Fiction
Kemilau Emas Gunung Botak [2]

20 Oct 2015


<<<<< Cerita Sebelumnya

BAGIAN 2
Kisah sebelumnya:

Untuk meredakan sakit hati karena putus cinta, Laras, seorang wartawan, mengambil cuti dan melakukan perjalanan ke Pulau Buru tanpa tujuan yang pasti. Di kapal, ia bertemu dengan Pak Hari dan rombongan yang berangkat dari Jawa ke Buru untuk menambang emas di Gunung Botak. Laras pun melihat ada petualangan baru di depan matanya.


Kehidupan di tempat ini  tampak  ingar-bingar. Musik dari dalam tenda  terdengar bersahut–sahutan.  Para penggali ada yang sedang bersantai di dalam tenda yang juga menjadi tempat tinggal mereka. Ada pula yang baru selesai menggali, tubuh mereka kotor oleh tanah.

Kemudian kulanjutkan perjalanan ke tepi sungai. Di sana  bertebaran tromol, tempat pengolahan  emas yang bahan utamanya  adalah air raksa atau zat merkuri. Tak jauh dari itu,  ratusan  orang tengah mendulang   pasir menggunakan wajan. Orang tua, remaja, laki-laki dan perempuan,  bahkan anak-anak  pun  ikut mendulang emas.  
 Limbah merkuri akan sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat Wanamasit, karena pendulang emas membiarkan air sisa yang mengandung merkuri mengalir ke sungai. Sementara itu, sungai di kawasan Gunung Botak mengaliri  areal persawahan.  Bisa dibayangkan bagaimana nasib masa depan pertanian di Desa Wanamasit. Selain dikenal penghasil  minyak kayu putih,  Desa Wanamasit juga merupakan daerah  lumbung padi.  Limbah merkuri  juga akan mencemari  laut di Teluk Namlea yang menjadi tempat mata pencaharian nelayan  karena air sungai akan mengalir ke laut.

Aku  menyusuri  sungai  hingga tiba di anak sungai. Airnya tampak  keruh, cokelat kekuning-kuningan, mengalir membawa lumpur yang bercampur  dengan   tanah dan batu-batu kecil. Sungai ini sudah tercemar. Tidak hanya lumpur, melainkan juga sampah  yang  bertebaran memenuhi sungai. Bila hujan tiba dikhawatirkan akan terjadi banjir.  Aku mengambil beberapa foto untuk bukti bahwa telah terjadi pencemaran lingkungan.

Aku mengalihkan pandangan ke arah tebing tak jauh dari sungai. Tebing itu sudah terkikis longsor. Aku berjalan  ke atas tebing melalui jalan setapak yang menanjak.  Terdengar suara deru mesin gergaji. Kudatangi arah suara itu. Tampak beberapa orang sedang menggergaji sebuah pohon  dengan diameter cukup besar.  Saat aku bertanya, salah seorang di antara mereka menjawab batang pohon ini akan digunakan  sebagai  papan dan balok  untuk menyangga tanah galian dan juga tenda.  Mereka adalah penduduk setempat yang menjual batang pohon kepada penambang. Aku masuk ke dalam areal yang menyerupai hutan kayu itu. Sebagian besar pohonnya sudah ditebang. Tampak sisa-sisa penebangan pohon. Ini rupanya yang menyebabkan tebing terkikis longsor.

Saat hendak kembali ke tenda  tempat Pak Hari, mendadak aku tak ingat arah jalan yang telah kulalui. Kususuri jalan setapak yang kuharapkan bisa membawaku ke arah di mana aku datang. Jalanan  yang berkelok–kelok, terkadang aku harus berjalan menanjak dan menurun.  Hanya ilalang yang ada di kiri kananku. Sepertinya ini bukan jalan yang  kulalui tadi. Hamparan tenda terlihat menjauh dariku. Artinya aku sudah berjalan cukup jauh.

Matahari mulai berjalan ke ufuk barat, menyelinap di antara pepohonan. Sebentar lagi hari  gelap dan aku belum menemukan jalan untuk kembali. Aku berhenti beberapa  saat di depan areal  perkebunan yang dikelilingi oleh  pepohonan  rimbun setinggi hampir dua  meter. Aku mencium wewangian yang khas. Kupetik beberapa  helai daunnya yang berwarna hijau dan berbentuk jorong itu. Lalu meremasnya perlahan dan wangi itu  makin  kental terasa. Aroma  wangi kayu putih.  Aku menghirupnya berulang–ulang, menikmati  kesegarannya sambil menyelonjorkan kaki yang terasa pegal dan perut yang mulai terasa lapar.

