Fiction
Kemangi Ibu

15 Mar 2016



POHON KEMANGI yang berada di belakang rumah itu adalah milik Ibu. Tiap hari Ibu akan memetik beberapa daun dari sana. Lalu membawanya ke meja makan, memakannya bersama dengan nasi dan lauk pauk. Tiga kombinasi makanan tersebut membuat selera makan Ibu meningkat. Aku selalu mengamati Ibu. Apa pun lauknya, yang pasti harus ada daun kemangi.

Dulu, ketika aku masih kecil, rasa keingintahuanku selalu mencuat kala Ibu mengunyah makanannya lengkap dengan daun kemangi. Ibu sangat menikmati daun tersebut. Seperti makan ayam.
Dan tak pernah jemunya, aku selalu menatap Ibu makan. Hingga suatu hari, aku bertanya kepada beliau, daun apa yang sedang dimakannya.
“Namanya kemangi.”
Aku melongo memandang Ibu yang memasukkan beberapa helai daun kemangi lagi ke dalam mulutnya. Mata bocahku mengerjap-ngerjap bersama senyum Ibu yang terlukis di bibirnya.
“Kamu mau?”
Tak banyak berpikir, aku mau saja disuapi Ibu. Nasi, tempe, dan tentu saja daun kemangi, masuk ke dalam mulutku. Aku mengunyahnya perlahan. Berharap merasakan sensasi yang dirasakan Ibu. Berharap mataku seakan terpejam menikmati makanan yang selalu membuat Ibu terlena.
Semua tak seperti harapan. Aku memuntahkan seluruh makanan di dalam mulut. Daun kemangi itu, rasanya sangat aneh.
Ibu memicingkan matanya. Sejak saat itu, aku mendapat sebuah wejangan kecil dari Ibu: jangan membuang makanan yang sedang dikunyah. Itu tidak sopan.
Kemudian Ibu membelai rambutku. Seusai makan, Ibu  mengajakku ke belakang rumah. Kami berdua berdiri dekat pohon kemangi.
“Kenapa Ibu suka sekali memakan daun kemangi?”
Senyum Ibu waktu itu masih terngiang jelas di pikiranku. Sambil memegang tanganku, Ibu berkata, “Daun kemangi itu enak. Menyehatkan.”
“Enak dari mana, Bu? Rasanya aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Tidak pahit. Tidak manis. Tidak hambar. Tidak seperti ayam.”
Suara gelak tawa Ibu menggema. “Mana mungkin daun disamakan dengan daging ayam. Tentu saja tidak sama.” Ibu berjongkok sehingga sejajar denganku. “Daun kemangi itu menyegarkan. Ada sensasi unik ketika kita mengunyah daunnya.”
Sampai tumbuh remaja pun, aku tidak mengerti apa maksud menyegarkan dari ucapan Ibu. Aku tetap tidak menyukai daun kemangi.
Suatu siang, sepulang sekolah, aku tidak melihat Ibu di mana-mana. Aku baru menemukannya di pekarangan rumah. Berjongkok, berhadapan dengan pohon kemangi kesayangannya.
Aku mendengus kesal dan berjalan ke meja makan. Betapa geramnya aku kala menemukan di bawah tudung makanan, tak ada satu pun lauk-pauk, apalagi nasi, untuk disantap.
“Kamu masak mi aja, ya? Ibu tidak memasak.”

Aku terdiam mendengar perkataan Ibu. Tak sedikit pun rasa bersalah yang terpancar dari sorot matanya. Beliau sebelum-sebelumnya tidak pernah seperti ini. Sekalipun keluarga kami tidak memiliki uang, Ibu tetap akan memasak. Entah itu tempe pecel, tahu goreng, atau hanya berlauk sayur ontong.
Atau, jika Ibu benar-benar malas memasak, biasanya hanya menanak nasi. Tetapi, hal itu sangat jarang dilakukannya. Bisa dihitung dengan jari. Bagi Ibu, makanan rumah sangat penting bagi kesehatan.

Ibu kembali keluar dengan membawa serenteng vetsin. Aku mengintipnya dari balik jendela. Diambilnya air dari sumur, dimasukkan ke sebuah ember sedang. Lalu vetsin-vetsin tersebut dicampur dengan air. Aku tahu racikan air dan vetsin itu untuk siapa. Kemangi. Untuk kemanginya yang kini bertambah subur. Beranak-pinak. Dan itulah saat pertama kalinya aku merasa cemburu terhadap kemangi. Pohon kesayangan Ibu.
Malam harinya, aku melihat Ibu dan Bapak sedang berada di beranda rumah. Ibu terlihat sangat bersemangat. Karena penasaran, aku bergabung bersama mereka.
“Tadi saudaranya Pak Maksum datang ke rumah. Membeli kemangi. Katanya buat lalapan hajatan sunatan anaknya. Lumayan Pak, uangnya.”

