Travel
Mendengarkan Keheningan Rinjani

29 Jan 2015

Matahari kian meninggi, sinarnya makin panas, perjalanan mencapai Lombok Timur pun kian dipercepat. Makin ke timur, laju kendaraan yang saya, Katerina, tumpangi mulai melambat, sebab makin banyak tanjakan dan turunan terjal yang dilalui. Bukit-bukit tandus dengan pohon-pohon kering yang tumbuh kesepian, tampak mematung di tepi jalan. Seolah membiarkan saya terus melaju mencapai kaki Gunung Rinjani.


Pedesaan yang Subur

Setelah 2 jam perjalanan dari Mataram, Lombok, saya tiba di Pusuk Sembalun, pintu utama menuju pendakian si Tinggi Besar Rinjani. Pemandangan lahan tandus menghilang dari pandangan, berganti dengan pemandangan bukit dan hutan alam, air terjun, serta hamparan lahan pertanian subur di kaki pegunungan.

Barisan pegunungan berapi yang masih aktif, tersaji indah di bawah langit biru dan awan putih yang bergerombol.
Sembalun merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Timur yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Seperti halnya daerah yang dekat dengan pegunungan, panoramanya cantik dan tanahnya subur. Tak heran jika Sembalun merupakan daerah penghasil  rempah terbesar di Nusa Tenggara Barat serta pemasok buah-buahan untuk seluruh Lombok.

Nun jauh di lembah, tampak perkampungan yang begitu asri diapit oleh bukit-bukit dan pegunungan. Di kaki-kaki bukitnya berdiri rumah-rumah penduduk, penginapan homestay, perkebunan, serta kampung adat yang tertata rapi dengan tebing punggung Rinjani yang menjadi latar belakang. Menyaksikannya dari ketinggian, membuat saya seperti melayang bersama angin, lalu mendarat di perkampungan itu.

Sembalun Bumbung merupakan desa lain lagi yang berada di kaki Gunung Rinjani. Desa ini sudah dikenal baik di dalam maupun di luar negeri karena menjadi awal pendaki melakukan pendakian Gunung Rinjani. Sepanjang perjalanan dari Pusuk Sembalun hingga ke Sembalun Bumbung, mata saya dimanjakan oleh hamparan sawah yang luas, serta hutan-hutan alami di kanan kiri jalan. Sawah-sawah berderet rapi di lereng-lereng bukit, gerombolan awan putih yang seolah hendak menyelimuti Sembalun yang penuh ketenangan.

Tanah vulkanis di desa ini sangat subur. Sungai yang mengalir mengairi ladang dan sawah yang ditumbuhi sayur-mayur dan buah, seperti kentang, bawang prei, brokoli, bawang putih, brokoli, apel, cabai, tomat, kapri, dan aneka bunga. Tak heran jika Sembalun Bumbung menjadi sumber utama pemasok sayur-mayur untuk wilayah Lombok Timur.
Berwisata ke perkebunan tak sekadar untuk melihat-lihat, tapi juga bisa ikut bertani. Bahkan, saat masa panen kita bisa ikut memetik aneka hasil bumi tersebut bersama para petani. Biasanya, panen raya terjadi pada bulan Juli – September.

Saya tak bosan-bosannya menatap wajah-wajah pendulang di sawah yang mencari rezeki tersembunyi di balik tanah Sembalun. Sementara itu, sapi-sapi mereka memanjat tebing dan pulang ke kandang masing-masing tanpa penggembalanya. Konon, daging sapi Sembalun terasa lebih manis karena dibiarkan bebas mencari makan rumput di gunung.

Bertamu di Serambi Berugaq

Sembalun memiliki banyak sejarah tentang orang-orang suku Sasak. Mungkin selama ini orang-orang (termasuk saya) lebih mengenal rumah adat suku Sasak yang ada di Desa Sade, Lombok Tengah, karena mereka yang lebih banyak terekspos. Padahal, rumah adat suku Sasak juga bisa dilihat di Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur.
Di Sembalun Bumbung terdapat Kawasan Rumah Adat dan Makam Berugaq Reban Bande.

