BAGIAN I
Perjalanan yang cukup melelahkan. Harapku, semoga ini bukan pertanda buruk. Berawal dari pesawat yang akan membawaku ke Ambon delay selama hampir dua jam. Ketika tiba di Pelabuhan Galala, kapal cepat tujuan Ambon, Namlea, sudah berangkat. Rupanya, kapal cepat hanya satu kali melakukan pelayaran.
Ada dua pilihan sebenarnya. Naik kapal biasa dengan waktu tempuh dua kali lipat lebih lama atau bermalam di Ambon menunggu kapal cepat esok hari. Naik kapal cepat waktu yang ditempuh hanya empat jam, sedangkan naik kapal biasa membutuhkan waktu hampir sembilan jam.
Matahari menyemburatkan warna Jingga. Pertanda hari menjelang senja. Aku harus membuat keputusan. Saat ini hampir pukul enam sore. Loket dibuka pukul sepuluh. Berarti aku harus menunggu sekitar empat jam. Sementara di loket pembelian tiket terlihat antrean panjang penumpang. Tiket kapal biasa hanya bisa dipesan pada saat keberangkatan.
Sebenarnya, aku tak perlu tergesa-gesa. Aku bisa datang ke Pulau Buru setelah puas menikmati liburan di Ambon. Masa cutiku pun masih lama. Tugasku kali ini bukan tugas wajib, melainkan hanya pengisi waktu cuti.
“Aku memberimu tawaran menarik. Liputan investigasi penambangan emas liar di daerah Gunung Botak, Desa Wanamasit, Pulau Buru,” ucap Alex, redakturku.
“Besok aku sudah mulai cuti,” kataku, menegaskan.
“Aku tahu. Anggap saja ini untuk mengisi waktu cutimu itu,” katanya, dengan nada tenang.
“Aku akan liburan,” kataku, menolak tawarannya.
Sebenarnya, aku belum tahu hendak ke mana mengisi waktu cutiku itu, selain menonton film.
“Aku tahu kau belum punya rencana untuk mengisi waktu cutimu, selain menonton film, jadi aku menawarimu tugas itu,” ucap Alex, penuh keyakinan.
Aku terdiam. Alex selalu tahu apa yang ada dalam pikiranku. Dan tebakannya selalu benar. Ia menyebut dirinya memiliki indra keenam. Kurasa bukan semata-mata karena kemampuan yang ia karang-karang itu, melainkan karena kami telah berteman cukup lama. Aku memanggilnya dengan panggilan Abang. Alex adalah kakak kelasku saat kuliah, tiga tingkat di atasku. Ia sudah bekerja sebagai wartawan lepas sejak di bangku kuliah. Setelah lulus, ia tetap aktif di kampus membantu mengelola majalah kampus. Kariernya di dunia jurnalistik cukup cemerlang. Kini, ia diangkat menjadi redaktur di media tempatku bekerja.
Alex mengambil undangan pernikahan berwarna biru muda dari dalam tasnya. Memandangnya sekilas, lalu berganti menatapku cukup lama. Aku mengerti arti tatapannya yang tak biasa itu. Kucoba bersikap biasa aja.
“Aku dititipi ini,” katanya, sambil mendorong undangan itu padaku.
Namaku tertulis lengkap. Tentu saja, aku juga akan mendapat undangan biru muda itu. Semua orang di kantor mendapatkan undangan.
“Terima kasih,” kataku singkat.
Tanpa melihatnya lagi, kumasukkan undangan itu ke dalam tas. Alex menaikkan alisnya. Matanya kembali memandangku. Tatapannya membuatku merasa canggung. Sudah hampir setahun aku tidak berhadapan seperti ini. Kecuali untuk urusan pekerjaan. Itu pun sebisa mungkin tidak berlama-lama. Hari ini, aku terpaksa datang menemuinya di Kedai Kopi Gayo langganan kami. Ia mengatakan ada hal penting yang harus dibicarakan. Meski sudah kutegaskan bahwa aku akan cuti. Alex tetap memaksaku untuk datang.
Suasana mendadak hening.
“Jadi karena ini Abang menugaskanku ke Ambon?” tanyaku, memecah keheningan.
“Aku baik-baik saja, terima kasih atas perhatian Abang,” lanjutku lagi.
“Laras, ini tidak ada hubungannya dengan….”
Alex menghentikan ucapannya.
“Dengan pernikahan Niko,” ucapku. melanjutkan ucapannya yang tak sampai hati ia ucapkan.
