Fiction
Jodoh Dari Ibu [1]

4 Mar 2013


Mas Bram yang pendiam itu ternyata mampu menuliskan bait-bait puisi.
Merangkai sebuah kalimat percakapan saja sepertinya terlalu sulit untuknya.


“Dia itu persis bapaknya, kamu tahu kan, Nak Bram?”
“Ya, Bu.”
    Aku menahan napas. Rasanya bulir-bulir keringat mengucur deras, walau angin semilir dan mendung tipis menghiasi langit sore ini. Dapat kubayangkan bagaimana raut wajah serius Ibu, dengan rahangnya yang mengeras, juga matanya yang menyipit tajam. Ingin rasanya aku muncul dari persembunyianku, menengahi kekakuan dan kebekuan yang diciptakan Ibu, dengan risiko kemarahannya yang memuncak karena aku mencuri dengar percakapan itu.

    Hening beberapa saat.
    Aku  makin gugup dan gelisah.
    Bukan hanya takut. aku juga khawatir kalau tiba-tiba asma Ibu kambuh. Rasanya napasku   makin sesak. Udara tak dapat kuhirup. Seakan ada tangan tak kasatmata yang menyekap lubang hidungku. Sama seperti sekat yang memisahkan Ibu dan Mas Bram saat ini.

    Kali ini rasa takutku bertambah. Ibu bukan hanya berperan besar atas kelahiranku di dunia, dan atas masa kecilku hingga aku dewasa, namun juga penentu masa depanku.
    “Seperti bapaknya, dia keras. Tapi, di balik kekerasan sikapnya, hanya dia satu-satunya putri yang telaten mengurusi aku.”
    “Ya, Bu. Saya tahu persis bagaimana Murni dan mendiang Bapak…,” kata-kata pria itu menggantung di awang-awang.

    Aku bisa menebak-nebak bagaimana raut muka Ibu.
    Biasanya, tiap kali ia teringat mendiang Bapak, cahaya di mukanya langsung redup. Kesedihan yang mendalam itu belum juga hilang.

                        ***
    Aku baru tiga minggu memasuki tahun ajaran baru di kelas 2 SMA ketika Bapak pergi untuk selama-lamanya. Tanpa firasat, tanpa sakit ataupun pertanda sebelumnya. Hanya suara teriakan Ibu sehari sebelumnya di dapur. Kejatuhan cecak tepat di kepalanya. Saat dipanggil ke ruang guru pun, kukira akan ada lomba cerdas cermat atau kompetisi antarsekolah yang biasa kuikuti.

    Berita kepergian Bapak seperti pemadam lampu dalam lorong-lorong hatiku.
Aku takut dan tersesat. Gamang, tak tahu harus ke mana.
Masih teringat jelas wajah sembap kakak-kakakku ketika aku pulang.
Ibu diam mematung, dengan bulir bening yang sesekali menetes di pipinya.

    Saat kami kehilangan mendiang Bapak, saat itu pula kami kehilangan sosok tegar seorang ibu. Ia menjadi rapuh dan sering sakit-sakitan. Ibu tanpa Bapak laksana kapal kehilangan haluan.

Ia enggan bicara. Pun sampai 40 hari setelah pemakaman Bapak. Pada pagi hari, ia menyendiri di kamarnya, dan melamun di teras depan pada sore hari. Memandang senja dan matahari terbenam di kejauhan, persis seperti kebiasaan Bapak semasa hidupnya.
Kakak-kakakku hanya mengelus dada saat melihat Ibu berbicara sendiri pada suatu sore.

Menuangkan teh ke cangkir kosong di hadapannya, lalu sesekali tersenyum seakan mengajak bayangan Bapak berbincang-bincang. Membuatku teringat dua bait puisi yang ditulis Mas Bram untukku:
Mengapa Tuhan hanya menciptakan sekeping hati?
    Sebab masih ada satu lagi di luar sana,
Sebuah potongan yang akan melengkapinya…

Apa kita diciptakan-Nya sepasang?
Sebab bersamamu adalah indah simfoni
Sendiri, aku piano kehilangan bunyi
   
                    ***

“Bapakmu itu sahabat mendiang Bapak. Dua anak perempuanku bekerja di pabrik bapakmu.”  Kudengar gemeretak bunyi gigi Ibu beradu.
“Tapi, untuk menjadikan putriku sebagai istrimu…,” napas Ibu memanjang.  Seolah ada batu besar yang mengimpit rongga dadanya.

“Seandainya saya tidak menerima lamaranmu, bagaimana dengan pekerjaan Narti dan Gati?”
“Sungguh mati tidak ada rencana itu dalam benak saya, Bu.” Kerendahan hati Mas Bram terasa dari nada suaranya.

Aku memejamkan mata, membayangkan mata Ibu yang tajam itu menyipit. Menyangsikan ucapan Mas Bram.
“Jadi, sudah lama Nak Bram menyukai putri saya?”
“Selama ini saya tidak pernah memikirkan wanita. Tapi, melihat ketelatenan Murni menjaga Ibu, membuat saya mengaguminya.”

