
Namanya memang tak setenar Stockholm, tetapi Linköping (baca: Linshooping) menyimpan ketenangan sebuah kota yang jauh dari hiruk pikuk metropolitan. Padahal, kota yang terletak di bagian utara Swedia ini termasuk satu dari lima kota besar di negara yang pernah mendapat julukan ‘the most peaceful countries in the world’, karena rendahnya tingkat kriminalitas. Hal inilah yang membuat saya, Regina Sari, memantapkan hati untuk berkunjung ke Linköping, kota besar dengan suasana countryside yang didominasi danau dan kanal.

Ketenangan Kota Kecil
Begitu kereta tiba di Stasiun Kopenhagen, Denmark, saya bergegas masuk ke dalam kereta api dan langsung mencari kursi sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Kereta ini hanya berhenti tidak lebih dari 3 menit. Tiap penumpang harus cekatan untuk segera masuk ke dalam gerbong. Tipikal kereta api di negara-negara maju di Eropa, kereta api yang akan membawa saya menuju Linköping kondisinya sangat bagus.
Saya pun segera duduk di bangku dekat dengan jendela. Meski hari sudah sore dan langit perlahan-lahan mulai berubah gelap, rasanya, kok, sayang untuk melewatkan begitu saja pemandangan laut lepas, sebelum kereta api mulai masuk ke dalam terowongan bawah laut, untuk akhirnya muncul lagi di daratan yang berada di wilayah Swedia.
Tak banyak yang bisa saya lakukan di sepanjang perjalanan selama 3,5 jam tersebut. Usai petugas kereta api, yang didampingi polisi, berpatroli untuk mengecek tiket keret dan identitas para penumpang, saya memilih untuk beristirahat sejenak.
Beberapa kali terdengar pengumuman pemberhentian stasiun berikutnya dalam bahasa Swedia. Saya pun berusaha menyimak, agar bisa bersiap-siap sebelum tiba di Stasiun Linköping. Akhirnya, saya tiba di kota yang terletak di Östgöta Plains, tepatnya di Provinsi Östergötland. Linköping Train Central Station, letaknya bersebelahan dengan terminal bus. Kita pun cukup berjalan kaki untuk sampai di pusat kota. Turun dari kereta, seorang teman sudah menunggu saya. Ia lalu mengajak saya berjalan kaki menuju tempat tinggalnya yang tak jauh dari pusat kota.
Sepanjang jalan saya melihat banyak sepeda yang terparkir rapi. Ya, sama seperti negara di Eropa lainnya, sepeda menjadi salah satu alat transportasi utama bagi penduduknya. Tahun 2002, Linköping pernah mendapat julukan sebagai Swedish Biking City of the Year.
Terlepas dari suasana ketenangan sebuah kota kecil, Linköping memiliki fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang lengkap dan modern. Bahkan, untuk day care saja biayanya disubsidi oleh pemerintah. Semua biaya pembangunan infrastruktur tersebut didapat dari pajak yang cukup tinggi, sekitar 20%-25% dari pendapatan, yang harus dibayarkan oleh tiap warganya.
Linköping merupakan kota yang berdiri sejak abad pertengahan. Sebagai bukti, beberapa jalan yang dibangun pada masa itu masih terlihat di beberapa bagian di sekitar alun-alun kota atau Stora Torget, seperti Tanneforsgatan, St Korsgatan, dan Ågatan Streets.

Surga untuk Jalan Kaki
Saya memulai liburan dua hari ini dengan keliling Linköping sambil berjalan kaki. Seperti kebanyakan kota-kota di Eropa, alun-alun kota merupakan tempat yang menarik untuk didatangi. Begitu pula dengan city center, yang dikelilingi bangunan pertokoan, restoran, dan gereja bergaya klasik khas Eropa.
Saint Lars' Church dan Linköping Cathedral adalah dua gereja yang menjadi landmark kota. Saint Lars' Church terletak di sudut Storgatan dan St Larsgatan. Gereja yang sudah berdiri sejak abad ke-19 ini didominasi warna putih. Terkesan sangat klasik dengan menara lonceng berwarna hijau tua yang selalu bunyi sebanyak tiga kali tiap harinya.
Dengan menara setinggi 107 meter, arsitektur Katedral Linköping buatan Helgo Zettervall ini bergaya neo-klasik dari abad ke-12. Gereja yang ukurannya jauh lebih besar dari Saint Lars' Church dan telah menjadi salah satu kebanggaan kota ini merupakan pembesaran dari gereja sebelumnya yang dianggap terlalu kecil untuk menampung jemaatnya.