Aku merasa ia mengasihaniku. Seperti orang–orang di kantor sejak kabar pernikahan itu beredar. Apa yang dikatakan Alex tentang rencana cutiku adalah benar. Aku memang belum punya rencana apa pun untuk mengisi waktu cuti satu minggu ini. Yang pasti, aku tidak ingin berada di Jakarta pada hari pernikahan Niko.
Aku tidak ingin membahasnya, meski bila jujur kukatakan bahwa ini semua berhubungan. Alex tentu saja mengetahui bagaimana kisah cinta kami bermula dan berakhir, karena Niko adalah sahabat Alex. Ia yang memperkenalkan Niko padaku. Kami bekerja di media yang sama. Niko di bagian desain grafis. Kami sering nongkrong bertiga di tempat ini. Kebersamaan itu kini sudah tidak ada lagi. Persahabatanku dengan Alex berakhir, seiring dengan berakhirnya hubunganku dengan Niko.
Tanpa sengaja aku melihat foto-foto mesra Niko bersama perempuan lain. Setelah kudesak akhirnya Niko mengakui bahwa perempuan dalam foto itu adalah tunangannya yang sedang bersekolah di luar negeri. Aku kecewa mendapati kenyataan itu. Niko tak pernah sungguh–sungguh mencintaiku dan hanya menjadikanku sebagai pelarian. Mengakhiri hubungan menjadi jalan yang kupilih, karena Niko tak bisa membuat keputusan. Dan Minggu depan mereka akan menikah.
Aku makin kecewa saat mengetahui ternyata Alex sudah lama tahu bahwa Niko telah bertunangan, dan ia dengan sengaja tidak memberi tahu. Sebagai seorang sahabat, seharusnya ia memberi tahuku. Seandainya ia memberi tahu, mungkin aku tak akan membiarkan diriku jatuh cinta sedalam ini pada Niko.
“Seharusnya aku memang memberi tahumu, Laras, tapi aku tak sampai hati,” katanya, memberikan alasan sekaligus membela diri.
Sejak itulah semuanya berubah. Baik hubungan persahabatan maupun pekerjaan.
“Aku tahu ini kesalahanku…,” ucap Alex.
Kalimat yang tidak asing lagi kudengar.
“Aku tak mau mendengar lagi tentang hal itu,” potongku, dengan nada tegas.
“Untuk kesekian kalinya aku minta maaf, Laras. Kau boleh marah padaku, tapi jangan melampiaskan pada pekerjaan. Aku melihat penurunan prestasi kerjamu. Bahkan, setahun ini kau sama sekali tak menulis liputan investigasi. Aku tak pernah mendengar ide-ide cemerlangmu lagi yang membuat kita semua terkesima,” katanya lagi, penuh penekanan.
Sudah hampir satu tahun. Aku sadari itu. Aku hanya menulis berita wajib. Memenuhi kewajibanku untuk mengirim berita tiap hari. Terkadang bila sedang malas melakukan liputan, aku meminta berita ke sesama wartawan. Tinggal mengubah sedikit kalimat saja. Sering kali aku mengabaikan informasi dari informan di wilayah hanya karena aku malas pergi.
Alex benar, selama hampir satu tahun ini, aku tak pernah menulis liputan investigasi yang sebelumnya merupakan tantangan bagiku. Tiap wartawan ditugaskan untuk menulis liputan investigasi. Tema yang paling menarik itulah yang akan diizinkan untuk melakukan investigasi. Kolom investigasi itu dimuat tiap hari Jumat. Tiap bulan aku menargetkan bisa mengisi kolom dua halaman itu. Aku mencoba mengingat-ingat investigasi terakhir yang kulakukan. Pembalakan liar kawasan hutan lindung di wilayah Puncak. Sudah lama sekali. Tulisan itu mendapatkan penghargaan liputan jurnalistik di bidang lingkungan.
“Aku tahu itu semua terjadi seiring dengan berakhirnya hubunganmu dengan Niko. Kalau ada yang disalahkan atas itu semua, salahkanlah aku, Laras. Jangan kau hancurkan kariermu,“ katanya, bersungguh–sungguh.
Kualihkan pandangan pada secangkir kopi di hadapanku. Ia yang memesan kopi ini ketika aku datang. Americano coffee, kopi hitam tanpa ampas kesukaanku. Ia juga yang memilih tempat duduk di sudut kedai kopi ini. Tempat yang biasa kami tempati. Aku merindukan kebersamaan seperti ini dengannya. Jauh sebelum mengenal Niko, aku sering melewatkan waktu bersama Alex di tempat ini sambil berdiskusi.
