Banyak bermunculan teori tentang sejarah kebaya. Ada yang menjelaskan bahwa kebaya berasal dari budaya Tiongkok, yang kemudian menyebar ke Semenanjung Malaka, Jawa, Bali, hingga Sulawesi. Ada juga yang mengatakan bahwa kebaya diperkenalkan sekitar abad ke-12, ketika Nusantara menjalin hubungan dagang dengan Timur Tengah (Arab).Teori terakhir dipertegas dengan sumber yang menyebutkan bahwa kata kebaya berasal dari bahasa Arab, habaya atau abaya, yang berarti pakaian labuh berbelahan depan. Namun, ada juga sumber yang mengatakan bahwa kebaya berasal dari kata Cambaia, nama sebuah kota di India Selatan yang pada abad pertengahan dikenal sebagai pusat pertekstilan penghasil kain muslin, kain yang banyak dipakai sebagai material kebaya.
Menariknya, ada juga yang berpendapat bahwa kebaya dibawa oleh bangsa Portugis ke Malaka, sekitar 80 tahun sebelum kedatangan bangsa Belanda. Busana yang kemudian populer disebut kebaya renda itu biasanya terbuat dari brocade serta lace yang kental pengaruh Barat.
Pendapat-pendapat di atas bisa jadi merupakan teori yang paling mendekati kebiasaan berpakaian di Nusantara kala itu. Masuknya bangsa asing sebagai dampak hubungan perdagangan, diyakini menjadi awal mula lahirnya kebaya. Sebab, memang tidak mudah menunjuk secara pasti satu atau dua daerah awal yang memperkenalkan kebaya karena tiadanya catatan tertulis tentang hal itu. Namun, bila melihat posisi strategis Nusantara di lintas perdagangan Asia hingga Timur Tengah, maka besar kemungkinan bandar-bandar dagang terkemuka pada masa lalu menjadi pintu masuk bagi gagasan-gagasan kebaya maupun baju kurung. Namun, tentu saja hal tersebut tidak berlangsung dalam waktu sebentar, melainkan melalui sebuah proses yang evolutif dan resiprokal. (f)


