Hangatnya sinar matahari pagi itu membelai wajah saya ketika saya melangkah ke luar dari Bandara Pangkalpinang, Bangka. Tak hanya menawarkan laut dan pantainya yang jernih, Provinsi Bangka Belitung kabarnya menyimpan kekayaan sejarah dan kuliner hasil laut yang sedap. Saya ingin membuktikannya.Satu-satunya di Asia
Tujuan pertama saya setelah mendarat di Pulau Bangka adalah Pantai Pasir Padi, 7 km dari bandara. Sepanjang perjalanan, padang rumput ilalang setinggi manusia dewasa tampak di sana-sini. Tak sampai satu jam, saya tiba di Pantai Pasir Padi. Saya menikmati makan siang di restoran Istana Laut, yang terletak tepat di bibir pantai.
Keunikan Pantai Pasir Padi adalah struktur pantainya yang landai dan kontur pasir yang padat sehingga pantai ini nyaman untuk dilalui dengan jalan kaki. Bahkan, pantai ini dapat dengan mudah dilalui motor dan mobil. Di waktu tertentu, pantai ini dijadikan arena balap sepeda motor.
Menu makan siang saya hari itu penuh hidangan hasil laut. Mulai dari kepiting saus pedas, cumi goreng tepung, kakap goreng tepung, ekor tenggiri bakar, hingga udang goreng, hmmm… sedap! Paling seru, saya mencoba sambal khas Bangka. Hampir sama dengan sambal biasa. Keistimewaannya, sambal ini diracik dengan terasi Bangka yang harum dan jeruk kunci. Tak ada yang lebih indah selain makan siang diiringi semilir angin pantai yang sejuk.
Tak berapa jauh dari Pantai Pasir Padi, terdapat Bangka Botanical Garden yang terletak di kawasan industri Ketapang. Sepanjang jalan, mata saya dimanjakan oleh hamparan pohon hijau berpucuk merah yang berbaris rapi. Seketika saya merasa sedang di Korea! Mirip seperti lokasi di serial Winter Sonata.
Area hijau seluas 200 hektare ini sebelumnya adalah bekas tambang timah yang tandus. Sejak tahun 2009, area ini diolah menjadi pusat pembibitan beragam tanaman dan tambak budi daya ikan tawar. Selain ditanami sayuran dan palawija, area ini dimanfaatkan untuk peternakan sapi potong. Lebih dari 100 sapi impor dari Australia yang berbadan besar dibudidayakan di sini. Setelah puas berjalan-jalan, saya disuguhi susu sapi segar hasil dari peternakan. Glek-glek… saya menghabiskan dua gelas susu!
Menuju jantung Kota Pangkalpinang, saya mengunjungi Museum Timah yang terletak di Jalan Ahmad Yani. Di rumah inilah tokoh perjuangan, Soekarno dan Agus Salim, pernah tinggal. Rumah ini memiliki nilai sejarah tinggi karena pada tahun 1949 pernah menjadi tempat perundingan Soekarno dengan UNCI (United Nations Commission for Indonesia) sehingga lahirlah perundingan Roem-Royen, tanggal 7 Mei 1949.
Tahun 1958, rumah ini dialihfungsikan menjadi Museum Timah Indonesia. Tujuannya untuk mencatat sejarah pertimahan di Bangka-Belitung. Pendirian museum ini berawal ketika tahun 1950-an ditemukan banyak benda tradisional yang digunakan oleh para penambang di zaman Belanda.
Pulau Bangka merupakan daerah penghasil timah terbesar di dunia. Menurut M. Taufik, petugas museum, sejak abad ke-5, masyarakat Bangka sudah mengenal penggalian timah. Mereka membuat sumur dengan alat sederhana seperti linggis kayu dan batok kelapa. “Eksplorasi bijih timah terus berkembang. Pada abad ke-18 penambangan telah menggunakan sistem bor,” ujarnya, seraya menunjuk gambar alat bor. Ciam, sebutan alat bor tusuk, diperkenalkan oleh penambang Cina. Ciam artinya ujung runcing, sedangkan orang Belanda menyebutnya Chinese stick.
