Trending Topic
Masih Rendah Diri

10 Feb 2015

AFTA sudah di depan mata. Bagaimana kesiapan SDM Indonesia menghadapinya?

Shanti Shamdasani, Governor ASEAN Committee Chair di Kamar Dagang Amerika di Indonesia, berpendapat, SDM Indonesia masih punya kelemahan, yaitu tidak memiliki self-awareness yang cukup. “Maksudnya, kita tidak menyadari kekuatan dan kelemahan kita sendiri. Kita diajarkan untuk memenuhi keinginan orang lain, sehingga keinginan diri sendiri ditekan. Secara tidak langsung hal ini membuat kebanyakan orang Indonesia tidak percaya diri dengan kemampuan mereka sendiri,” ungkap Shanti.    

Padahal, untuk bisa bersaing dan diperhitungkan di tingkat internasional, dibutuhkan keberanian untuk menyuarakan apa yang benar-benar kita inginkan. Patricia Susanto Chief Executive Officer The Jakarta Consulting Group, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, tidak meragukan bahwa secara akademis orang Indonesia lebih pandai dibandingkan negara lain. Tetapi, ada kecenderungan, kita selalu melihat orang asing itu lebih pintar, walaupun kenyataannya biasa-biasa saja. Dalam istilah psikologi, semacam halo effect, atau gagasan umum tentang seseorang yang membuat kita menyimpulkan sendiri kepribadian dari orang tersebut.

Ia pun mengibaratkan, orang Indonesia itu seperti defisit fokus: selalu melihat kekurangan negara sendiri dan enggan melihat potensi besar yang ada di Indonesia. Bisa jadi karena kita sudah keburu terlena dengan kemudahan yang diterima. Tidak berbuat apa-apa juga bisa hidup. Belum lagi, media yang banyak memaparkan berita buruk tentang Indonesia, seperti makin ‘melegalkan’ pemahaman bahwa Indonesia tidak bisa berkompetisi dengan negara lain.    

Selama pengalamannya sering melakukan training cross culture, Patricia mengamati, kualitas orang-orang asing sebetulnya banyak yang berada di bawah orang Indonesia. ”Tetapi, yang menjadi kelebihan orang asing adalah mereka percaya diri, charming, mampu berkomunikasi dengan baik, dan tidak ragu mempromosikan diri sendiri secara halus. Sementara, bagi orang Indonesia, kalau membanggakan diri itu berarti sombong,” ujar Patricia, menyayangkan.

Shanti menambahkan, “Saya percaya  tiap manusia dibekali oleh kreativitas dan keunikan. Yang membedakan adalah, yang satu berani mengungkapkan apa yang menjadi buah pikirannya, sementara yang lain tidak,” ujarnya.

Walaupun data ILO mengungkapkan, permintaan tenaga kerja profesional akan naik 41% atau sekitar 14 juta,   diprediksikan banyak perusahaan yang merasa tidak puas karena para karyawan yang kurang terampil atau salah penempatan kerja akibat kurangnya pelatihan dan pendidikan profesi. Perbedaan kualitas mendasar ini menjadi tantangan tersendiri bagi pekerja Indonesia untuk mengejar ketertinggalan, terutama soal profesionalisme dan komitmen kerja.      

Dalam hal etos kerja, harus diakui, pekerja Indonesia juga kalah dibandingkan pekerja asing. Jika melihat ekspatriat yang bekerja di Indonesia, sebagai ‘perantau’, pasti mereka bekerja lebih keras dibandingkan mereka yang bukan perantau. Ada kecenderungan bahwa orang lokal lebih malas dibandingkan pendatang. “Produktivitas orang Indonesia masih rendah dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam. Produktivitas mereka lebih tinggi 1½ hingga 2 kali lipat,” kata Patricia, menambahkan.

RULLY LARASATI




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?