Baru kali ini saya datang ke Bandara Soekarno-Hatta dengan membawa koper kecil berisi pakaian untuk 2 hari, tapi tanpa membawa tiket pesawat ataupun boarding pass. Lebih-lebih, saya bahkan tidak tahu akan terbang ke mana, sampai sekitar 10 menit sebelum waktu boarding! Dalam perjalanan kali ini saya betul-betul membuktikan bahwa memang lebih penting menikmati perjalanan daripada memikirkan tujuannya.
Yogyakarta – Kalasan – Solo
Ternyata, ‘nasib’ membawa tim saya dan tiga tim lainnya ke Yogyakarta, sementara empat tim lainnya terbang ke Semarang. Saat boarding pass sudah di tangan, pikiran saya langsung melayang ke sepiring gudeg lezat dan tumpukan kain-kain batik motif parang yang memanggil-manggil minta dibawa pulang.
Tapi, namanya juga sedang bertualang, saya lupakan dulu niat untuk makan dan belanja. Karena, di mobil Mazda CX-5 yang disediakan untuk 4 orang dalam tim saya, sudah terdapat petunjuk dan angka koordinat menuju pemberhentian pertama. Mobil SUV merah metalik itu terlihat begitu cool and adventurous. Cocok untuk tantangan selfie yang harus kami lakukan di depan Candi Kalasan.
Jalan-jalan di Yogyakarta siang itu begitu sibuk dan padat. Di lampu merah, tiba-tiba saja mesin mobil Mazda CX-5 yang kami kendarai mati, tinggal radio dan AC saja yang menyala. Ternyata, itu karena teknologi penghematan bahan bakar Idling Stop System atau i-STOP, yang otomatis mematikan mesin saat mobil benar-benar berhenti. Tinggal lepas pedal rem atau gerakkan setir, mesin mobil akan kembali menyala dalam waktu 0,35 detik!
Setibanya di Candi Kalasan, saya baru menyadari bahwa candi mungil salah satu peninggalan agama Buddha dari abad ke-8 ini sering terlewatkan oleh wisatawan yang menuju ke Candi Prambanan. Padahal, lokasinya begitu strategis di pinggir Jalan Solo, jalan raya yang menggabungkan Yogyakarta dan Surakarta. Selain Kalasan, beberapa candi kecil lainnya juga tersebar di sekitar Candi Prambanan, yaitu Candi Sari, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.
Usai membuat aneka selfie bergaya ‘ajaib’ bersama mobil kami yang fotogenik di depan candi, kami pun kembali mengikuti panduan GPS, yang ternyata membawa kami ke Serabi Notosuman yang legendaris itu. Pas betul, sudah waktunya makan siang. Meskipun sudah sering dioleh-olehi, makan serabi memang paling enak yang fresh from the oven, alias baru matang dari wajan dan tungkunya. Mencium aromanya yang menggugah selera, segera saja saya memesan serabi rasa cokelat dan polos.…
Karena perjalanan masih panjang, setelah makan kami bergegas menuju titik koordinat selanjutnya, yaitu Museum Danar Hadi, di Jalan Slamet Riyadi No.261, Surakarta. Selain museum, di kompleks budaya yang dibangun tahun 2008 ini juga terdapat toko batik dan Restoran Soga yang menyuguhi makanan khas Jawa Tengah. Bangunan klasik bekas kediaman seorang pangeran Surakarta bernama KRMT Wuryaningrat ini adalah salah satu warisan budaya kebanggaan Kota Solo.
Karanganyar – Madiun
Dengan tenaga yang kembali full setelah makan siang, kami segera melaju ke Kabupaten Karanganyar, masih di wilayah Surakarta, Jawa Tengah. Setelah sekitar satu jam berkendara di jalanan kota, kami pun memasuki jalanan yang lebih berliku dan menanjak. Mata saya langsung disuguhi pemandangan lembah, perkebunan teh, dan beberapa kebun sayur kecil milik warga. Kami lalu mematikan AC mobil, menurunkan jendela, menghirup napas dalam-dalam dan menikmati udara sejuk.
Setelah naik-naik ke puncak gunung melewati jalan aspal yang tidak begitu mulus, akhirnya tiba juga kami di Candi Ceto yang berada di lereng Gunung Lawu. Hari sudah cukup sore, matahari mulai menghilang, dan kabut tipis menyelimuti candi yang didirikan pada abad ke-15 di ketinggian 1.496 meter di atas permukaan laut itu. Untuk mencapai puncak memang butuh sedikit perjuangan, karena struktur candi yang berteras atau berundak-undak. Tapi, begitu sampai di atas, perjuangan itu pun terbayar oleh pemandangan sejuk yang menghampar di depan mata.
