Travel
Menjelajah San Francisco dengan Cable Car

27 Nov 2015



I left my heart in San Francisco
High on a hill, it calls to me
To be where little cable cars climb halfway to the stars
The morning fog may chill the air, I don't care

Penggalan lirik di atas sempat menuai pamornya di zaman lawas sekitar tahun 1970. Kepopuleran lagu I left my heart in San Fransisco ini tak hanya melambungkan penyanyinya, Tony Bennett, tetapi juga membuat orang melirik San Francisco sebagai destinasi wisata.
Beruntung, tahun lalu saya, Lenny, dapat menjejakkan kaki di kota yang terkenal akan jargon four seasons weather ini dan menikmati keindahan tiap sisinya dari atas cable car.
_________________________________________________________________________





Berkeliling dengan ‘Si Merah’
Cuaca cenderung moody. Sebentar panas, sebentar mendung, dan ketika matahari masih bersinar justru angin dan hujan deras datang tanpa diundang. Begitulah yang saya alami selama 3 hari di San Francisco. Sambil mengapit erat jaket yang membungkus tubuh, saya memutuskan menghangatkan diri terlebih dahulu di kedai kopi paling hits sedunia, Starbucks.

Sambil menyeruput hangat green tea matcha latte, dari balik jendela kedai kopi  saya memandangi barisan penumpang yang baru saja turun dari cable car. Mereka tampak girang dan bersorak ketika sang sopir berhasil menghentikan kendaraan tak bermesin itu tepat di pemberhentian terakhirnya di jalur Hyde – Powell. Cable car yang kemudian kosong itu tak pelak menjadi tempat ajang selfie para pengunjung. Mereka seperti tak peduli walau udara di luar dingin dan hujan mulai membasahi tubuh.

Saya hanya tersenyum menyaksikan semua itu. Apa yang mereka lakukan persis seperti pengalaman saya baru-baru saja, ketika bertolak dari Union Square yang berada di pusat Kota San Francisco menuju Fisherman Wharf. Saya memang sengaja memilih  naik cable car. Selain praktis dan menginginkan pengalaman baru, transportasi ini juga sangat eco-friendly.

Cable car memang menjadi daya tarik  tiap wisatawan yang datang ke San Francisco. Tak heran jika antrean penumpang di pemberhentian awal bisa mengular hingga sejauh 10 meter. Menyiasatinya, saya memilih untuk berjalan sekitar satu blok hingga mencapai pemberhentian cable car berikutnya. Benar saja, tak lama saya menunggu, ‘si merah’ tiba. Saya pun langsung melompat dan memilih berdiri di bagian belakang agar benar-benar dapat menikmati pemandangan ketika cable car membelah kota Golden Gate ini. Sebenarnya ada satu tempat lagi yang sangat digemari para penumpang, yakni bergelantungan di sisi cable car, namun terkadang dilarang karena alasan keamanan.
Kendaraan yang memiliki berat mencapai 8 ton ini memang lebih populer digunakan sebagai atraksi wisata daripada transportasi umum. Bagi penduduk lokal, mereka sedikit malas menggunakan transportasi ini karena sesak dengan turis dan jalur yang tersedia pun terbatas. Meski begitu, diperkirakan ada 9,7 juta orang yang menaiki moda transportasi bersejarah ini  tiap tahunnya.

Cable car umumnya dioperasikan oleh dua orang, yakni kondektur dan gripman. Layaknya kernet angkot di Indonesia, kondektur bertugas memanggil penumpang, mengingatkan jurusan yang dituju, hingga memaksa penumpang masuk dan berjubel di dalam, sambil menarik iuran tiket. Posisinya biasanya ada di luar sambil membunyikan bel dan memastikan penumpang tidak membandel dan berdiri di tempat yang seharusnya.
Sedangkan seorang gripman ibarat sopir yang tugasnya menjaga kecepatan laju cable car dengan cara mengendalikan grip (tuas besi panjang di dalam cable car yang beratnya bisa mencapai 165 kg) agar cable car berjalan stabil, 9 mil per jam. Bukan hal mudah mengingat jalanan San Francisco didominasi turunan dan tanjakan curam. 