Kini aku harus berpikir bagaimana keluar dari tempat ini dan mencari   penginapan.  Untuk memudahkan investigasi, aku harus menginap di sekitar sini. Tapi aku   tidak yakin bisa mendapatkan tempat menginap di  desa ini. Wanamasit  hanyalah sebuah desa kecil. Satu–satunya cara adalah menginap di rumah penduduk.

*********************************

Dari kejauhan seorang   perempuan setengah baya berjalan sambil membawa ranting–ranting pohon. Tangan kirinya memegang parang. Perasaanku lega. Akhirnya aku menemukan orang untuk  bertanya. Bergegas  kuhampiri dia. Kutanyakan  padanya arah menuju jalan besar.

“Ose mau  ke mana?” tanyanya dengan logat Ambon yang kental.
“Saya sebetulnya mau mencari penginapan, Bu,” jawabku.
“Di sini seng ada tampa penginapan,” ucapnya.
Rupanya nenek ini tak begitu lancar berbahasa Indonesia.  Ia  mencampur logat bahasa  Ambon dengan bahasa Indonesia, sehingga aku sedikit kesulitan memahami kalimat yang ia ucapkan. Aku memintanya mengulang kembali  Nenek memberi isyarat dengan melambaikan tangannya yang artinya tidak ada penginapan. Persis yang aku perkirakan.  Di tempat ini tak ada penginapan.
“Ose boleh tinggal di rumah beta,” ajaknya.
Nenek ini seolah tahu aku sedang kebingungan.
“Terima kasih. Tapi apakah Ibu keberatan, kalau saya  tinggal selama tiga hari?” kataku.
Aku memperkirakan investigasiku   akan memakan waktu selama tiga hari.
“Tentu saja tidak, ose bisa tinggal lama di beta pung rumah,“ jawabnya, sambil tersenyum lebar. Menandakan bahwa ia bersungguh–sungguh.
“Terima kasih, Bu,” ucapku lega.
“Ose panggil beta Nenek Ruth. Dong  samua panggil beta  bagitu,” katanya.
“Nama saya Laras,” kataku memperkenalkan diri.
“Ayo, Laras, hari su  mau galap,” ajaknya.
Aku mengikuti langkahnya. Nenek  Ruth  berusia  sekitar lima puluh  tahun. Rambutnya ikal dan tebal, dipotong  pendek setengkuk. Berkulit sawo matang dan bertubuh  padat.

Wajahnya terlihat masih segar. Langkahnya  cepat dan cara berjalannya tegap, menandakan bahwa ia seorang pekerja keras. Rumah  Nenek Ruth berada tak jauh dari lokasi perkebunan kayu putih tadi. Sebuah rumah tua yang   cukup luas. Beberapa  bagian dinding masih terbuat dari kayu. Lantainya terbuat dari semen. Tak  banyak perabotan di dalamnya. Satu set  meja kursi  tua  di ruang tamu yang cukup luas. Sebuah lemari  pajangan yang sudah lusuh. Di dalamnya tersimpan perabot  makan terbuat dari beling  dan sebuah foto hitam putih berbingkai kayu. Ada tiga kamar di rumah itu.  Nenek menunjuk kamar depan untukku. Ia menjelaskan bahwa kamarnya berada di  dekat dapur.

    “Jadi Laras datang karena mas?”  tanya Nenek.
Sepanjang perjalanan menuju rumah tadi, aku sudah bercerita tentang tujuanku datang ke sini.
 “Mas kaya gula, bikin samut–samut datang,” lanjut Nenek.
Nenek menjawab  sendiri pertanyaannya dengan suara tertahan. Namun,  kali ini   wajahnya  berganti  muram.  
“Semua su berubah, pas orang dapat mas di Gunung Botak. Dulu  seng  ada yang brani maso Gunung Botak. Itu  gunung keramat,” lanjutnya lagi.
“Sekarang?” tanyanya seolah pada diri sendiri.
 “Pohon–pohon dipotong, tanah digali. Kalau Laras lewat Kali Anahoni, pasti dapat kali lumpur. Padahal dolo, pung aer paling bersih. Bisa  untuk minum,” lanjutnya dengan wajah muram.
Ucapan Nenek  persis seperti yang aku lihat tadi.
“Mas  ini adalah  kutukan,” lanjutnya lagi.
“Kutukan? Maksud Nenek?” tanyaku tak mengerti.
“Ah, seng apa–apa, Laras,” jawabnya sambil menepuk kening.
Wajahnya mendadak bingung. Ia seolah tak sadar  dengan apa yang telah diucapkannya.