Kusadari sesungguhnya Alex tak benar-benar salah. Alex hanyalah pelampiasan dari rasa marah atas apa yang dilakukan Niko padaku. Perasaan ego membuatku tak ingin mengakui itu semua. Kalimat permintaan maaf tadi, entah mengapa membuatku merasa bersalah padanya atas sikapku selama ini.
“Aku tak bisa memaksamu. Selamat cuti,” kata Alex, dengan wajah datar.
Ia meminum kopinya dan beranjak dari tempat duduk.
“Baiklah, aku menerima tawaran Abang,” ucapku akhirnya.
Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa kusadari. Alex mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia menyalamiku dan wajahnya berubah semringah.
“Terima kasih, Laras,” katanya, sambil menjabat erat tanganku.
Aku hanya terdiam, seolah tak percaya dengan ucapanku sendiri dan terlambat untuk menariknya kembali.
“Ini bukan liputan wajib. Kau tidak perlu tergesa-gesa. Bila perlu, kau bisa menambah waktu cutimu. Aku tidak memberimu deadline, tapi tetap investigasi itu harus kau selesaikan,” lanjutnya lagi.
Kalimat terakhir yang diucapkan Alex hanyalah sebuah rayuan saja. Aku hafal betul dengan kebiasaannya itu. Bila sedang menjalani tugas investigasi seperti ini, ia selalu meminta laporan kemajuan. Sekadar memastikan bahwa tugas itu sudah dilaksanakan. Dan ia tahu, aku tak bisa bersikap santai bila tugas belum selesai.
***************************************
Kerlip lampu di daratan perlahan–lahan mulai tak terlihat. Dalam gelap malam, ombak terlihat tenang. Perjalanan yang cukup panjang untuk kulalui seorang diri. Perjalanan ke Pulau Buru akan ditempuh selama hampir sembilan jam. Sekarang pukul sepuluh malam. Diperkirakan menjelang subuh aku akan sampai di Pelabuhan Namlea.
Selain penumpang, kapal juga riuh oleh para penjaja makanan dan minuman. Sebagian besar penumpang berasal dari Pulau Jawa. Mereka datang dengan membawa peralatan berupa wajan, linggis, dan sekop. Mereka adalah penambang emas tradisional yang akan menuju penambangan emas di Gunung Botak.
Aku mulai mencari tempat duduk. Cukup sulit ternyata. Hampir semuanya penuh baik di dek satu maupun dua. Di dekat tangga dek satu, seorang bapak berbaik hati memberiku tempat duduk dengan berbagi tikar sewaan. Sikapnya yang ramah membuatku bisa langsung akrab. Ia bernama Haryono, biasa dipanggil Pak Hari, berasal dari Madiun. Di usia yang sudah mencapai enam puluh tahun, ia masih terlihat segar. Badannya pun masih terlihat tegap. Ia hendak menambang emas di Gunung Botak bersama rombongannya.
“Mbak mau ke mana?” tanyanya.
“Saya mau ke Desa Wanamasit, Pak,” jawabku.
“Sendirian?” tanyanya penuh keheranan.
“Ya, Pak. Saya mau berkunjung ke rumah teman. Kebetulan saya sedang berada di Ambon,” lanjutku menjelaskan.
Aku sengaja tak mengatakan tujuanku yang sebenarnya.
“Kalau begitu nanti sama–sama rombongan Bapak. Desa Wanamasit dekat dengan Gunung Botak.
“Terima kasih, Pak, kebetulan teman saya tidak bisa menjemput,” ucapku mengarang–ngarang cerita.
“Pertama kali ke sini ?”
“Ya, Pak. Ini pertama kali saya ke sini. Kalau Bapak sudah sering ke sini?”
“Ini yang kedua kali. Dulu, Bapak pernah datang ke Pulau Buru. Sekitar tahun 1970. Jadi rasanya seperti mengenang peristiwa empat puluh tahun lalu,” jawabnya, dengan suara lirih.
“Oh, Bapak pernah tinggal di sini?” tanyaku.
“Bukan tinggal, tapi dipenjara,” jawabnya, penuh penekanan.
“Mbak Laras pernah dengar tentang tahanan politik di Pulau Buru?” tanyanya.
“Ya, Pak. Saya pernah mendengar tentang cerita itu.”
Pulau Buru memang memiliki sejarah tersendiri, di dalamnya tersimpan kisah kelam bagi para tahanan politik di era tahun 1965. Sekitar sepuluh ribu tahanan politik dibuang ke Pulau Buru. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer adalah salah satunya.
