Trending Topic
Mengenal Citizen Journalism Lebih Dekat

5 Mar 2012

Menerbitkan ‘media’ sendiri? Sekarang mudah sekali. ‘Media’ bernama blog bahkan sudah ada pada akhir tahun 1990. Belakangan, ada aplikasi (paper.li), yang menyerupai surat kabar online, yang bisa kita isi sendiri sesuka hati, dan kita beri nama dengan nama kita sendiri. Hal lain, fenomena derasnya informasi via media sosial facebook dan twitter, nyaris tak sehari pun luput dari perhatian kita.   

Teknologi informasi telah mengubah cara orang mendapatkan informasi.  Dan, informasi tak lagi menjadi monopoli wartawan media mainstream. Semua orang bisa berpartisipasi dalam proses pengumpulan, pelaporan, analisis, dan penyebaran informasi. Hal semacam ini sering disebut-sebut sebagai citizen journalism.

Mengutip pendapat Mark Glaser, penulis topik-topik tentang new media, yang bisa disebut sebagai citizen journalist adalah mereka yang tidak pernah memperoleh training jurnalistik secara profesional, dan menggunakan teknologi gadget-nya untuk menciptakan, menyebarkan, atau menguji kebenaran berita.

Mengenai definisi citizen journalism ini, Harry Surjadi, jurnalis yang sedang mengembangkan citizen journalism di Kalimantan Barat, mengatakan, cikal bakal citizen journalist sebetulnya adalah disaster journalist. Ia memberi contoh, ketika terjadi peristiwa tsunami di Aceh tahun 2004, yang berhasil merekam peristiwa itu justru mereka yang bukan jurnalis. Mereka adalah orang biasa yang mengalami sendiri peristiwa bencana alam, lalu secara tidak sengaja mendokumentasikannya. Begitu pula pada saat terjadi peristiwa 9/11 di Manhattan, AS, informasi tercepat bersumber dari warga. Foto-foto, video, dan laporan pandangan mata disebarkan langsung oleh para korban.  

Yang jelas, kemunculan citizen journalism ini telah membawa angin baru alternatif informasi. Namun, ternyata, tidak semua informasi yang disebarkan dari luar media mainstream bisa disebut citizen journalism. Seperti yang diungkap oleh Wicaksono, Chief Editor Plaza MSN, penggiat blog dan twitter. Di Indonesia, citizen journalism masih ia anggap berlebihan.

“Blog yang muncul pertama kali tidak serta-merta bisa disebut citizen journalism. Hanya blog yang mengikuti kaidah jurnalistik, bisa disebut citizen journalism. Orang sering mengklaim bahwa dirinya citizen journalist, padahal sebenarnya hanya memberi laporan. Warga yang memberi laporan lebih tepat disebut sebagai pewarta warga, belum sampai tahap jurnalisme. Jurnalisme itu punya kaidah, prinsip, dan etika,” tutur Wicaksono. Ia pun mencontohkan cikal bakal pewarta warga dengan orang yang melaporkan situasi lalu lintas di radio.

Harry memberi contoh, kanal yang cukup bisa disebut citizen journalism adalah Mongabay.com dari Amerika, laman mengenai lingkungan hidup dan kehutanan. Ada pula Ohmynews.com dari Korea. Mereka melatih warga untuk rutin menulis laporan. Di Malaysia, ada laman Malaysiakini.my dan Komunitikini.my, yang sebagian besar beritanya juga berasal dari laporan warga.

Di Indonesia, belum ada kanal yang sungguhan bisa disebut citizen journalism. “Ada beberapa forum di internet yang berbasis user generated content, kontennya diproduksi oleh pengguna, tapi kebanyakan juga masih sebatas berisi opini atau mengutip berita dari media mainstream. Beberapa media besar juga mulai memberi ruang untuk citizen journalism,” kata Wicaksono. 

“Syarat paling mendasar menjadi citizen journalist adalah kemampuan menyampaikan fakta. Pengalaman saya, wartawan saja masih banyak yang tidak bisa membedakan mana fakta dan opini, apalagi warga, yang kebanyakan tidak mendapatkan pengetahuan jurnalistik,” cetus Harry.

Fakta itu, kata Harry, bisa didapat dari hasil observasi. “Misalnya, saat melaporkan tentang kejadian jembatan putus, harus ada deskripsi yang diperoleh dari hasil pengamatan tadi. Lalu sesuaikan dengan media yang digunakan. Jika lewat SMS, twitter, atau facebook, ada keterbatasan karakter.

Untuk melihat apakah sebuah produk informasi itu citizen journalism atau bukan, bisa dilihat dari dua hal: proses dan produk. Apakah prosesnya mengikuti kaidah kerja wartawan? Lalu, apakah produknya berupa fakta atau opini? Jika berupa opini, maka itu bukan citizen journalism. Dan, jika proses maupun produknya sudah menerapkan kaidah jurnalistik, akan tetapi tulisannya dikirim ke media mainstream dan mendapat honor, walaupun ia warga biasa, ia disebut sebagai stringer atau freelance,” tutur Harry. 

Ficky Yusrini


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?