***********************************
    Sayup–sayup aku mendengar suara Nenek Ruth memanggil. Kucari  arah suara itu.  Nenek sedang berdiri di  depan sebuah bangunan kayu  beratap rumbia. Ia melambaikan tangan memberi tahu keberadaannya.

Rupanya  Nenek tahu aku sedang mencarinya. Saat bangun tidur tadi, aku tak menjumpai Nenek  di rumah. Kemudian kucari ke dapur dan sekeliling  rumah. Ternyata  ia berada  di sini.  Nenek sedang memetik daun kayu putih dari ranting yang kemarin ia bawa. Kuhampiri Nenek dan duduk di sampingnya.

“Laras, mau pi di mana?” tanya Nenek.
 “Laras akan pergi ke kantor desa dan  menemui teman di Gunung Botak, Nek,” jawabku.
Aku  sudah menyusun agenda kegiatanku selama di  Gunung Botak dan kutargetkan tiga hari  tugas investigasi  ini selesai. Kemarin awal permulaan yang baik. Aku sudah mendapatkan banyak informasi dan fakta–fakta yang ada. Hari ini aku akan mewawancarai kepala desa terkait penambangan emas liar di Gunung Botak. Setelah itu,  kembali ke  Gunung Botak melakukan investigasi lanjutan  dan menemui Pak Hari. Kemarin aku  belum sempat berpamitan dan mengucapkan terima kasih padanya.

“Laras ada  pung  tamang di sini?”
“Teman seperjalanan  sewaktu di kapal, Nek. Namanya Pak Hari dari Madiun,” jawabku.
“Madiun?” tanyanya setengah terkejut.
Aku menjawab dengan menganggukkan kepala. Kemudian Nenek mengajukan  beberapa pertanyaan tentang  Pak Hari. Kujawab dengan menceritakan  kisah hidup Pak Hari. Nenek sepertinya tertarik dengan kisah Pak Hari.  Ia menyimak  ceritaku dengan mimik serius, terlebih ketika aku menceritakan tentang tanda luka di tubuh Pak Hari.
“Dia  ada di Gunung Botak?” tanya Nenek menegaskan.  
“Ya, Nek. Pak Hari  bersama rombongannya  ada di Gunung Botak.”
Wajah Nenek mendadak berubah muram.
“Kenapa, Nek?” tanyaku,   heran  dengan perubahan sikapnya.
“Ah, seng  apa-apa,” jawabnya dengan suara gugup.
“Apa Nenek punya saudara di Jawa?“ tanyaku lagi.
“Seng ada, Laras,” jawabnya, kali ini suaranya  kembali tenang, meski wajahnya tetap muram.
Kemudian Nenek  mengajakku  masuk ke dalam ruangan. Ternyata  ini adalah tempat penyulingan minyak kayu putih. Terlihat tungku  api yang dinyalakan oleh kayu bakar. Di atasnya  terdapat  drum kayu  berukuran besar.  Di sampingnya berdiri   sebuah drum besar dengan ukuran  yang sama.
Nenek jongkok di  samping tungku. Tangannya sibuk memasukkan kayu  bakar ke dalam tungku. Aku ikut-ikutan jongkok di sampingnya.
“Api tungku harus terus manyala. Makan jam bisa sampe  besok. Dolo,  Katong seng sabarang  bisa lia orang bikin minyak kayu putih,” ucap Nenek.
“Dolo, ada sapuluh orang yang karja,  sekarang su tinggal  ampat. Dong karja bakuganti,”  lanjutnya, sambil tangannya menunjuk kepada keempat pekerjanya. Dua  pekerja  memasukkan daun kayu putih ke dalam drum  di atas tungku. Dua pekerja lainnya menjaga api tungku dan mempersiapkan kayu bakar.
“Ke mana mereka, Nek?” tanyaku.
“Dong  seng mau karja di tampa bikin minyak  kayu putih lai,  cari mas lebih basar dapat uang,” jawab Nenek, kali ini dengan nada kesal.
“Samua  karena mas,” desahnya seolah pada dirinya sendiri.

Aku kembali melihat perubahan pada wajah Nenek. Wajah yang sama yang kulihat semalam. Ia berjalan  ke arah pintu. Aku mengikutinya. Pandangan Nenek lurus ke depan. Ternyata  tempat ini berseberangan dengan Gunung Botak. Hanya dipisahkan  oleh sungai kecil. Kemarin aku melewati sungai itu. Aku bisa dengan jelas melihat pemandangan Gunung Botak dari tempat ini. Tenda yang bertebaran dan orang–orang yang berlalu-lalang.
Ini untuk kedua kalinya  aku melihat wajah Nenek muram   tiap berbicara  tentang   tambang emas di Gunung Botak. Tapi seperti biasa, Nenek seolah tak sadar dengan apa yang ia ucapkan. Nenek  mengalihkan pembicaraan dengan memintaku menemaninya ke warung untuk berbelanja. Ia harus memasak untuk para pekerja.