“Nah, saya ini adalah salah satunya,” katanya membuat pengakuan.
“Jadi Bapak pernah ditahan di Pulau Buru?” tanyaku, menegaskan.
“Ya Mbak, selama hampir lima tahun. Sampai sekarang Bapak tidak tahu apa salah Bapak. Waktu itu umur Bapak sembilan belas tahun. Bapak memang punya teman yang aktif di organisasi. Tetapi Bapak tidak ikut-ikutan. Tiba-tiba saja Bapak diciduk. Berpindah–pindah penjara. Dari Salemba, Tangerang, Nusa Kambangan, sampai akhirnya sekitar tahun 1970, Bapak dibawa ke Pulau Buru.”
“Bapak tidak protes?” tanyaku.
“Pada waktu itu Bapak memang tidak terima. Sempat melawan. Tetapi, setelah dipikir, hanya sia–sia saja melawan penguasa. Akhirnya Bapak berusaha bersikap pasrah dan menerima. Kalau tidak, Bapak sudah mati. Teman Bapak meninggal karena tak kuat kena siksa. Sebelum meninggal, dia berpesan supaya Bapak menikah dengan istrinya,” katanya panjang lebar.
“Bapak akhirnya menikah dengan istri teman Bapak itu?”
“Iya, Mbak. Bapak sudah janji sama teman Bapak itu. Setelah dibebaskan, Bapak pulang ke madiun dan menikah dengan istri teman Bapak itu. Sekarang Bapak sudah punya dua cucu, dari kedua anak Bapak yang semuanya perempuan,” jawabnya dengan tersenyum lebar.
Kemudian Pak Hari memperlihatkan bekas luka menyerupai akar di lengan kanannya. Luka akibat pukulan benda tajam saat mencoba melawan. Ia membuka sepatunya, dan memperlihatkan kelingking kaki kanannya yang putus karena luka yang membusuk. Aku menjadi ngeri membayangkan itu semua. Pak Hari menyebut bekas luka itu sebagai saksi perjalanan hidupnya sebagai tahanan di Pulau Buru.
********************************
Aku tak ingat kapan tepatnya terlelap. Saat membuka mata, matahari telah menyembul di balik awan ditemani angin pagi yang berembus lembut. Daratan sudah mulai terlihat dan kapal melaju perlahan menuju dermaga. Pak Hari memberi isyarat agar aku bersiap–siap. Kapal merapat ke dermaga Pelabuhan Namlea. Jembatan apron mulai diturunkan. Aku berjalan ke luar kapal bersama rombongan Pak Hari. Ditambah denganku dan Pak Hari, rombongan berjumlah enam orang. Pak Hari paling tua di antara mereka. Anggota rombongan lainnya berusia sekitar tiga puluh tahun.
Kami sarapan di sebuah warung. Selera makanku hilang, meski dari semalam perutku belum diisi. Sinyal yang hadir bila tubuhku mulai kelelahan. Tapi, kupaksakan untuk tetap sarapan. Rencananya setelah turun dari kapal, aku akan langsung mencari penginapan dan beristirahat. Baru keesokan harinya memulai investigasi di Gunung Botak.
Namun, pertemuan dengan Pak Hari membuatku mengurungkan rencana itu. Kurasa akan lebih mudah masuk ke tempat itu dan mendapatkan informasi bersama Pak Hari ketimbang aku masuk sendiri. Pak Hari tidak keberatan ketika aku meminta izin untuk ikut bersama rombongannya. Kukatakan padanya bahwa temanku sedang bekerja dan baru kembali nanti sore.
Seorang remaja menawarkan angkutan umum kepada Pak Hari. Setelah terlibat tawar-menawar, kami naik angkutan umum itu. Pak Hari mempersilakanku duduk di depan, sedangkan ia dan rombongan duduk di belakang. Sepanjang perjalanan terlihat bukit-bukit gundul dirimbuni pohon minyak kayu putih yang tampak mengering dan seperti tak terurus. Warna hitam pada batang pohon kayu putih dan merah pada daun- daunnya menyajikan pemandangan yang eksotis.
“Pohon kayu putih itu akan subur lagi. Lapisan kulit pohon yang hitam akan mengelupas berganti dengan yang baru. Setelah itu, daun-daunnya akan kembali tumbuh,” ucap Pak Hari menjelaskan.
“Wah, Bapak sangat hafal dengan daerah ini,” pujiku.