Cable car kian mendunia ketika beberapa film box office Hollywood yang mengambil setting Kota San Francisco selalu menyertakan cable car sebagai ikon kota ini. Film Terminator 5, yang saat ini sedang dalam proses syuting di San Francisco, kabarnya menampilkan cable car di salah satu scene-nya.
Ting tong… ting tong… siapa lagi yang mau naik cable car?

_________________________________________________________________________
Rute Cable Car
San Francisco menyediakan 3 jalur cable car dengan total 44 unit yang beroperasi  tiap hari. Jalur Powell-Mason dan Powell-Hyde sama-sama mulai dari persimpangan Jalan Powell dan Market serta berhenti di Fisherman Wharf, walaupun di titik yang berbeda. Sedangkan jalur California membentang lurus tanpa belokan dari barat ke timur di Jalan California. Bisa dibilang, jalur Powell-Mason dan Powell-Hyde lebih menarik bagi turis karena melewati banyak tempat wisata. Sedangkan jalur California  lebih banyak digunakan oleh warga San Francisco untuk aktivitas sehari-hari, karena sepi turis. Ukuran cable car di jalur California juga lebih panjang, sehingga lebih memuat banyak penumpang.

Jika Anda tidak ingin berdesak-desakan dan mengantre lama, rute California bisa membawa Anda menuju The Financial District,   St. Mary’s Cathedral, hingga menaiki Nob Hill, kawasan yang terkenal dengan jajaran hotel mewah. Saya  memilih mengeksplorasi   rute Powell-Mason dan Powel Hyde. Berikut ini beberapa tempat wisata di sekitar rute ini yang layak dikunjungi.
__________________________________________________________________________



1.    Union Square
Downtown Kota San Francisco yang sekaligus menjadi pusat bisnis, shopping, dan entertainment ini menjadi lokasi beberapa hotel berbintang dan hostel. Saya pun memilih menginap di kawasan ini, tepatnya di Hostelling International Downtown Hostel yang terletak tepat di pinggir jalan. Selain akses ke mana-mana yang mudah dan terjangkau, kita juga bisa berwisata kuliner ke beberapa restoran yang banyak terdapat di sekitar  hostel. Selain itu, supermarket dan tempat belanja pun tak ada habisnya untuk dituju.
__________________________________________________________________________



2.    Cable Car Museum
Menikmati pengalaman menaiki cable car rasanya tak cukup jika tidak berkunjung ke Cable Car Museum. Di sinilah semua dokumentasi sejarah cable car ditampilkan dengan menarik. Ada juga cable car pertama yang tampak antik. Pengunjung juga dapat melihat proses kerja cable car yang tidak memiliki mesin, namun digerakkan oleh mesin raksasa yang ada di ruang kontrol yang terdapat di dalam Cable Car Museum. Terdapat tiga mesin untuk masing masing jalur yang tersambung dengan kabel-kabel raksasa yang menempel di bagian bawah cable car.
____________________________________________________________________________


3.    Fisherman Wharf
Rute Powell – Mason merupakan jalur tercepat jika ingin menuju ke Fisherman Wharf. Berada di pinggir Teluk San Francisco, Fisherman’s Wharf adalah salah satu destinasi wisata favorit yang berada tepat di pemberhentian akhir jaur cable car. Di sini dapat dengan mudah ditemukan hasil laut yang masih segar. Ada aneka ragam ikan, cumi, dan kepiting yang semuanya merupakan tangkapan para nelayan setempat. Saya membeli beberapa hidangan laut tersebut di stall pinggir jalan hanya seharga  10 dolar AS dan bisa langsung digoreng. Saya pun menikmati hidangan gurih itu sambil memandangi burung-burung yang beterbangan. Sepertinya mereka juga tertarik pada aroma makanan saya.

Suasana sore sambil memandangi buritan kapal yang terparkir di dermaga adalah aktivitas favorit saya sambil menunggu matahari terbenam. Jika ingin suasana yang lebih ramai, pergilah ke ujung Jalan Fisherman’s Wharf dan singgahlah di Pier 39. Di sini terdapat kumpulan  toko serta rumah makan yang dibangun di atas dermaga sepanjang kurang lebih 300 meter. Di ujung dermaga, saya dibuat terkesima saat mendengar lolongan  anjing laut yang bebas berkeliaran.
________________________________________________________________________