Kami berhenti di sebuah warung di pinggir  jalan besar.  Nenek membeli  sayuran, telur,  dan beras. Perempuan penjaga warung menghitung  belanjaan Nenek. Aku cukup terkejut dengan hasil penghitungan belanjaan itu. Harga satu liter beras  dua puluh ribu. Satu ikat  kecil bayam empat  ribu. Seperempat telur  sembilan ribu.

“Mahal  sakali?” tanya Nenek dengan nada keras kepada  penjaga warung.
Nada keras Nenek menarik perhatian orang-orang yang sedang berbelanja. Mereka memperhatikan Nenek  dengan tatapan aneh.

 “Harga bensin mahal,  lagi pula barangnya susah, Nek,” ucap penjaga warung.
“Ini gara–gara ose samua sibuk cari mas,  sawah seng pernah  urus,” gerutu Nenek.
Penjaga warung  tak menjawab. Ia seolah tak ingin berdebat dengan Nenek.

Dimasukkannya belanjaan Nenek ke dalam kantong plastik.  Lalu kembali melayani pembeli  yang mengantre. Penjaga warung  terlihat sedikit kewalahan. Para pembeli sebagian besar  adalah  pendatang yang sedang menambang emas di Gunung Botak.
Tiba-tiba seorang perempuan  datang. Ia membuka dompetnya yang tebal. Terlihal tumpukan uang seratus  ribuan. Perempuan yang  hampir seusia denganku itu mengenakan perhiasan emas di lengan, jari dan lehernya.

Nenek memandang perempuan itu dengan wajah sinis. Perempuan muda itu tak menyadari. Ia sibuk mengambil lembaran uang dari dompetnya dengan perasaan  tenang. Seolah sengaja ingin  memperlihatkan isi dompetnya.  Ia  menyerahkan  sejumlah uang  seratus ribuan kepada pemilik warung.
“Tiga karung beras, antar Nenek  pung rumah,” perintah perempuan itu kepada penjaga warung, dengan suara angkuh.
Mata Nenek mendelik.  
“Ose bikin apa, Mina?” tanya Nenek dengan suara bergetar pada perempuan bernama Mina itu.
“Beta belikan Nenek beras,” jawab Mina, setengah meledek.
“Beta masih bisa beli sandiri,” kata Nenek dengan suara keras.
“Ose pi sudah. Beta seng butuh ose  pung uang,” bentak Nenek lagi.
Direbutnya uang dari  penjaga  warung, lalu dilemparkan kepada Mina. Nenek dan Mina terlibat perang mulut. Nenek menyebut Mina sebagai pencuri. Mina  menyebut Nenek sebagai orang yang serakah.  Suara  Mina tak kalah keras dari Nenek.
Orang–orang lebih memilih menyingkir ketimbang  memisahkan mereka. Sepertinya  mereka sudah  biasa dengan keributan seperti ini. Sebuah mobil jeep berhenti. Seorang laki–laki bertopi putih  turun dari mobil. Ia menenangkan Mina, lalu membawanya ke mobil.  Aku  seperti  mengenalnya, tapi tak ingat di mana.
Nenek membuka dompetnya dan menyerahkan uang pada penjaga warung, lalu mengajakku pergi. Kejadian tadi menjadi bahan tontonan orang–orang yang berbelanja di warung. Bahkan beberapa orang yang sedang melintas di jalan ikut menonton. Nenek seolah tak peduli.

