Pencinta pantai yang berorientasi Eropa biasanya akan menuju ke daerah Mediterania untuk berlibur. Belum terlalu banyak yang tahu bahwa di ujung barat daya negara Portugal ada pulau kecil bernama Madeira. Bermandikan matahari sambil memanjakan mata dengan pemandangan pantai dan gunung yang dramatis, saya, Angela Retie Pagiri, menikmati kunjungan singkat ke pulau kampung halaman Cristiano Ronaldo ini.
Berlabuh di Funchal
Sejak abad ke-15 Funchal sudah menjadi tempat transit para pelaut dan pedagang yang ingin berdagang di Benua Eropa, tidak terkecuali Christopher Columbus. Turun dari kapal di dermaga ibu kota Madeira ini, mata saya dimanjakan oleh lanskap dengan pemandangan tebing yang dipadati rumah-rumah penduduk. Tak jarang pemandangan ini dibingkai oleh pelangi yang membusur sempurna dari barat ke timur sehabis hujan.
Berjalan di promenade lebar di tepi pelabuhan, para pejalan kaki dapat melihat karakter Madeira yang seperti terasering raksasa tanpa sawah. Terlihat jalan raya yang bersebelahan dengan tebing tinggi, di mana ada kebun besar dipenuhi bunga berwarna-warni. Di marina, barisan waterfront cafe dipenuhi para wisatawan yang menyantap hidangan laut segar. Di sini juga ada The Vagrant, yaitu restoran di atas yacht yang pernah dibeli The Beatles di tahun 1966.
Terdapat pula kereta gantung atau teleférico yang menghubungkan Funchal dan Monte, semacam Puncak Pass-nya Funchal. Monte adalah daerah dataran tinggi yang sejak dulu merupakan tempat peristirahatan dan liburan musim panas orang-orang kaya. Sepanjang perjalanan ke atas selama 15 menit, saya bisa memandang lanskap Pulau Madeira yang bersusun, bertebing, dan berhias pohon-pohon pisang, salah satu makanan utama orang Portugis.
Di Monte sendiri banyak sekali tempat indah yang dapat dijelajahi. Di puncak, ada Gereja Nossa Senhora do Monte yang merupakan tempat ziarah umat Katolik. Gereja ini adalah tempat peristirahatan terakhir Kaisar Karl I dari Habsburg. Kaisar terakhir dari Kerajaan Austria-Hungaria ini dibuang ke pengasingan setelah Perang Dunia I dan datang ke Funchal pada tahun 1921, sampai meninggal setahun kemudian karena bronchitis dan pneumonia. Jasadnya disemayamkan di gereja ini, namun organ hatinya disemayamkan di pemakaman bangsawan Habsburg di Wina.
Pulangnya, lupakan kereta gantung. Dari Monte turun ke Funchal paling seru naik toboggan, atau keranjang besar dari kayu dengan tempat duduk. Saat menaiki toboggan ini, kurang lebih 15 menit, saya didorong menuruni bukit oleh dua orang yang berlari memakai seragam dan topi jerami khas Madeira. Sensasi transportasi jadul yang terjaga tradisinya hingga sekarang ini rasanya tidak bisa ditemukan di tempat lain. Selain bernilai sejarah, toboggan cukup memicu adrenalin karena bisa meluncur hingga kecepatan 48 km/jam!

Bertualang ke Terowongan Batu
Bagi yang berjiwa petualang, trekking menyusuri levadas patut dicoba. Levadas adalah jalur irigasi untuk mengairi bagian tenggara Pulau Madeira yang iklim dan temperaturnya lebih cocok untuk bercocok tanam dibandingkan daerah lain. Karena curah hujan lebih banyak turun di bagian pulau lain, levadas pun dibangun pada abad ke-16 untuk menyalurkan air ke tenggara pulau.