Cukup mencengangkan ketika mengetahui bahwa membutuhkan waktu sekitar 300 tahun untuk membangun gereja ini, sejak tahun 1230-an hingga 1885-1886. Pintu utara adalah bagian tertua dari gereja, bersama dengan roman arch pada tempat paduan suara di dalamnya, di mana sebuah salib besar digantung. Gereja ini juga merupakan rumah bagi banyak harta karun seni, salah satunya karya Henrik Sorensen yang kontroversial, yaitu sebuah altar yang dilukis pada tahun 1935, menggambarkan Yesus bangkit dari kubur pada pagi Paskah.
Berjalan kaki melewati katedral, saya melihat bangunan berwarna kuning besar terlihat seperti sebuah rumah mewah. Ini adalah city hall atau balai kota tempat para pegawai pemerintah kota bekerja. Didirikan pada tahun 1864, bangunan itu awalnya sebuah sekolah tinggi. Fungsinya berubah menjadi balai kota sejak tahun 1921.
Di luar bangunan, saya melihat ada sebuah penanda di jalan, yang diyakini menjadi tempat pertumpahan darah Linköping yang berlangsung pada tahun 1600. Namun, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kejadian tersebut sebetulnya terjadi di Stora Torget Square, di sudut yang sekarang sudah menjadi restoran Burger King.
Kebetulan teman saya ingin mengembalikan buku ke public library, jadi kami kembali berjalan kaki karena letaknya tidak jauh. Terlihat sebuah bangunan modern dengan banyak jendela, hampir seperti rumah kaca, dikelilingi taman rumput berhiaskan bunga berwarna-warni yang cantik di sekelilingnya. Kebetulan musim gugur baru saja datang, sehingga bunga masih banyak yang bermekaran.
Perpustakaan ini tidak hanya arsitekturnya saja yang mengagumkan, interiornya pun menarik. Ruangannya nyaman dan didekorasi dengan beberapa kursi karya desainer terkenal, salah satunya adalah egg chair karya Arne Jacobson. Sungguh tak berhenti membuat kagum, apalagi kalau mengingat sistem pendidikan yang gratis bagi warga negaranya dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Duduk membaca buku sambil menghadap ke jendela dengan pemandangan taman cantik di luarnya, rasanya saya betah berlama-lama berada di dalam perpustakaan ini.

Kanal Buatan Alam dan Manusia
Dari perpustakaan, saya menuju salah satu tujuan ikonis, yaitu Gamla Linköping, sebuah outdoor museum yang menggambarkan kehidupan Linköping di masa lalu. Untuk mencapai tempat ini, kami harus menggunakan bus lokal, karena letaknya sekitar 2 km ke arah barat dari tengah kota. Lebih menyenangkannya lagi, kita tidak perlu membayar untuk bisa masuk.
Sesampainya di sana, saya melihat sebuah bentuk yang menyerupai kotak telepon umum yang cukup menarik perhatian saya, dan ternyata benar itu adalah boks telepon umum di masa lalu. Di sini saya bisa melihat kehidupan masyarakat Swedia di masa lalu, mulai dari arsitektur bangunan berupa rumah-rumah kayu, lorong-lorong batu besar, dan kebun.
Di sini kita juga bisa masuk ke dalam museum yang menampilkan kegiatan masyarakatnya di masa itu, seperti kantor pos, bank, serta pertokoan yang menjual kerajinan serta suvenir yang dapat kita beli. Sangat menarik bagi saya sebagai seorang yang senang mengunjungi museum.
Setelah berkeliling, kami mampir ke sebuah kafe yang menyajikan dessert khas Swedia dan menikmasti fika (coffee break), seperti yang biasa dilakukan oleh masyarakat Swedia. Fika bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, biasanya dengan kopi dan kue manis.
Berjalan-jalan pendek melalui Vallaskogen membawa kami ke Valla Farm, sebuah cagar alam dengan museum yang menampilkan sejarah pedesaan, hewan ternak, area bermain yang besar, dan lapangan golf miniatur.
Sore harinya, seorang teman lainnya mengajak saya pergi ke sebuah tempat yang menarik. Kami janjian untuk bertemu di stasiun kereta pukul 5 sore dan pergi bersama-sama dari sana. Oh ya, orang Swedia sangat menghargai dan disiplin terhadap waktu dalam segala hal, baik janji meeting, interview harus ditepati, dan pantang mengingkari janji, kecuali sudah izin terlebih dahulu.
