kerahkan nalurimu setajamnya. Profil seseorang berambut panjang itu menghadapkanmu pada seseorang yang asing, sekaligus seseorang yang seolah dekat. Mata cekung itu tampak muram. Sangat berbeda dengan sepasang mata bercahaya pelangi yang ada dalam ingatanmu. Namun, pada mata yang sama kau dapati  sirat yang meneduhkan hati. Dengan sirat seperti itulah dia selalu menatapmu selama ini.
*
    Kau telah lama mencari buku itu. Sebuah terbitan lama yang tak lagi dicetak ulang. Kau telah membacanya, namun tak memilikinya. Buku Sekali Merengkuh Dayung itu tetap menjadi salah satu judul yang bertengger pada daftar buku incaranmu.
    Itu adalah sebuah buku perjalanan seorang jurnalis, Diah Marsidi. Berbeda dari buku perjalanan lainnya, DM tidak hanya mengantarmu pada suatu tempat di berbagai belahan bumi yang barangkali tak akan pernah kau pijak, namun DM seolah menemanimu mengunjungi para sahabat, berkenalan dengan mereka yang ditemui di sepanjang perjalanan yang menyambutmu seolah sahabat lama dan menjadikanmu sebagai keluarga. Sebuah buku yang tak hanya sanggup membuatmu seolah berada di Dubrovnik, kota pantai di Laut Adriatik yang jauh atau ikut belajar bahasa di Belforte all’Isauro, sebuah desa di pedalaman Italia, namun sekaligus membawamu untuk berinteraksi dengan elemen kehidupan tempat itu, menjadikanmu memahami makna betapa perjalanan lebih penting katimbang tujuan.
    Lalu suatu hari dia mengulurkan buku itu padamu. Saat toko menjelang tutup dan hanya dirimu pengunjung yang tersisa. Kau menjerit takjub.
    “Tapi dengan harga khusus,” katanya.
    “Tak masalah, sebutkan angkanya.”
    “Priceless, tak bisa dikalkulasikan dengan angka berapa pun.”
    “Jadi bagaimana?”
    “Dibarter dengan sebuah kata: ‘ya’.”
    “Apa maksudnya?” kau tak mengerti.
    “Berikan sebuah jawaban ‘ya’ padaku, buku ini akan menjadi milikmu,” katanya lurus menatapmu. Mata yang pendarnya menyiratkan sesuatu.
    “Hanya ‘ya’?” Kau penasaran dengan tawaran itu. “Apa pertanyaannya?”
    “Tak bisa kukatakan sebelum kau menyanggupinya, syarat dan kondisi berlaku,” jawabnya kalem makin mengulik rasa ingin tahumu.
    “S&K yang menjebak. Bagaimana mungkin harus kupatuhi syarat semacam itu, yang bisa saja memberikan risiko runyam untukku?” sergahmu dengan mata membesar.
    “Tidak juga. Bahkan sangat sederhana, hanya sebuah ‘ya’.”  Matanya mengerling memancing rasa penasaranmu. Kau berpikir dengan bimbang. Toko telah sepi, jam tutup telah melewati batas waktu. Hanya tinggal kalian berdua. Buku-buku di rak menunggu jawabmu dengan mengantuk.
    “Tergantung seberapa besar keyakinanmu untuk memiliki buku itu.”
    Dia menantangmu, mendekatkkan buku itu. Seketika tanganmu terulur. Itulah gerak refleks didorong keinginan terpendam sekian lama. Saat yang sama tangan sigapnya menjauhkan buku itu dari jangkauanmu.
    “Belum kau berikan ‘ya’ itu padaku.”
    Kau melirik jam di dinding. Jarumnya terus bergeser, membawa malam makin larut tanpa hendak berhenti menunggumu. Buku dengan cover balita berambut tak rapi itu menatap dengan matanya yang merindumu. Nama anak itu Edith, putri seorang pendayung perahu totora di Danau Titicaca yang terletak di perbatasan Peru dan Bolivia. Sekian lama kau mencari anak itu, kini sanggupkah melepaskannya hanya karena tak sanggup menanggung risiko yang tak jelas?
    “Baiklah,” kau menyerah. Lebih karena tak ingin menyesal melepaskan kesempatan. “Kau dapatkan ‘ya’ dariku.”
    “Tak akan menyesal?” lagi dia bertanya. Entah meragukan atau meyakinkanmu.
    “Ya… untuk?” sergahmu tak sabar, ingin segera tahu macam apa risiko yang harus ditanggung.
    “Untuk mengantarmu pulang, berjalan kaki. Tak peduli seberapa jauh rumahmu.” Diserahkannya buku SMD padamu.
    Kau terkesima. Antara tak paham dan merasa salah dengar.
    “Itukah ‘ya’ yang kau inginkan? Hanya itu?”
Dia mengangguk.
“Kalau kau merasa ‘hanya’, lalu mengizinkan aku menggandengmu, akan menjadi bonus yang sangat berarti bagiku.” Matanya menatapmu, menyiratkan harapan berwarna pelangi yang sungguh membuat hatimu berdesir-desir. Entah berapa tahun sudah tak kau lihat pelangi. Hujan turun berulang kali, namun tak satu pun yang memberimu pelangi sesudahnya. Tidak ada hujan malam itu, bintang berserak di langit yang bercahaya. Tentu tak akan kau temukan pelangi pada langit itu, namun dia memberimu sepasang pelangi melalui matanya. Hangat genggaman tangannya membuatmu berdebar sepanjang perjalanan.  Hingga kini mata berpelangi itu tersimpan dalam kenanganmu.
Kini sepasang mata itu menatapmu lurus dari layar komputer. Rambut panjang dan cambang berserak itu menjadikannya sebagai seorang yang asing bagimu, namun apa yang ada di dalam mata itu tak mampu menghadangmu untuk mengenalinya.
*

