Kecintaan pada kampung halaman di Aceh Selatan diwujudkan Fanie Maulida lewat resto Ayam Tangkap Blang Bintang. Ia melibatkan Hj.Cut Hasniar (ibu) dan Cut Rosmiati (tantenya) untuk menjalankan roda bisnisnya dalam urusan resep.
“Ciri khas masakan Aceh adalah asin, pedas, dan asam,” ujar Fanie. Ternyata benar, karena ketiganya begitu dominan ketika femina mencicipi semua masakan di sini. Kucuran jeruk nipis serta pedasnya cabai sangat terasa ketika mencoba Ceuneucah (rujak serut khas Aceh).
Sayang, buah rumbia harus absen dari rujak ini karena kelangkaannya di Jakarta.
Lain halnya dalam Sie Reuboh. Potongan daging sapi bergajih tebal ini direbus dengan ditambahkan cuka khas Aceh dari fermentasi kolang-kaling. Kuahnya gulai, namun asam menggigit berkat cuka tersebut. Jodohnya adalah bersama lauk sambal keumamah, sambal dari ikan kayu (atau ikan tongkol yang dikeringkan).
Ayam Tangkap-nya tak boleh terlewat, karena justru pada hidangan inilah serunya menyantap makanan Aceh. Mengasyikkan berebut ‘mencari’ potongan ayam goreng di antara rimbunnya daun kari dan daun salam koja. Terakhir, nikmati dinginnya Kopi Sanger dan Leupek Ketan (ketan kuning dan unti) layaknya sedang berada di kedai kopi di Aceh! (BLI)
Alamat: Jl. K.H. Ahmad Dahlan No.30, Kebayoran Baru, Jak-Sel. Telp: 081318411814. Jam buka: 11.00–21.00 WIB. Harga*: Rp4.000–Rp38.000. Suasana: Minimalis, dengan sedikit ornamen budaya Aceh.
*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu, cek sebelum bersantap.