Ketika teman saya menyebutkan nama tempat yang akan kami kunjungi, Göta Canal, saya tidak mengerti. Mungkin karena faktor pronunciation bahasa Swedia yang tidak familiar di telinga. Saya hanya mengikuti ke mana ia akan membawa saya sore itu. Ternyata lokasinya cukup jauh dari kota, yaitu di Lake Roxen, sekitar 16 kilometer ke arah utara Linköping dan lagi-lagi harus menggunakan bus umum selama sekitar satu jam. Cukup jauh, mengingat di sana tidak ada macet.
Menurut sejarahnya, Göta Canal adalah salah satu proyek sipil terbesar yang pernah dilakukan di Swedia. Kanal yang dibangun pada abad ke-18 ini membentang dari Sjotorp di Danau Vänern menuju Mem di pantai timur, dengan panjang 190 kilometer dan total 58 locks (pintu air). Dari jarak ini, 87 kilometer adalah buatan manusia, sisanya buatan alam.
Pembangunannya memakan waktu selama 22 tahun, dan pada abad ke-19, kanal ini menjadi rute transportasi utama, baik bagi penumpang maupun barang. Banyak turis berdatangan menggunakan bus pariwisata di sini, karena banyak hal yang bisa dinikmati dan pemandangannya menyenangkan. Saya pun berjalan kaki melihat keindahan pintu air yang dulunya aktif digunakan, tetapi sekarang hanya dijadikan sebagai atraksi turis. Dari kejauhan saya melihat sebuah bayangan seorang laki-laki yang berdiri di tengah danau. Ketika saya dekati, ternyata itu sebuah instalasi seni setinggi 9 meter yang diberi nama Doppelganger atau double man.
Hal lain yang bisa dilakukan di sana adalah menikmati pemandangan sambil makan di kafe, bermain minigolf, bersepeda atau berenang di danau. Karena hanya ada satu nomor bus yang bisa membawa kami ke tempat ini dan kembali ke kota, yaitu bus nomor 520, maka kami harus menyesuaikan dengan jadwal bus tersebut. Kalau tidak, kami bisa ketinggalan bus dan harus menunggu lama untuk bus berikutnya!
Sesampainya di pusat kota, Linköping seperti sudah terlelap. Padahal, waktu baru menunjukkan pukul setengah delapan malam. Tapi memang harus dimaklumi. Seperti kebanyakan kota di Eropa, segala kegiatan di sini memang berhenti setelah pukul 6 sore, semua toko pun tutup di hari Minggu. Yang buka di malam hari hanyalah beberapa restoran dan kelab malam. Jam kerja masyarakat Swedia memang dibatasi, hanya 40 jam seminggu, karena mereka menghargai keseimbangan hidup. Godnatt (selamat malam)…!
Si Manis Lingonberry
Selama ini nama lingonberry begitu familiar di telinga mereka yang hobi berkunjung ke IKEA, toko perabot rumah Swedia. Sesungguhnya, buah ini memang begitu populer dan lazim di Swedia, tak terkecuali di Linköping. Lingonberry adalah salah satu bahan penting dalam masakan Skandinavia.
Biasanya, selai lingonberry adalah saus cocol untuk makan swedish meatball atau bakso khas Swedia, yang ditemani dengan mashed potato dan saus gravy. Lingonberry adalah sejenis berry yang tidak sepopuler strawberry dan blueberry. Warnanya merah cerah seperti cherry, rasanya asam manis. Bentuknya lebih kecil dari blueberry. Di Swedia, tanaman lingonberry bisa ditemukan di pinggir-pinggir jalan atau di pekarangan-pekarangan rumah.
TIP
1. Maskapai Emirates, KLM dan Lufthansa melayani penerbangan menuju ibu kota Stockholm. Untuk ke Linköping dapat melanjutkan dengan kereta api SJ atau bus sekitar 2 jam perjalanan.
2. Meski anggota Uni Eropa, Swedia masih menggunakan mata uang Swedish krona (SEK).
3. Salah satu pilihan tempat menginap yang menarik adalah di Elite Stora Hotellet, yaitu hotel bintang empat yang berlokasi di tengah kota dan merupakan salah satu hotel tertua di sana.
4. Bila ingin menginap di dekat stasiun kereta dan pusat transportasi lainnya, bisa memilih Park Hotel Linköping Fawlty Towers - Sweden Hotels yang berbintang empat.
REGINA SARI


