Anda mungkin pernah mengalami hal ini: ide-ide cemerlang Anda di rapat brainstorming rencana kerja tahunan tiba-tiba lenyap. Anda pun merasa lola (loading lama alias enggak ngerti-ngerti), otak seakan sulit diajak berpikir sehingga membuat tubuh terasa capek yang tidak jelas sebabnya.
Itu mungkin Anda sedang terserang ‘krisis’ kreativitas. Di kalangan penulis ada istilah writer’s block, yaitu ketika seorang penulis (entah penulis fiksi, nonfiksi, maupun penyair) menghadapi kondisi tidak lagi bisa memikirkan suatu ide atau merampungkan tulisannya, dan dalam kondisi ekstrem, mereka mengalami hal itu hingga bertahun-tahun.
Memang, kreatif seperti kata yang mudah diucapkan, tetapi tak mudah dilakukan. Memikirkan hal-hal baru, yang belum pernah dibuat orang, sungguh tak segampang membalik telapak tangan. Apalagi bila kita cenderung ingin main aman, dengan mengikuti aturan dan SOP yang sudah ada, wah bisa-bisa kita benar-benar tak lagi bisa menghasilkan sesuatu yang baru.
Benarkah demikian adanya? “Buat saya, kreativitas itu sesimpel melihat, berpikir, atau melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain. Selama saya bernapas, apa pun yang ada di hadapan saya bisa saya olah menjadi sesuatu yang kreatif,” ujar Yoris Sebastian, konsultan dan pelaku industri kreatif, yang juga penulis buku Creative Junkies.
Sepertinya, kok, mudah, ya? Yoris menambahkan, berdasarkan pengalamannya, kreativitas itu sebetulnya merupakan sebuah kebiasaan. Yoris bercerita, waktu kecil sebenarnya ia bukan anak yang kreatif. Ia anak yang biasa-biasa saja.
“Kalau saja dulu orang tua saya ditanya dari keempat anaknya, siapa yang 15 tahun ke depan yang akan menjadi sosok kreatif, pasti jawabannya bukan Yoris. Kakak saya sangat cerdas dan ber-IQ tinggi, dan adik bungsu saya bandel banget, dan sering dikonotasikan bahwa bandel itu tandanya kreatif,” kisahnya.
Karena itu, Yoris berani mengatakan, bila dirinya (yang biasa-biasa saja) sekarang disebut-sebut sebagai salah satu sosok kreatif di Indonesia, harusnya semua orang juga punya kesempatan yang sama untuk menjadi kreatif.
Secara teori kreativitas seseorang bisa diukur. James Kaufman, profesor psikologi dari the University of Connecticut, memopulerkan 4 model kreativitas yang disebut ‘Four C’. Teori ini ia kembangkan dari teori sebelumnya yang ia temukan bersama Ron Beghetto.
Sebelumnya, Kaufman dan Beghentto membagi dua kelompok, yaitu Big C dan Little C. Big C adalah kelompok berisi para genius, seperti Mozart, Beethoven, atau Chopin dalam dunia musik klasik. Kalau di dunia seni peran, siapa menyangkal bakat genius Meryl Streep?
Sementara, Little C adalah orang yang kreativitasnya dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang yang belajar musik dan menulis lagu untuk have fun.
Kemudian, Kaufman menilai, ada dua level lain selain dua tersebut, yaitu Mini C dan Pro C. Mini C adalah kreativitas yang terjadi melewati proses. Misalnya, seorang anak yang belajar menulis cerita pendek. Atau seorang dewasa yang belajar membuat cake –meski dengan buku resep yang bertebaran memenuhi meja dapurnya. Tak peduli hasil cerita si anak itu jelek atau hasil kuenya masih bantat, apa yang mereka lakukan itu memuaskan mereka secara personal.
Sementara, Pro C adalah expert-level creativity. Misalnya, seorang musikus yang menciptakan lagu yang menjadi populer. Atau para programmer yang bekerja --di bawah bimbingan ‘the Big C Steve Jobs’-- untuk menghasilkan iPhone.
Kaufman mencontohkan proses kreativitas seorang penulis, katakanlah bernama Sally. Saat masih belia, Sally belajar menulis puisi dengan berbagai bentuk. Misalnya, dia menulis sonata atau bait-bait puisi bebas. Puisi-puisi itu tidak selalu bagus, tetapi semuanya berarti buatnya. Ini namanya Mini C.
Karena terus-menerus berlatih, Sally makin mahir. Kemungkinan, dia mulai diminta membacakan puisi di sebuah coffee shop atau puisi yang ia kirimkan di koran lokal berhasil dimuat. Orang lain mampu melihat bahwa puisi Sally itu indah dan penuh makna. Inilah yang disebut Little C (Kaufman menamakannya ‘county fair’ creativity).
Bakat Sally kian berkembang. Dia akhirnya diminta mengajar puisi di sebuah college. Dia juga secara teratur memublikasikan karyanya di media sastra terpandang. Ini adalah Pro C.
Jika Sally memang benar-benar berbakat dan dinaungi dewi keberuntungan, ia bisa menjadi penyair besar. Bahkan sampai dia meninggal kelak pun hasil karyanya tetap dibaca orang, dan banyak menjadi bahan studi. Sally di sini adalah the Big C.
“Semua dari kita memiliki Mini C, dan hampir semua dari kita bisa mencapai Little C. Banyak di antara kita yang bisa mencapai Pro C dengan kerja keras dan training. Tapi, hanya sedikit dari kita yang mencapai Big C – which is okay,” tulis Kaufman. Karena, di level apa pun kita, kreativitas itu sangat bernilai.
Yoseptin Pratiwi