Saat mobil jeep itu melintas di depan kami, lelaki itu memandang ke arah kami sekilas.    
“Siapa lelaki itu, Nek?” tanyaku penasaran.
“Dia  tu Ramli,  Mina pung  paitua,” jawab Nenek dengan nada kesal.
Aku mencoba mengingat nama itu. Ya, aku pernah melihatnya saat masuk ke Gunung Botak kemarin. Betul, dia adalah Ramli.
“Ramli  penjaga di Gunung Botak,“ ucapku berkomentar.
“Laras su bakudapa  Ramli?” tanya Nenek penuh rasa keheranan.
“Kemarin, Laras melihat Ramli di Gunung Botak.”
“Dia su jadi penguasa di sana,” ucap Nenek dengan nada sinis.
Aku  pernah mendengar cerita itu dari Pak Hari. Nenek sepertinya cukup mengenal Ramli.
“Ah, mas su bikin orang jadi jahat,” desah Nenek.
“Maksud Nenek, dulu Ramli orang yang baik?” tanyaku.
“Ya. Dolo dia anak bae. Tapi sejak kenal mas, dia berubah,” ucap Nenek, seolah tengah menyesali sesuatu.”
Tiba-tiba Nenek menghentikan langkahnya.
 “Sabantar  Laras,” ucap Nenek, memintaku berhenti berjalan.
“Ada apa, Nek?” tanyaku  dengan perasaan  bingung.
Ia tak menjawab. Matanya terpejam. Beberapa saat kemudian  matanya terbuka. Lalu menggelengkan kepala, sambil mendesah.
“Ada  mau tanah   longsor di Gunung Botak,” jawab Nenek, dengan suara lirih.
“Longsor?” tanyaku tak percaya.
“Ya,  beta bisa  rasa itu,” ucap Nenek dengan wajah serius.
“Hati-hati kalau Laras mau pi di sana,” pesan nenek,  seperti sebuah peringatan.
Aku menjawab  dengan anggukan kepala dan tak berani bertanya lagi, meski perasaan bingung menyergapku. Kemuramannya saat bercerita tentang emas di Gunung Botak, pertengkaran dengan Mina dan  terakhir ramalannya tentang longsor yang akan terjadi di Gunung Botak, membuat Nenek  makin terlihat misterius. Ketertarikanku terhadap sosok Nenek Ruth mendadak muncul. Dari sikapnya, firasatku mengatakan ia mengetahui banyak perihal  penemuan emas di Gunung Botak.
Sebelum  pergi,  Nenek kembali  memberiku pesan. Kali ini  dua pesan sekaligus.  Pertama,  aku  harus  berhati-hati selama berada di sana, dan usahakan  secepatnya kembali ke rumah. Sekali lagi ia mengatakan akan terjadi longsor di Gunung Botak. Kedua,  aku  harus  menjauh bila bertemu Mina.  Menurut Nenek, Mina  adalah seorang pembohong.  
  Aku menghubungi Martinus untuk menemaniku hari ini.  Tapi ia  hanya bisa mengantarku sampai Kantor Desa Wanamasit saja, karena akan  menambang emas di Gunung Botak bersama teman-temannya.  Aku memintanya menjemput di  rumah Nenek. Ia  terkejut mengetahui aku  tinggal di rumah nenek. Kemudian kujelaskan bagaimana aku bisa berada  di rumah Nenek. Martinus  cukup dekat dengan Nenek. Ketika datang  tadi, ia langsung menuju dapur menemui Nenek dan meminta makan.  
 “Martinus, kau sudah lama kenal Nenek?” tanyaku, sambil berboncengan.
“Nenek sudah ada sejak aku lahir,” jawabnya  bergurau.
“Aku serius dengan pertanyaanku.”
“Aku juga serius, Kakak. Nenek sudah terkenal sejak dulu.”
“Oh, ya? Terkenal karena apa?”
“Terkenal karena jaga Gunung Botak. Semua orang di desa ini kenal Nenek.”
“Jaga Gunung Botak?”
“Ya, tapi itu dulu, sekarang sudah tidak lagi.”
“Kenapa?”
Martinus tak menjawab pertanyaanku. Ia menghentikan motornya di  depan kantor Desa Wanamasit.
“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi,” kataku, mencoba menahannya.
“Nanti  aku sambung ceritanya. Aku  sudah terlambat, Kak,” katanya dengan nada tergesa-gesa.
 “Jangan  katakan  pada Nenek kalau aku pergi ke Gunung Botak,” pesannya sebelum pergi.
“Bukankah Nenek tadi sudah berpesan padamu untuk tidak pergi ke Gunung Botak?” tanyaku mengingatkan.
Saat menjemputku di rumah Nenek tadi, Nenek sudah berpesan pada Martinus agar tidak pergi ke Gunung Botak. Dengan jawaban meyakinkan Martinus mengatakan bahwa ia tak akan pergi ke Gunung Botak.
“Kakak,  aku perlu uang untuk ke Jakarta,” katanya memberi alasan.
 “Untuk apa kau pergi di Jakarta?”
 “Aku mau  bekerja di Jakarta.”
“Kau akan bekerja apa?” tanyaku tak yakin, mengingat ia baru berusia sekitar lima belas tahun.
“Aku belum tahu, Kakak, tapi  di Jakarta  banyak teman dan saudara,” ucapnya dengan wajah optimistis.
“Kakak, aku harus pergi,” katanya berpamitan dengan  tergesa-gesa.
Motor Martinus melaju kencang meninggalkanku.




***********
Dwi Ratnawati




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?