Kawasan ini digunakan oleh masyarakat setempat untuk menyelenggarakan upacara adat Sasak, yaitu Ngayu-ayu.
Upacara Ngayu-ayu biasanya digelar tiga tahun sekali pada musim kemarau dengan tujuan untuk memohon karunia hujan sehingga masyarakat dapat segera bercocok tanam dan melakukan aktivitas pertanian. Upacara ini biasanya dipusatkan di lapangan umum Desa Sembalun Bumbung dan ditandai dengan saling lempar ketupat (perang topat).

Jika di Desa Sade Lombok Tengah rumah adatnya masih ditinggali dan digunakan untuk berbagai kegiatan penduduk, rumah adat Sasak di Desa Sembalun Bumbung hanya digunakan untuk kepentingan pariwisata. Namun, bentuk rumahnya sama dengan yang ada di Desa Sade.

Ada yang menarik perhatian saya di kawasan rumah adat ini, yakni bangunan rumah kecil yang tidak berdinding dan diberi nama berugaq. Oleh orang suku Sasak, berugaq selalu ditempatkan di depan rumah induk. Fungsinya sebagai pengganti serambi depan rumah, tempat menerima tamu, tempat mengadakan kenduri atau roah, serta tempat belajar agama, adat, pemerintahan, dan pendidikan moral atau budi pekerti.

Gerimis Air Terjun

Dari 13 air terjun yang menggantungkan airnya pada Danau Segara Anak di Gunung Rinjani, dua di antaranya berada begitu dekat dengan sumber airnya, yaitu Sendang Gila dan Tiu Kelep. Dua air terjun ini berada dalam Kawasan Wisata Desa Senaru.

Untuk mencapai air terjun Sendang Gila, ada ratusan anak tangga menurun yang mesti ditapaki, curam dan berkelok. Lebatnya hutan menjadi pemandangan di awal perjalanan. Sekitar 200 meter turun lebih jauh, kawasan hutan tropis dataran rendah mulai mendominasi jalan menuju Sendang Gila.

Perlu waktu sekitar 15 menit jalan kaki untuk tiba di air terjun yang meluncur dari ketinggian 35 meter yang melewati tiga tingkatan batuan keras sebelum menyentuh dasar itu. Di dasarnya yang dangkal, batu-batu cadas bergeletakan. Tak ada kolam besar di dasarnya sehingga tak memungkinkan berendam, apalagi berenang. Cukup bagi saya sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan, sambil merasakan segarnya butir-butir air yang memercik di badan.

Di balik penamaan Sendang Gila, ada beberapa versi cerita yang beredar. Salah satunya legenda tentang penduduk setempat yang secara tidak sengaja menemukan air terjun ini kala memburu singa yang mengacau di sebuah kampung dan kemudian lari masuk ke hutan. Sendang Gila dipercaya memiliki unsur magis yang bisa membuat seseorang menjadi awet muda bila mandi di bawah air terjun tersebut.
Berbeda dengan perjalanan mencapai Sendang Gila di mana saya disuguhi jalan menurun, perjalanan menuju Tiu Kelep langsung disuguhi tanjakan. Jalan yang ditapaki bukan lagi semen, tetapi tanah yang diratakan. Hutan yang dilalui juga lebih rapat dan lebat.

Perjalanan ke Tiu Kelep membutuhkan upaya yang lebih keras. Ada jembatan setinggi 20 meter yang harus dilintasi. Uniknya, jembatan ini hanya memiliki pegangan pada satu sisi. Dengan kondisi jembatan seperti itu, tentu diperlukan kehati-hatian saat melintas, terutama bagi mereka yang takut dengan ketinggian.