Pada tahun 1885, ahli Geologi Banka Tin Winning (BTW), J.E. Akkeringa, menemukan bor Bangka. Alat ini tak hanya bisa digunakan untuk mengebor timah, namun juga hasil bumi lain seperti emas dan platina. Metode penambangan terus diperbarui. Pada tahun 1942, pengukuran sudah mulai menggunakan sistem optic. Eksplorasi laut mulai dilakukan pada tahun 1952. Meski saat ini, menambang timah sudah ditinggalkan oleh masyarakat Bangka, namun sisa-sisa bekas tambang masih dapat dijumpai di banyak tempat.
Berkunjung ke Museum Timah bisa menjadi pilihan menarik bagi Anda yang ingin berwisata sekaligus memperoleh ilmu. Keluar dari Museum ini, saya mendapat pengetahuan luar biasa mengenai kekayaan alam bangsa. Saya sebagai warga Indonesia bangga, karena museum ini menjadi satu-satunya museum timah yang ada di Asia.
Chinatown di Belinyu
Sekitar 60 km dari Bangka, terdapat kota tua Belinyu. Di sepanjang jalan menuju Belinyu, saya melihat rumah-rumah penduduk yang terbuat dari papan-papan yang tersusun rapi. Menariknya, rumah-rumah tersebut semua beratapkan seng, bukan genting. Kepercayaan mereka, memakai genting yang terbuat dari tanah liat, sama saja hidup di bawah tanah.
Salah satu yang menarik di Belinyu adalah Goa Maria Pelindung Segala Bangsa. Gua yang selesai dibangun pada tahun 1999 ini terletak di sebuah bukit bernama Moh Thian Liang, yang berarti Bukit Menggapai Langit. Area gua ini sejuk karena ditumbuhi berbagai pohon, seperti karet, durian dan cempedak.
Para pengunjung harus naik puluhan anak tangga sebelum mencapai gua. Bagi umat Katolik, Goa Maria ini menjadi satu destinasi religi yang ada di Pulau Bangka. Menurut pengelolanya, peziarah tak hanya datang dari Bangka, tapi juga dari daerah lain, termasuk Jakarta. Mereka biasanya berkunjung di bulan Mei dan Oktober.
Sekitar 14 km dari pusat kota Belinyu, terdapat Kampung Gedong. Kampung pecinan tua ini masih masih terisolasi. Terbukti dari jalan masuk yang masih berbatu dan tidak diaspal. Bus yang saya tumpangi segera mengurangi kecepatan untuk menghindari guncangan.
Hawa panas langsung menyambut saya ketika memasuki area itu. Saya seperti terlempar ke sebuah pedesaan di Cina. Hampir semua arsitektur rumah mereka terbuat dari kayu. Samar-samar, saya mencium bau hio terbakar. Di depan tiap rumah, dapat dijumpai hio dan meja pemujaan berwarna merah cerah.
Menurut Ako, salah seorang penduduk Kampung Gedong, mereka yang tinggal di desa itu adalah keturunan Cina Hakka yang berasal dari Guangdong, Cina. Mereka sengaja didatangkan Belanda ke Bangka pada abad ke-18, untuk dijadikan pekerja penambang timah. Kampung inilah yang merupakan cikal bakal kaum pecinan di Bangka. Menurut Ako, ada beberapa rumah yang masih mempertahankan keasliannya sejak pertama kali dibangun. Rumah asli dibangun menggunakan tidak menggunakan paku, melainkan pasak.