4.    Chinatown
Dengan banyaknya imigran keturunan Tionghoa di California, tak pelak membuat mereka berkumpul menjadi satu dan membentuk kawasan yang populer disebut Chinatown. Berada di kawasan ini membuat saya tak merasa sedang berada di negeri Paman Sam. Percakapan dalam logat Kanton dan Mandarin yang cukup asing di telinga saya, mendominasi kawasan ini. Belum lagi toko-toko makanan dan kelontong yang menjual aneka barang khas Tionghoa, sangat unik. Tak tanggung-tanggung, kawasan ini bahkan didaulat sebagai Chinatown terbesar se-Amerika Utara.
________________________________________________________________________


5.    Lombard Street
Jalanan satu arah ini memang tidak ada duanya karena memiliki kelok nan indah serta turunan paling curam tidak hanya di San Francisco, tapi juga di dunia. Tak heran jika jalanan yang dilewati oleh cable car rute Powell – Hyde ini menjadi salah satu favorit turis. Bahkan tak hanya mereka yang menggunakan cable car, banyak pula turis yang sengaja berkendara di jalan ini untuk mengetes kemampuan mereka mengendarai mobil atau hanya untuk seru-seruan. Mobil- mobil itu bahkan rela antre satu per satu karena ukuran jalannya hanya cukup dilalui oleh satu mobil dan merupakan jalanan bersusun batu bata. Jalanan ini memiliki delapan belokan curam sehingga diperlukan ketelitian besar   pengemudinya. Jika cuaca hujan, tentu membuat jalanan tersebut licin dan para pengemudi harus lebih ekstra hati-hati. Saya   memilih menuruni Lombart Street dengan tangga yang tersedia di samping jalan untuk menikmati pemandangan kawasan elite Russian Hill, berupa jajaran rumah-rumah mewah di sisi jalan.
______________________________________________________________________

TIP:
1. Sekali naik cable car, penumpang harus membeli tiket  6 dolar AS (Rp89.000) hanya untuk satu arah. Di sini sistem pembayarannya masih old-fashioned dengan menggunakan tiket dan hanya menerima uang tunai. Jika Anda berencana mengeksplorasi San Francisco seharian penuh, saya sarankan belilah 1-Day Visitor Pass seharga  15 dolar AS (Rp220.000). Tersedia pula tiket 3-Day Visitor Pass seharga   23 dolar AS (Rp340.000) dan 1-Week Visitor Pass seharga   29 dolar AS (Rp429.000). Dengan visitor pass, Anda dapat menggunakan seluruh fasilitas transportasi publik, baik itu cable car, tram, ataupun bus.
2.  Cable car beroperasi mulai pukul 06.00 hingga tengah malam. Biasanya akan beroperasi  tiap 10 menit, namun bisa saja sedikit terlambat di kala hari hujan atau padat penumpang. Jika Anda sedang   terburu-buru, cable car bukan alat transportasi yang tepat. Cable car lebih ditujukan bagi wisatawan yang cenderung ingin bersantai dan menikmati Kota San Francisco.
3.  Naik dan berhentilah hanya di tempat yang diperbolehkan (di awal dan akhir pemberhentian) serta tempat-tempat yang memiliki tanda Cable Car Stop. Di tiang penanda inilah, informasi rute dan tujuan dapat Anda lihat. Ketika cable car telah tampak, lambaikan tangan agar berhenti. Jika tidak berhenti, itu pertanda cable car telah penuh.
4. Bawalah jaket ketika berkendara dengan cable car. Walaupun tidak tersedia air conditioner (AC), desain kendaraan yang terbuka akan membawa hawa sejuk San Francisco. Anda akan membutuhkan jaket sebagai penangkal.
5. Jagalah barang bawaan Anda. Tidak disarankan makan dan minum selama berkendara.
6. Jika membawa anak atau orang tua, demi keselamatan sebaiknya pilih posisi duduk, jangan berdiri. Perlu diingat, kendaraan ini tidak dilengkapi seatbelt maupun fasilitas untuk disability (kursi roda).
7. Tidak ada info rute atau tempat wisata di dalam cable car. Bertanyalah pada kondektur dan mintalah ia untuk mengingatkan tempat pemberhentian Anda. Biasanya sebelum sampai di tempat wisata, kondektur akan mengingatkan sambil memberi sekilas info kepada penumpang. (f)

Lenny


 


MORE ARTICLE
polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?