Terdapat juga lorong air sepanjang 200 meter dengan ketinggian sekitar 2 meter dan lebar hanya 1 meter. Lorong yang dibangun tetua adat Sasak ini merupakan alternatif untuk mencapai air terjun Tiu Kelep. Lorong tersebut mengalirkan air dari Tiu Kelep menuju saluran irigasi mengairi ratusan hektare sawah warga Senaru. Lorong ini cukup seram karena cahayanya hanya berasal dari lubang bekas buang tanah yang jaraknya 10 -15 meter, namun air yang mengalir di bawah kaki akan memberikan sensasi yang berbeda.

Selain melintasi jembatan tadi, saya juga menyusuri tepian sungai yang dialiri air jernih yang bisa langsung diminum. Sekeliling aliran sungai terdapat hutan tropis yang masih alami. Sesekali tampak kera berayun-ayun di dahan pohon. Saya juga melewati pintu air serta pohon tumbang yang menghalangi jalan.

Jalan kaki menapaki dasar sungai yang berarus kuat, air yang dingin, banyak  kerikil tajam, serta batu-batu cadas yang licin, menjadi tantangan lainnya yang harus dilewati. Penat dan letih semua jadi satu. Tapi, semua itu setimpal dengan apa yang diperjuangkan karena air terjun Tiu Kelep ternyata lebih besar dan sangat indah.
Air Tiu Kelap terjun seperti terbang, jatuh ke dasar membentuk kolam dengan kedalaman sekitar 1 meter yang bisa dipakai berendam dan berenang. Air yang jatuh lebih bergemuruh, udara di sekitarnya lebih sejuk, arus airnya lebih kuat, dan airnya lebih dingin.

Keistimewaan lain ada pada pantulan airnya yang membentuk hujan gerimis. Hal tersebut disebabkan oleh dataran yang berbentuk cekungan, sehingga air yang jatuh terperangkap dan memantul kembali ke udara bentuknya seperti air hujan. Air yang memantul membiaskan sinar matahari sehingga membentuk pelangi berwarna-warni. Sensasi bias warna pelangi inilah yang menjadi momen sangat indah.

Menyaksikan air yang menelusup di antara akar pohon besar dan merambat di dalam tanah menjanjikan hadirnya perasaan sejuk nan damai. Membuai sang waktu berhenti berputar. Tempat ini membuat saya jadi enggan pulang.

TIP

• Desa wisata Sembalun berada di ketinggian 1.156 mdpl dan merupakan wilayah paling dekat dengan Gunung Rinjani. Jaraknya sekitar 110 km dari Kota Mataram. Dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua.

• Jika menggunakan kendaraan sewa, bisa menempuh rute Mataram - Mantang - Kopang - Terara - Masbagek - Aikmel - Sembalun. Akses jalan ke tempat ini juga sudah cukup bagus. Yang perlu diperhatikan adalah kondisi jalan dengan tanjakan dan turunan curam disertai   belokan-belokan tajam. Harga sewa mobil Rp350.000/hari dan Rp50.000/hari untuk motor.

• Bisa juga menggunakan angkutan umum sebanyak 3 kali dari Bandara Internasional Lombok. Pertama naik Damri menuju Pool Damri Mandalika dengan tiket Rp20.000 selama kurang lebih 40 menit. Dari Pool Damri Mandalika naik angkutan ke Aikmel Kabupaten Lombok Timur sekitar 1,5 jam dengan ongkos Rp20.000. Turun di Pasar Aikmel. Selanjutnya naik angkutan bak terbuka yang biasa mengangkut sayuran dan buah dari Sembalun. Angkutan ini beroperasi sejak subuh hingga pukul 5 sore. Dengan menyerahkan Rp15.000 kita sudah diizinkan menumpang. Lama perjalanan dari Pasar Aikmel menuju Sembalun sekitar 1 jam.

• Di sekitar rumah adat di Sembalun dan di sekitar kawasan wisata Senaru, cukup banyak penginapan dan rumah makan yang bisa dikunjungi.  (f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?