Cerita Ibu  makin menggebu. Bapak sesekali menimpali. Sedangkan aku, hanya diam. Bisa-bisanya Ibu hanya menceritakan kepada Bapak soal kemangi yang tidak hidup itu. Dia bahkan tak menyinggung kertas ulangan yang aku berikan tadi kepadanya. Nilai 95 seolah tidak ada apa-apanya dengan uang dari hasil penjualan daun kemangi.
Aku kian beranjak dewasa, sementara kemangi  makin beranak pinak. Seluruh pekarangan belakang rumah kami dipenuhi dengan kemangi. Ibu sendiri, mulai sakit-sakitan.

“Kemanginya sudah disiram, Mit?” tanya Ibu, kala aku masuk dengan membawa secangkir teh hangat beserta makan pagi.
“Sudah, Bu,” kataku, berbohong.
Aku tak sudi harus membuang tenaga untuk menyirami kemangi-kemangi sialan itu. Pohon kemangi itulah yang membuat perhatian Ibu terbagi.
“Tidak ada orang yang beli kemangi kita?” tanya Ibu kembali.
“Tidak ada, Bu. Sekarang jasa  katering di mana-mana. Daripada repot masak, mending beli jadi, ‘kan?”
“Mit, kalau ada orang yang mau beli, jangan ditarik uang, ya? Berikan gratis saja.”
Kuanggukkan kepala. Tak sedikit pun ucapan keluar dari mulutku. Aku sibuk memijati kaki Ibu yang selalu mengeluh kakinya sakit.
“Mit, kemanginya biarkan terus tumbuh, ya? Kemangi itu harum. Ibu suka sama wanginya.”
“Juga rasanya,” aku menimpali.
“Kamu sudah suka makan kemangi?” Ibu bertanya dengan wajah semringah.
“Tidak.”
“Kenapa? Kemangi itu menyehatkan.”
“Ibu sendiri lumpuh. Padahal Ibu selalu memakan daun kemangi.”
Ibu menepuk kasurnya. “Itu karena takdir.”
Kusunggingkan senyum sinis. “Takdir apanya, Bu? Takdir juga dari kebiasaan.”
“Bapakmu dulu juga senang makan daun kemangi.”
“Tetapi tidak seperti Ibu. Bapak hanya makan sesekali. Lagian sekarang Bapak sudah meninggal.”
“Bapakmu dulu sangat senang makan ikan asin dengan daun kemangi.” Ibu menerawang.
“Sebaiknya Ibu istirahat saja!”
Aku keluar dari kamar Ibu. Kemangi, kemangi, dan kemangi, terus itu yang ditanyakan Ibu. Bahkan Ibu tak bertanya soal apakah aku sudah hamil atau belum.
Tak habis pikir aku, kenapa pohon-pohon kemangi itu tak jua mati. Padahal, sejak Ibu sakit, sekitar dua bulan yang lalu, tak pernah sedikit pun aku menyiramkan air ke mereka. Apa mungkin karena sekarang masih musim penghujan, ya? Langit sendiri yang menyiramkan air untuk mereka. Atau jangan-jangan mereka tidak mau mati karena Ibu.

AKU BERDIRI di samping pusara Ibu. Tanah basah itu telah menimbun tubuh ringkihnya. Apakah di sana Ibu menemukan pohon-pohon kemangi lain? Kuharap kepergian Ibu membawa wangi.
Masih terngiang jelas perkataan Ibu waktu itu. Satu hari sebelum kematian menjemputnya.
“Ibu sangat menyukai wangi daun kemangi. Daunnya pun menyegarkan. Bisa menghilangkan rasa amis sehabis memakan ikan. Kamu tidak menyukainya?” Aku menggeleng. “Bagaimana cucu Ibu? Dia tidak rewel, ‘kan?” Ibu mengelus perutku yang kian buncit. Elusan Ibu teringat begitu jelas di pikiranku. Seperti aku merasakannya kembali.

Ibu, di sela rasa sayangnya terhadap kemangi, dia masih memikirkan cucunya. Bukan aku, bukan pula suamiku, tetapi anakku. Sepertinya aku memang tak pantas dikhawatirkan. Kata suamiku, karena aku terlihat baik-baik saja dan selalu ceria.
Dua minggu telah berlalu. Sebagian daun kemangi telah aku berikan kepada seorang sahabat yang membuka jasa katering. Sedangkan pohon-pohon kemangi yang lain, sudah mulai menguning. Aku tidak menyukai kemangi seperti Ibu.
“Ini beneran mau dimusnahkan semua?” tanya suamiku.
Aku tidak mengerti, kenapa suamiku menggunakan kata musnah. Kuanggukkan kepala sebagai jawabannya.

Satu demi satu pohon kemangi dicabut dari tanah pekarangan rumah. Semuanya terlihat mudah untuk dimusnahkan. Seolah kemangi-kemangi itu telah mengetahui sebelumnya, bahwa mereka akan mati hari ini.
Sekarang ada satu pertanyaan muncul dari benakku. Aku harus menanami pekarangan rumah dengan apa? Haruskah pohon cabai yang harganya melonjak itu?

 
 
***
Lisma Laurel


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?