“Jadi sejak kapan, Nak Bram?”
“Sejak dua bulan lalu, saya mulai mengirimi Murni surat, Bu….”
“Tanpa sepengetahuan saya?”
“Maaf, Bu.”
Kembali tidak ada suara.

                    ***

Setiap pagi hingga menjelang magrib, dua orang kakak-kakakku, Mbak Narti dan Mbak Gati, selalu berangkat bekerja di pabrik kerupuk milik Pak Karyono. Pak Kar, tetangga kami yang hanya tiga rumah dari kami itu, adalah wirausaha  sukses yang berjasa di kampung kami. Dia mempekerjakan gadis-gadis dan pemuda desa untuk membantu memproduksi kerupuk di pabriknya. Kerupuk-kerupuk itu kemudian diedarkan dan dijual hingga ke kota-kota besar di sekitar Jawa. Kerupuk-kerupuk yang remuk tidak dijual dan boleh dibawa pulang pekerja pabrik.

 Dua bulan yang lalu, pertama kali kutemukan secarik kertas di bawah bungkusan kerupuk titipan untukku. Mas Bram sering menitipkan kerupuk pabriknya kepada kakak-kakakku. Katanya, sebagai ucapan terima kasih karena membantu menjualkan dagangannya di tempatku mengajar.

Sebuah surat cinta rupanya. Ini bukan surat cinta pertama yang pernah kuterima. Tapi, yang ini cukup mengagetkan. Aku sudah mengenalnya sejak lahir. Itu berarti sudah 25 tahun berselang.

Bukankah itu aneh? Tiap hari kami bertemu, tapi jarang berinteraksi. Hanya sesekali berpapasan saat aku mengantarkan bekal untuk kakak-kakakku. Sesekali mengangguk atau melempar senyum, serta membalas sapa sekenanya.

Surat cinta… dengan beberapa bait puisi di dalamnya. Sulit dipercaya.
Mas Bram yang pendiam, kaku dan jarang bercakap-cakap itu, tenyata mampu menuliskan bait-bait puisi. Merangkai sebuah kalimat percakapan saja sepertinya terlalu sulit untuknya.

Namun, ternyata, aku tidak pernah benar-benar mengenalnya. Ia tidak secuek sikapnya, dan tidak sesederhana penampilannya. Setelah membaca suratnya yang kelima, puisinya menjadi candu buatku.

                    ***

Masih sunyi.
Sesekali kudengar Ibu menggeser sandal rumahnya.
Mungkin kakinya mulai kesemutan.
“Nak Bram tahu… betapa beratnya melepas anak gadis yang begitu penurut dan penuh perhatian….”

“Ya, Bu. Saya mengerti.”
“Selama ini keluarga kita bersahabat, Nak Bram. Usia kita pun hanya terpaut 20 tahun. ”
“Ya, Bu, saya menghormati Ibu sebagai sahabat….”
Aku menelan ludah. Penekanan kata ‘hanya’ pada kata-kata Ibu membuatku  makin resah. Tak bisa kupungkiri bahwa ucapan Ibu benar. Apakah itu sebuah sindiran halus? Usia Mas Bram memang dua kali lipat usiaku.

“Tapi, rasanya berat buat saya melepas putri bungsu saya….”
“Maksud Ibu?”
“Kakak-kakaknya belum ada yang menikah, Nak Bram. Lagi pula, dia masih senang mengajar di pesantren bersama Nak Pras. Biarlah dia menyelesaikan kontraknya di sana, lalu mengajar di kota dan jadi pegawai tetap….”
Hening.

Aku menitikkan air mata. Menahan agar tetap tidak bersuara.
“Maaf atas keputusan ini. Selamanya, keluargamu tetap sahabat keluarga saya. Kamu tetap boleh main-main kemari kalau kamu mau.”
“Ya, Bu….”
“Maaf saya mengecewakan Nak Bram.”
“….”
Sunyi, diiringi langkah kaki meninggalkan teras rumah.

******               

“Mur….” Suara Ibu.
“….”
“Ibu tahu kamu di situ.”
Aku ketakutan. Jantungku berdegup kencang. Air mata membasahi pipiku.
“Ibu tahu isi hatimu, Nak. Kamu pasti tidak akan tega menolak lamaran Nak Bramantyo. Biarlah dia membenci Ibu. Asal jangan membenci kamu.”
Air mataku mengalir  makin deras.

“Ibu tahu kamu tidak mencintai Bramantyo, tapi kamu mencintai Prasetyo, adiknya. Nak Pras, temanmu mengajar di pesantren. Benar kan, Murni?”
Aku tak sanggup menjawab, hanya berlari menuju kamar dengan deraian air mata. Tak pernah sekali pun aku menyesali, menggantungkan masa depanku di tangan Ibu. Ia benar-benar mengenal isi hatiku.

******   
Melanie Hannah



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?