Hati memiliki fungsi yang vital. Ibarat dapur, hati mengolah zat-zat makanan yang telah dicerna menjadi bentuk lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Ia juga berfungsi ‘mencuci’ racun yang masuk ke dalam tubuh melalui peredaran darah, hingga mengatur sirkulasi hormon. Sayangnya, menurut Dr. dr. Rino A. Gani, Sp.PD-KGEH, dari Divisi Hepatologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSCM-FKUI, banyak orang yang belum paham betapa pentingnya menjaga hati. Ini terlihat dari gaya hidup yang dapat berpotensi merusak hati, seperti tidak menjaga berat badan, makan sembarangan, tidak pernah olahraga, minum minuman beralkohol, mengonsumsi obat terlarang, serta bekerja tanpa imbangan istirahat yang cukup.
Gaya hidup yang tidak sehat juga bisa menyebabkan masuknya virus ke dalam tubuh, salah satunya hepatitis. “Di Indonesia, penyakit hepatitis yang sering ditemui adalah jenis A, B, dan C. Kasus infeksi virus hepatitis A yang disebabkan kurangnya kesadaran terhadap kebersihan ini kans kesembuhannya masih 99%. Berbeda dengan infeksi virus hepatitis B dan C yang menyebabkan gangguan menahun,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia ini.
Uniknya, dr. Rino mengamati bahwa tren penyakit hepatitis karena virus ini justru menurun. Hal ini, menurutnya, terjadi karena makin majunya teknologi pengobatan dan pencegahan dengan vaksin. Sebaliknya, tren penyakit hati yang saat ini mulai meningkat adalah perlemakan hati, yang erat hubungannya dengan konsumsi alkohol, obesitas, serta makanan tinggi lemak dan kolesterol. Studi yang pernah dilakukan FKUI dan RSCM mengungkap bahwa di tahun 2006, 95% wanita di Jakarta memiliki lingkar perut di atas normal!
Pada perlemakan hati, sel-sel hati akan ditumpuki oleh lemak, hingga terjadi peradangan yang meninggalkan bekas berupa jaringan parut pada permukaan hati (sirosis). Makin banyak jaringan parut, makin terganggu proses regenerasi sel hati. Akibatnya, hati mengalami penurunan fungsi, bahkan berujung pada kanker hati! (f)


