Sebelum kolonisasi Eropa di abad ke-18, Benua Koala ini bertahan selama ribuan tahun pada kebiasaan sebagai pemburu-pengumpul. Buah segar, akar-akaran, madu, dan kanguru menjadi pokok. Ikan dan seafood ditangkap menggunakan cara dan alat sederhana, seperti tombak, kait, dan jaring perangkap. Teknik masak pun hanya berupa pengasapan atau panggang di bara api.
Perlahan budaya tersebut berubah seiring dengan mendaratnya pemukim Inggris yang dikepalai James Cook di Sydney, Australia, tahun 1788-1900. Kesulitan dalam mengakrabkan diri dengan makanan pokok serta kondisi lingkungan yang gersang, ‘mewajibkan’ imigran Inggris itu memutar otak.
Bercocok tanam gandum guna diolah menjadi tepung untuk roti, daging yang diasinkan, teh dan tebu, serta budaya makan khas Eropa pun diperkenalkan. Buah dan sayuran tak lagi langka. Domba dan sapi diternak.
Meski kesulitan di awal, toh, sekitar tahun 1900-an Queensland dan New South Wales sukses menjadi produsen utama sapi potong Australia, sementara sapi perah banyak ditemukan di negara bagian selatan, terutama di negara bagian Victoria. Boleh dibilang, saat itulah titik awal kebangkitan kuliner Australia.
Setelah menetapnya bangsa Eropa itu, Australia makin kebanjiran tamu asing beserta identitas kuliner masing-masing. Makin beragamlah budaya makan yang berpayung di bawah bendera kuliner benua itu. Kurang dari sepuluh negara dari tiga benua di sekitarnya turut memengaruhi kuliner modern Australia.
“Dimulai dari kawasan Asia, yakni Cina, Vietnam, Thailand, dan India hingga ke Eropa Timur seperti Italia dan Prancis,” papar Mathew Hart, Executive Chef Rae's Restaurant, Balgownie Estate Vineyard Resort & Spa, Yarra Valley, Victoria, yang ditemui Femina di sela-sea kegiatan Melbourne Food and Wine Festival 2013, Maret lalu.
Tiap negara tampak mengembangkan jenis masakannya sendiri, tapi dengan teknik masak dan bumbu yang saling mengadopsi hingga terwujud hidangan baru dengan rasa lezat dan tampilan yang indah.
“Salah satu pengikatnya adalah pemanfaatan bahan baku lokal seperti daging domba, daging sapi, anggur, minyak zaitun dan pangan berupa sayuran (artichoke, asparagus, jamur, rhubarb, terung, labu, tomat, dan zucchini), buah segar (kiwi atau fig), serta kacang-kacangan yang tersedia hampir sepanjang tahun,” cerita Mathew. Sebut saja, daging domba, daging sapi, anggur, minyak zaitun, sayuran (artichoke, asparagus, jamur, rhubarb, terung, labu, tomat, dan zucchini), dan buah segar (kiwi atau fig). (f)