Meski terdapat plang bertuliskan “Kawasan Desa Wisata” di pintu masuk Kampung Gedong, nyatanya aliran listrik tidak masuk ke desa ini. Penduduk sekitar mengandalkan genset untuk keperluan sehari-hari. Karena kurangnya fasilitas tersebut, masyarakat Kampung Gedong sedikit sensitif terhadap orang luar. Hanya sedikit dari mereka yang bersedia bercakap-cakap dengan pendatang seperti kami. Hampir sebagian penduduk Kampung Gedong bekerja sebagai penjual kerupuk khas Bangka, seperti kemplang, getas dan pilus.
Maraton Pantai
Jalan-jalan ke Bangka, belum lengkap jika tak menyambangi indahnya pantai di Pulau Belitung. Saya berdecak kagum ketika melihat birunya laut pantai berpadu dengan bebatuan granit berukuran sebesar rumah di Pantai Tanjung Tinggi,. Seketika saya teringat adegan Ical berlari bersama teman-temannya di film Laskar Pelangi. Inilah pantai yang tersohor itu.
Sebenarnya, batu-batu granit yang ada di Belitung ini sama strukturnya dengan yang ada di Pantai Seychelles, Afrika, yang menjadi tempat bulan madu Pangeran William dan Kate Middleton. Saya pun menaiki batu-batuan itu hingga tempat yang paling tinggi, walau dengan rasa takut. Ketakutan saya terbayar setelah saya melihat birunya laut dan langit yang tampak menyatu. Tak terbatas horizon. Indah!
Ingin membuktikan keindahan pantai lainnya, saya pun menuju Pantai Tanjung Kelayang. untuk bertolak ke Pulau Lengkuas. Perahu saya melaju tenang menuju Pulau Lengkuas. Dari kejauhan saya melihat batu besar yang berbentuk menyerupai kepala burung. Itulah sebabnya penduduk sekitar menamai pulau tersebut Pulau Burung. Menurut legenda, batu tersebut ialah Burung Garuda yang sedang berendam di perairan Tanjung Kelayang. Uniknya, posisinya burung tersebut menghadap barat atau arah kiblat.
Tak kurang dari setengah jam berlayar, Pulau Lengkuas sudah tampak di depan mata. Pulau itu dihiasi berbagai formasi batu granit. Hitam legam, sangat kontras dengan pasir putihnya yang lembut. Satu bangunan yang menonjol di pulau kecil, ialah mercusuar yang dibangun pada zaman Belanda pada tahun 1882. Dengan membayar Rp5.000, saya bisa masuk ke mercusuar. Para pengunjung diwajibkan membasuh air terlebih dulu sebelum masuk ke mercusuar.
Suasana hening seketika begitu saya masuk di dalam. Saya mendadak merinding, mendengar suara pengunjung yang bergema. Rasa takut saya mulai cair begitu saya melongok ke jendela. Wow! Ratusan jenis batuan granit, pasir putih, dan air laut berwarna hijau tosca. Angin berembus sejuk membelai rambut saya.
Di pulau inilah, tempat yang tepat untuk mencoba snorkeling di tengah laut. Dengan pelampung dan alat snorkeling, saya menceburkan diri ke laut. Panasnya matahari tak mengurangi niat saya untuk melihat keindahan ‘surga’ di bawah laut.
Tak perlu jauh-jauh menyelam, karena ikan beragam jenis berenang-renang di bawah saya. Nelayan yang mengantar saya mengatakan, kalau beruntung, saya bisa melihat ikan ‘nemo’ atau ikan badut. Saya pun mencari-cari ikan lucu berwarna oranye tersebut. Setelah hampir setengah jam, saya tak jua menemukan si ‘nemo’. Untungnya, kekecewaan saya tergantikan oleh banyaknya karang warna-warni yang mudah saya temukan.
Matahari mulai tenggelam di ujung barat. Melihat eksotisnya pantai di Belitung, sepertinya tidak berlebihan jika saya meninggalkan secuil hati saya di pulau ini. Suatu saat, saya pasti kembali, janji saya dalam hati.