“Bapak pernah bekerja di tempat penyulingan minyak kayu putih setelah keluar dari penjara,” ucapnya.
“Dulu, Buru itu masih hutan. Kami membabat hutan selama hampir tiga bulan. Kemudian bercocok tanam dan makan dari hasil panen. Buru memiliki tanah yang sangat subur. Tiap panen selalu melimpah ruah, dan bisa menghidupi seluruh tahanan. Bapak ditempatkan di Desa Savana. Ada sebagian teman–teman yang menetap di sini,” kenang Pak Hari.
“Bapak mau pergi ke Savanajaya?” tanya remaja itu, sepertinya ia sudah tahu tempat yang dimaksud oleh Pak Hari.
“Ah, tidak. Kita langsung saja ke lokasi,” jawab Pak Hari.
Remaja itu meminta nomor ponselnya dicatat, siapa tahu kami mau menyewa kendaraan atau ojek motor. Ia bernama Martinus. Selain menjadi sopir angkutan, ia juga menjadi tukang ojek motor. Aku ikut mencatat nomor ponsel Martinus, kalau-kalau membutuhkan bantuannya.
Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika kami tiba di areal Gunung Botak, tapi matahari terasa begitu menyengat. Gunung Botak terlihat begitu sesak oleh ratusan orang yang berlalu-lalang. Tenda–tenda biru terbuat dari terpal bertebaran. Orang-orang berlalu-lalang sambil memikul karung-karung berisi tanah yang diduga mengandung emas.
Seorang laki-laki berperawakan tinggi besar dan berkulit gelap menghentikan langkah kami. Ia mengenakan topi putih yang dipakai hampir menutupi wajahnya. Pak Hari dengan santun menyapa laki-laki itu. Mereka terlibat perbincangan serius. Pak Hari menjelaskan bahwa orang-orangnya telah datang lebih dulu ke lokasi. Kami diminta menunggu. Mereka akan mengecek terlebih dahulu kebenaran ucapan Pak Hari.
“Kalau berhadapan dengan orang seperti itu, kita tidak boleh ngotot. Bagaimanapun, mereka lebih berkuasa. Karena mereka adalah penduduk setempat dan kita pendatang. Apa keinginan mereka, kita ikuti saja. Asal tidak berlebihan,” jelas Pak Hari dengan santai.
“Siapa laki-laki Itu, Pak?” tanyaku penuh selidik.
“Namanya Ramli. Dia penguasa tempat ini. Siapa saja yang hendak masuk harus izin dan membayar sejumlah uang. Anggota Bapak sudah memberi uang saat masuk ke lokasi pertama kali,” jawab Pak Hari dengan nada ringan.
“Bapak sepertinya sudah pengalaman bekerja di tempat seperti ini.”
“Ya, hampir sepuluh tahun ini. Bapak berkeliling ke Sumatra, Jambi, Jawa Timur dan Jawa Barat. Dulunya ikut-ikut teman. Sekarang Bapak sudah punya tim sendiri. Biasanya Bapak kirim orang ke lokasi. Kalau hasilnya bagus, baru Bapak dan anggota lainnya akan datang menyusul.”
“Bagaimana dengan emas di Gunung Botak ini, Pak?” pancingku.
“Bagus, sangat bagus hasilnya. Daerah ini kaya akan kandungan emas. Menurut anggota Bapak, hanya menggali kurang dari tiga meter saja urat emas sudah bisa terlihat,” jawabnya dengan mata berbinar-binar.
Ramli datang dan mempersilakan kami masuk. Topi yang ia kenakan membuatku tak dapat dengan jelas melihat wajahnya. Kami berjalan menanjak memasuki areal berbukit itu. Gunung Botak adalah sebuah areal perbukitan yang cukup luas dikelilingi rimbun pepohonan.
Aku mencium bau tak sedap saat melintasi jajaran tenda terpal itu. Bau pesing yang menyengat. Bau yang kurasa bersumber dari botol plastik bekas mineral yang bertebaran hampir di sepanjang tenda.
Di sebuah tenda kami berhenti. Beberapa orang menyambut Pak Hari. Di dalam tenda yang tak terlalu luas itu, terdapat lubang galian dengan lubang diameter sekitar hampir satu meter. Aku melongok ke dalam lubang yang kedalamannya diperkirakan mencapai lebih dari lima meter. Pak Hari tampak sibuk mendengarkan laporan anak buahnya. Aku
***********
Dwi Ratnawati
Dwi Ratnawati