Hari mulai gelap, rombongan kami bergegas menuju titik koordinat selanjutnya, yaitu Rumah Teh Ndoro Donker. Restoran yang bangunannya bergaya kolonial Belanda ini adalah tempat peristirahatan favorit di area wisata Karanganyar. Memang, selain Candi Ceto, Karanganyar juga punya beberapa objek wisata lain yang tak kalah menarik, seperti Candi Sukuh, air terjun Grojogan Sewu, dan Kebun Teh Kemuning. Bila cuaca mendukung, duduk-duduk di bawah payung teduh, menyesap teh hangat sambil memandang hamparan kebun teh. Hmmm… life is good.
Tak terasa, hari makin larut. Padahal, kami masih harus menuruni jalanan lereng Gunung Lawu yang berliku-liku dan minim lampu. Reza, teman satu tim saya yang mendapat giliran mengemudi, segera menyalakan AFS atau Adaptive Front-Lighting System yang sangat berguna untuk berbelok di jalanan gelap.
Dengan teknologi AFS ini, mobil kami bisa ‘membaca’ sudut kemudi dan kecepatan kendaraan, lalu mengarahkan cahaya lampu depan untuk mengikuti bentuk jalan. Artinya, lampu akan berbelok sebelum mobil berbelok, sehingga pengemudi terhindar dari blind spot.
Satu lagi fitur yang sangat berguna malam itu saat kami mengemudi ke penginapan di Kota Madiun, yaitu HBC atau High Beam Control, atau kamera yang mendeteksi kendaraan dari arah berlawanan dan otomatis mematikan lampu jauh serta menyalakan lampu dekat. Jadi, pengemudi lain tidak akan kesilauan oleh lampu mobil kami. Canggih, ‘kan?
Mojokerto – Surabaya
Setelah tidur nyenyak di Aston Hotel Madiun, yang baru beberapa minggu sebelumnya soft launch, rombongan kami segera menuju titik koordinat yang baru, yaitu Taman Wisata Danau Bening. Setelah kemarin seharian berkendara dan mengikuti aneka permainan bak amazing race, kali ini saya bisa duduk-duduk sambil minum es kelapa di bawah pohon yang daunnya berguguran.
Di area danau yang luasnya mencapai 860 kilometer persegi itu, pengunjung bisa memancing, mendayung perahu, atau berkemah. Ingin bermalas-malasan? Bisa! Di bawah pohon-pohon rindang tersedia bangku-bangku taman yang pas untuk dua orang. Romantis, ya….
Danau Bening atau Waduk Bening Widas ini lokasinya di Kecamatan Saradan, perbatasan antara Madiun dan Nganjuk di Jawa Timur. Madiun, yang dikenal sebagai Kota Kereta Api ini tentu saja terkenal dengan pecelnya. Meskipun kebanyakan pecel Madiun rasanya mirip-mirip, ternyata yang paling direkomendasikan adalah Warung Pecel Pojok di Jalan Cokroaminoto. Tapi, rasanya tidak perlu mengikuti rombongan turis. Warung pecel mana saja, asal di Madiun, buat saya sudah cukup autentik.
Nasi pecel juga masih bisa ditemukan di kabupaten tetangga yang tak kalah populer, yaitu Nganjuk. Tempat yang dijuluki Kota Angin ini memiliki beberapa kuliner khas, misalnya kerupuk upil (kerupuk kecil yang digoreng dengan pasir), onde-onde njeblos (onde-onde kosong) yang gurih, dan nasi be’cek (nasi gulai kambing dengan sentuhan jeruk nipis).
Usai menikmati udara sejuk dan pemandangan indah, rombongan kami beranjak untuk makan siang di Sagu, warung spesialis bebek, ayam, dan tentu saja sambal. Perut kami yang sudah bergemuruh pun segera minta diisi. Restoran yang didominasi warna kuning hijau ini terletak di Jalan Raya Bypass Mojokerto. Duduk di area lesehan lebih seru, karena tiap kali ada truk-truk besar lewat, getarannya lebih terasa!
Puas dan kenyang dengan bebek goreng dan sambal pecit yang pedasnya tahan lama, kami pun bergegas menuju garis finis, yang sudah bisa ditebak, yaitu Kota Surabaya. Berhubung tim kami memperoleh poin paling banyak (hore…!), kami pun melaju dengan penuh semangat. Sambil mengenang keriaan petualangan kemarin, kami kembali menyambungkan iPod ke music player mobil melalui USB. Dan, seakan bisa membaca pikiran kami yang sudah siap pulang, shuffle pun memutarkan lagu dari Kings of Leon yang berjudul Last Mile Home. (f)


