Di saat negara Cina meninggalkan wol karena imbas pergantian gaya busana yang sederhana, di Australia tetap menggalakkan serat alami ini sebagai bahan pakaian yang ramah lingkungan dan membuat kualitas kain menjadi sangat baik. Bahkan, awalnya wol banyak digunakan di negara empat musim. Kini, banyak negara tropis yang mengolahnya menjadi busana siap pakai hingga modest wear.Animal textiles umumnya berasal dari rambut atau bulu dan serat kulit binatang, seperti kain wol dan kain sutra. Kain wol umumnya berasal dari bulu kambing dan domba yang memiliki ikal kecil di dalamnya. Pemanfaatan rambut domba sebagai bahan tekstil bermula pada sekitar tahun 8000 sebelum Masehi, saat domba pertama kali dijinakkan. Lalu wol diolah khusus dan diproses menjadi sehelai kain dengan metode penenunan maupun perajutan.
Karena terbuat dari serat protein, wol memiliki sifat tahan terhadap air, tahan terhadap kotoran, mampu meregang hingga 50% ketika basah dan 30% saat kering, serta mampu menyerap kelembapan. Oleh karena itu, busana berbahan wol sering digunakan sebagai baju hangat yang nyaman.
Kini, bahan wol juga bisa digunakan untuk busana ringan di negara tropis seperti Indonesia. Bahannya yang lembut, halus, dan menyerap keringat memungkinkan untuk digunakan di udara panas dengan pilihan wol yang tidak terlalu tebal. “Bulu-bulu domba ini bisa diolah menjadi produk rajutan yang bermutu tinggi. Bahkan, kini diperbarui menjadi bahan untuk busana olahraga hingga fashion kontemporer yang elastis mengikuti lekuk tubuh,” ujar Rob Langtry, Kepala Bagian Strategi dan Pemasaran Utama Woolmark Company. (f)