Ada beberapa levadas yang terkenal. Bagi penggemar lanskap alam, Levada do Caldeirão Verde bisa meninggalkan milestone baru di catatan perjalanan Anda. Di sepanjang jalur yang membentang sejauh 6,5 kilometer dengan ketinggian 900 meter di atas permukaan laut, Anda akan melewati 5 terowongan batu basal. Untuk yang berencana trekking di levadas, disarankan membawa trekking gear lengkap seperti sepatu trekking, walking stick, helm, senter, dan sebagainya.
Jika masih kuat, perjalanan bisa dilanjutkan ke Levada Caldeirão do Inferno yang membawa Anda ke ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Dari jalur ini perjalanan trekking diakhiri dengan pemandangan air terjun Caldeirão Verde yang indah.
Kedua jalur ini, meskipun indah, lebih cocok untuk penjelajah yang lebih advanced. Untuk pemula, boleh mencoba Levada do Caniçal yang lebih santai. Berjarak 11 kilometer dan minim tantangan, sepanjang jalan Anda akan disuguhi pemandangan penuh pohon akasia. Perjalanan menyusuri daerah pedesaan antara Desa Caniçal dan Desa Machico ini dapat ditempuh kurang lebih 3,5 jam. Perpaduan suasana pedesaan di gunung dengan latar belakang Samudra Atlantik dijamin tidak akan mudah dihapus dari ingatan.

Mengabadikan Deburan Ombak
Biarpun kecil, Madeira menampakkan kegarangannya dengan pesona tebing dan jurang. Karena terletak di Samudra Atlantik, ombak yang mengikis tebing Madeira cukup ganas. Salah satu lokasi dramatis yang ramai dikunjungi adalah Câmara de Lobos, atau Chamber of the Wolves, desa nelayan yang terletak 5 kilometer dari Funchal.
Di bagian barat desa nelayan ini terdapat Cabo Girão (cabo adalah bahasa Portugis untuk tebing), salah satu tebing tertinggi di Eropa dengan ketinggian 589 meter. Di atas tebing dibangun juga anjungan atau skywalk yang menawarkan pemandangan langsung ke Samudra Atlantik dari atas tebing. Pengalaman yang amat mendebarkan bagi mereka yang takut ketinggian.
Sekitar 29 kilometer dari Câmara de Lobos, ada sebuah pedesaan bernama Curral das Freiras atau Corral of the Nuns, yang juga memiliki anjungan pemandangan. Tempat ini sebetulnya terpencil dan terletak jauh di atas pegunungan, tapi dapat dijangkau dengan bus lokal.
Dulu desa ini merupakan tempat pelarian budak dan penggembala ternak di akhir abad ke-15 yang akhirnya membangun rumah dan perkampungan. Di pertengahan abad ke-16, desa ini menjadi properti para biarawati Santa Klara yang mengambil alih desa dari serangan bajak laut Prancis yang datang ke Funchal.
Jika ingin sedikit berjalan kaki, dari Funchal ke Curral des Freiras ada bus lokal yang berangkat pukul 10.30 dan 11.30 pagi menuju Eira do Serrado, dilanjutkan dengan trekking. Alternatif lainnya, ikut tur jalan darat dari pagi hari, biasanya pukul 8, dari pusat Kota Funchal.
Kalau ingin bertualang sendiri, naik bus nomor 81 yang menuju Curral des Freiras langsung (1 jam 15 menit). Sebenarnya ada levada yang mengarah ke Curral des Freiras juga, tapi sangat tidak disarankan karena jurang yang sangat curam dan jalan setapak yang kecil membuat levadas ini bukan pilihan teraman.

Bawa Pulang Wine dan Bordado
Seperti kebanyakan daerah Eropa yang beriklim sejuk, Madeira juga memiliki perkebunan anggur yang menghasilkan wine berkualitas. Ciri khas dari anggur Madeira adalah proses pembuatannya, yaitu proses estufagem.
