Dalam dunia investasi sering kali terdengar istilah ‘profil risiko’. Untuk wanita lajang dan bekerja, seperti apakah profil risiko kita?
Menurut perencana keuangan independen, Ligwina Hananto, profil risiko sering digunakan untuk mengukur tingkat sensitivitas seseorang pada risiko. Ini bisa dipengaruhi oleh usia, pekerjaan, juga psikologis orang tersebut.
Dalam membuat rencana keuangan, umumnya saya menggunakan 3 kategori: konservatif, moderat, dan agresif. Ada kuesioner yang bisa diisi lalu memberikan perkiraan gambaran profil risiko seseorang. Jika sudah tahu masuk dalam kategori mana, baru saya bisa menjelaskan panduan boleh tidaknya masuk produk dengan tingkat risiko seperti apa.
Tiap perencana keuangan memiliki panduan masing-masing. Contoh yang paling sering saya lihat, untuk profil risiko konservatif dianjurkan tidak masuk ke produk berbasis saham. Tapi, ini hanya panduan yang tidak bersifat mutlak. Pada praktiknya, klien tetap menentukan sendiri produk apa yang ingin ia pilih. Panduan ini semata sebagai pagar pengingat risiko saja.
Untuk wanita lajang dan sudah bekerja, ada faktor lain, selain profil risiko yang perlu diperhatikan, yaitu tujuan. Banyak wanita lajang bekerja belum memiliki tujuan yang jelas. Tentukan dulu produknya, baru sesuaikan risikonya agar paham tentang investasi yang diambil.(f)