    “Nama aslinya Boaz Randu. Berasal dari daerah konflik sehingga tak terdeteksi lagi keberadaan orang tua dan kerabatnya. Sangat mungkin telah menjadi yatim piatu pada usia sangat dini.” Penyidik itu mengulurkan hasil penelusuran akhirnya padamu. Tidak akan pernah kau lupa caranya menatapmu. Sebuah keprihatinan yang mendalam, namun bukan belas kasihan. Dia tidak sedang menempatkanmu sebagai korban.
    “Kami tidak bisa memastikan, agaknya dia terlibat perseturuan itu. Negara kita belum memiliki pendataan yang memadai bagi  tiap warganya, apalagi di wilayah konflik, maka yang bisa kami paparkan adalah perkiraan-perkiraan.”
    Kau mengangguk mengerti. Bukan karena telah lapang hatimu untuk menerima segala kemungkinan, namun lebih pada kesadaran bahwa kau berhadapan dengan berbagai keterbatasan.
    “Pada suatu ketika terjadi pembunuhan pada seorang pemuka yang adalah pelindung para telantar. Pembunuhnya tidak terungkap. Sebenarnya data forensik mengarah pada seseorang, tapi tidak ada saksi kunci yang bisa ditampilkan. Kasus menjadi makin buntu karena berbagai  macam hal. Beberapa orang menghilang sesudah itu.”
    “Orang-orang yang seharusnya bisa menjadi saksi?”
    Penyidik itu mengangguk. “Entah dibunuh, atau berhasil melarikan diri.”
    “Suamiku salah satu di antaranya?”
    “Itu dugaan analisis kami. Maaf kami tak sanggup ataupun berhak menyatakan benar tidaknya. Kami juga secara khusus meminta pada Ibu untuk tidak memublikasikan temuan ini. Hanya untuk Ibu.”
    “Baiklah.”
    Penyidik itu menarik napas panjang.
    “Sangat mungkin suami Ibu sangat memerlukan kerahasiaan data ini, demi keselamatannya. Mungkin belum saatnya dia kembali. Rumah buku itu entah bagaimana membuat dirinya dikenali.”
    Kau tercekam seketika.
    “Mungkinkah sesuatu terjadi padanya?” tanyamu bergetar. “Apakah pernikahan denganku adalah bagian dari strateginya menyembunyikan diri?”
    Penyidik itu terdiam, lalu menatapmu lama tanpa suara.
    “Saya berharap Ibu akan menemukan jawabannya pada suatu ketika.”
    Sebuah jawaban yang tak mudah ditafsirkan. Entah memberimu harapan atau justru tak sanggup mengatakan kebenaran yang menyakitkan. Sekotak buku dikembalikannya. Buku-buku yang diambilnya dari rumah dan toko sebagai bahan penyelidikan.
    “Saya tidak menandai  tiap buku, apakah dari rumah sebagai koleksi pribadi atau stok buku di toko. Maaf, agaknya Ibu yang harus memilahnya.”
    “Tak apa. Saya belum tahu apakah gerai itu akan dibuka kembali. Saya tidak yakin sanggup mengelola rumah buku itu sendirian.”
    Penyidik itu mengangguk maklum. Lalu diambilnya satu buku dari laci, memberikannya secara khusus padamu.
    “Khusus untuk satu buku ini, jangan menjualnya.”
    “Mengapa?” Kau menerimanya dengan heran.
    “Ibu sudah membacanya?”
    Kau mengamatinya sebentar. Sebuah buku berbahasa asing tentang bunga rumput. Kau tidak tahu dia memiliki buku itu. Kepalamu menggeleng. Tentu kau tak akan menjualnya. Buku itu mengingatkan pada dirimu sendiri justru dalam kenangan suamimu.
    “Mengapa?” kau bertanya.
    Penyidik itu tersenyum, dengan matanya. Suatu hal yang belum pernah kau lihat.
    “Ibu harus membacanya,” jawabnya menyiratkan sesuatu.
    “Harus?” tanyamu, juga menyiratkan sesuatu.
    Dia mengangguk. Menangkap isyaratmu.(f)

>>>>> Cerita Selanjutnya


************
Sanie B Kuncoro

    



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?