Dulu, para pedagang harus melakukan perjalanan menyeberangi samudra yang panjang. Karena anggur dikhawatirkan rusak, mereka pun menambahkan brandy (minuman alkohol yang juga terbuat dari buah anggur) ke dalam tiap botolnya. Selama perjalanan laut yang berbulan-bulan, anggur campuran ini pun terekspos panas matahari, menghasilkan tekstur dan rasa yang menjadi ciri khas anggur Madeira.
Saat ini proses estufagem dimodifikasi dengan berbagai cara, seperti ‘memasak‘ wine di suhu 55° C, menyimpan wine di drum kayu yang dihangatkan seperti sauna, atau dengan cara tradisional dengan dipanaskan alami oleh sinar matahari. Cara yang terakhir ini memakan waktu yang sangat lama, sedikitnya 20 tahun hingga 100 tahun, dan membuat Madeiran wine yang dibuat dengan metode ini menjadi jenis anggur paling mahal.
Kalau ingin mencicipi, di pusat Kota Funchal ada Blandy’s Winery, yang merupakan tempat penyimpanan anggur sekaligus menawarkan Madeiran wine tasting experience. Blandy’s sendiri adalah merek anggur paling ternama di Madeira yang didirikan oleh tentara Inggris, John Blandy, pada tahun 1811.
Oleh-oleh khas Madeira adalah bordado, atau kerajinan tangan bordir yang dibuat dengan berbagai motif dan ukuran. Mulai dari pakaian wanita, taplak meja, seprai, sapu tangan, hingga alas gelas, dibuat sangat mendetail.
Sejarah bordado berawal dari keluarga Phelps, imigran Inggris yang datang ke Madeira pada tahun 1784. Sang putri sulung, Elizabeth, mulai mengajar para wanita dan anak-anak untuk membordir. Hasilnya dijual dari rumah ke rumah dan akhirnya berkembang hingga memenangkan penghargaan di Inggris. Tradisi ini pun berlanjut dan tercatat pada tahun 1860 terdapat sedikitnya 70.000 bordadeiras atau wanita pembuat kerajinan tangan bordir. Seperti halnya membatik, membuat pola adalah langkah awal membuat bordado. Saat semua langkah selesai, bordado akan dicap resmi oleh pabrik sebagai jaminan kualitas.

TIP
• Penerbangan ke Madeira bisa menggunakan TAP Airline Portugal dari Lisbon (90 menit) atau British Airways dari London (4 jam). Beberapa rute kapal pesiar pun mampir ke Madeira, tapi kapal pesiar biasanya hanya akan bersandar setengah hari di pulau ini.
• Jika berencana tinggal beberapa hari, menyewa mobil adalah pilihan terbaik. Jadi, pastikan Anda mempunyai SIM internasional. Alternatifnya, tiket bus mingguan tersedia dengan harga sekitar 20 euro (Rp307.000).
• Meskipun ada beberapa resort apartemen hotel, jika ini kali pertama mengunjungi Funchal, ada baiknya memilih akomodasi yang sederhana. Karena, pastinya Anda akan banyak menghabiskan waktu di luar mengeksplorasi pulau indah ini.
• Dapatkan informasi detail di Madeira Tourist Office di Av. Arriaga 16 pusat Kota Funchal. Buka tiap hari. Staf di sini berbahasa Inggris, peta pun dibagikan gratis.
• Madeira kaya akan hidangan daging yang lezat, seperti picado dan espetada. Untuk pastry, cobalah pastéis de nata, kue tart tradisional. Minuman alkohol tradisional poncha, yang berisi tebu, madu, dan jus lemon dapat ditemukan di mana-mana.
• Waktu yang tepat untuk melihat flower festival adalah Maret-April. Tidak seperti daratan Eropa, Madeira beriklim subtropis, jadi temperatur cukup ramah sepanjang tahun.
• Bagi penggemar pantai, bisa ke Porto Santo, pulau kecil di timur laut Madeira yang bisa dijangkau dengan feri (2 jam) yang juga bisa mengangkut kendaraan Anda.(f)




