Setelah menyaksikan kartun Cinderella di usia 4 tahun, Audrey kecil pun bertanya kepada ibunya, “Aku ingin membuat gaun-gaun indah seperti itu, apa nama (bidang)-nya?” Sang ibu pun menjawab, “Fashion design.”Obsesi terhadap gaun-gaun ala Disney Princess mengantarkan Audrey pada sekolah bergengsi: Parsons School of Design di New York. Audrey memulai kariernya dengan bekerja pada perusahaan bridal and evening gown, bahkan merambah sebagai desainer kostum pertunjukan kabaret. Hal ini membuka jalan bagi Audrey untuk mendesain kostum pertunjukan Nikki Minaj pada Grammy Awards 2012. Ingar-bingar dan gemerlap yang ditawarkan Kota New York tak membuat Audrey silau mata. Ia tetap rindu kampung halaman dan memutuskan untuk memulai bisnis di tanah air, walau rencana tersebut tak langsung berjalan mulus karena ia kesulitan menemukan pattern maker. Impian untuk menjadi desainer busana pengantin pupus, namun tak membuatnya patah arang.
“Sebagai seorang desainer, saya ingin seperti Coco Chanel di permulaan kariernya, di mana ia membuat pernyataan melalui fashion, bahwa wanita seharusnya memakai sesuatu yang indah, nyaman, dan chic tanpa terbentur pada aturan tertentu,” ungkap Audrey, dalam wawancaranya dengan femina.
Saat liburan di Bali tahun 2012, Audrey melihat tingginya ketrampilan para perajin aksesori dan terinspirasi untuk membuat koleksinya sendiri. “Inspirasi koleksi perhiasan saya adalah women's empowerment, enlightenment, dan inner peace seperti yang selalu dilakukan oleh wanita Bali,” ujar Audrey.
“Unsur brand yang diciptakan dapat diterjemahkan dari icon (pion ratu dalam catur) dan logo (double A arrow),” lanjutnya. Menurut Audrey, icon sebagai pion ratu dalam catur merepresentasikan pelanggan ideal, yaitu wanita pintar dan independen yang dapat menjadi dirinya sendiri dalam kehidupan yang seperti sebuah papan catur.
Audrey mengakui, berkreasi dalam seni dan mode adalah dunia yang paling seru. Jerih payah mewujudkan khayalannya dalam sebuah perhiasan yang rumit serasa terbayar ketika perhiasan tersebut diminati oleh klien.
Audrey tak malu menunjukkan sampel rancangannya door-to-door pada butik-butik di kota-kota Eropa dan melakukan research online untuk menemukan tempat bagi jewellery Audrey Akman dapat dijual. Audrey menjejakkan langkah hingga ke Amsterdam, Vienna, Budapest, Prague, Polan, Sweden, dan Paris. Hingga akhirnya dapat diterima dan pelan-pelan mencapai popularitas.
Dalam 5 tahun ke depan, Audrey berharap dapat mengembangkan bisnis perhiasan ini dan meningkatkan kesadaran tiap wanita untuk terus berjuang dalam kegagalan hingga ia memperoleh kepuasan batin. “Saya memperoleh kepuasan batin melalui aksesori,” tegasnya.
Meskipun fashion jewellery bukan cita-cita awal seorang Audrey Akman, koleksinya terbukti mencapai prestasi bisnis dalam 2 tahun saja. Dalam kurun waktu yang cukup singkat, Audrey berhasil mendapatkan klien setia dan eksposur dari media lokal maupun internasional. Tak perlu penasaran, tinggal klik www.audreyakman.com, pengiriman ke Indonesia termasuk dalam pilihan. (f)


